Thursday, December 29, 2016

Pindah?

Kayaknya bakal bikin blog baru yang serius. Wawawawawa.. Sayounara My Story as Human..
Blog ini akan lebih jarang lagi saya tulisi (udah jarang sekarang juga). Saya sudah mulai mendapatkan pencerahan buat niche dengan mengeliminasi passion saya. :D

Tuesday, December 27, 2016

Lalandian

Ada beberapa nama panggilan yang pernah saya sandang.
1. Swiquette. Swiket, swi, suiket. Ini ceritanya waktu SMA pas rihlah sama anak-anak IRMA ke Lembang kalau ga salah. Di dalem angkot yang dicarter kita pada nyanyi naik-naik ke puncak gunung, topi saya bundar, burung kakak tua, dll. Terus saya cerita tentang sponge bob square pants. Pas nyebut squidward, Teh Danger salah seorang kakak kelas saya tertawa. Dia mengira saya salah ucap jadi swiket. Sepertinya dia salah denger deh (saya ga mau disalahin, wkwkwk). Tapi teman-teman di dalam angkot berkonspirasi dengan Teh Danger. Sejak saat itu mereka sepakat memanggil saya Swiket. Saking konsistennya mereka, sampai adik kelas angkatan 2010 pun ikut-ikutan manggil saya Teh Swiket. Bahkan saat kuliah pun temen-temen BBF (Blah Bloh Family) manggil saya Swiket karena mereka membaca komen-komen temen SMA saya di akun FB. Hmm, kalau dipikir-pikir yang manggil saya Swiket adalah temen-temen akhwat/perempuan yang benar-benar mengenal kepribadian saya sesungguhnya. Maksudnya mereka lebih banyak mengenal kegilaan-kegilaan saya yang sesungguhnya dibanding teman-teman yang lain.
2. Sin~chan. Kependekan dari SINta~chan. Yang menggunakan panggilan ini adalah Fatiha dan Ta~chan. Mereka berdua adalah teman sekelas saya di jurusan bahasa saat SMA. Fatiha nasibnya sama seperti saya, bahkan lebih miris. Ditentang orang tua masuk jurusan bahasa. Kami waktu itu memiliki nilai yang memadai bahkan bisa dibilang tinggi untuk masuk jurusan IPA. Tapi kami ingin masuk jurusan bahasa. Di ruang BK saya tetap teguh pendirian memilih Bahasa saat guru BK dan ibu saya membujuk saya untuk masuk IPA. Akhirnya ibu saya mengizinkan juga. Setelah beberapa bulan berlalu, Fat masuk ke kelas Bahasa. Padahal dia sudah membeli buku-buku IPA yang tebal-tebal banget. Di situ pertama kalinya saya mengenal Fat dan tau ceritanya. Dia adalah orang yang tenang, kalem, dan pintar. Walaupun saya selalu dapat rangking 1 dan dia rangking 2, tapi dia berhasil dipilih untuk supiichi kontesuto, lomba pidato B. Jpg karena ketenangannya dalam berbicara. Saya terlalu nyeroscos dan nereleng, tidak ada titik dan koma saat tes pidato. Hihihi. Dari situ saya lebih mengontrol cara bicara saya. Dia selalu protes saat saya memanggilnya Fat. Padahal itu kan namanya, dan dia tidak gemuk, malah bisa dibilang langsing. Jadi aneh juga kalau dia protes, hihihi.
Ta~chan adalah teman sebangku saya saat di kelas XII. Dia seorang katolik, tapi pertemanan kami tidak ada masalah. Dia orang yang energic dan selalu terlihat sangat ceria. Tapi saat sedih terlihat sangat sedih. Yah biasa lah anak-anak bahasa yang suka manga atau anime pasti gitu. Saya juga gitu. Hahah. Namanya Tania, tapi dia ingin dipanggil Ta~chan.
3. Tata. Itu juga kependekan dari nama saya sinTA. Akhiran yang diulang. Yang manggil ini adalah kelompok kerja mata kuliah Kimia di kelas konsentrasi IPA saat kuliah.
4. Alien, kelinci, doyle. Yang manggil ini adalah Asyilah. Dia juga teman SMA di kelas Bahasa. Saya manggil dia Acil. Jadi kadang dia manggil saya alien (karena saya ingin ke Planet Mars), kadang dia manggil saya kelinci (karena saya suka minta wortel mentah pada ibu kantin yang sedang mencuci sayuran untuk dibuat Bala-Bala), kadang dia manggil saya Doyle (itu nama kaktus saya yang saya rawat di kelas). Pokoknya dia sering manggil saya dengan 3 nama itu.
5. Bola bekel. Itu panggilan dari kakak tingkat saya waktu kuliah, Teh Wilah. Dia sering tertawa kalau melihat saya. Dia bilang cara berjalan saya seperti bola bekel (bola beklen). Well, yeah banyak yang bilang cara jalan saya aneh. Katanya sih saya seperti melompat-lompat saat berjalan. Udah kebiasaan. Setelah nikah dan mengandung dan melahirkan, barulah cara jalan saya jadi normal. Saat awal nikah dan mengandung, mamah mertua sering protes tentang cara jalan saya. Katanya khawatir takut saya jatuh, bahaya juga buat bayi dalam kandungan. Tidak butuh waktu lama untuk mengubah cara jalan saya. Dengan sendirinya, makin lama perut saya makin berat, jalan saya makin lambat.
6. Ratu laba-laba. Ini panggilan dari temen SMA di kelas bahasa juga, Ardi. Ini karena saya suka laba-laba, terutama tarantula. Walaupun saat itu saya belum memelihara tarantula, tapi saya selalu perhatian pada tiap laba-laba yang saya temui. Saat beres-beres kelas pun saya tidak mengizinkan ada orang yang merusak jaring laba-laba di sudut-sudut ruangan. Saya memanggilnya Kamen (karena dia suka kamen rider) atau Kordi. (plesetan dari namanya). Dia suka duduk di bangku paling belakang dan tidur sampai mendengkur saat pelajaran sejarah berlangsung. Saat pembagian raport dia sering membully saya dengan bilang:
"Kenapa sih harus kamu yang dapet rangking 1?! Hah?! Kamu tidak pantas! Jawab!" Katanya sambil melotot dengan tangan terlipat. Teman-teman tertawa terbahak-bahak.
Saya menjawab dengan dingin, "Makanya otak tuh disimpen di sini (sambil nunjuk kepala), bukan di dengkul."
Krik krik krik.. Teman-teman yang lain diam, hening mendengar pernyataan saya.
"Saya kan cuma bercanda.. Saya kan ngutip kalimat yang sering diucapkan dia. " Kata saya sambil menunjuk Kordi.
"Kalau Si Ardi yang bilang emang jadi lucu, tapi kalau kamu yang bilang jadi terdengar kejam." Fat menimpali.
Well, Kordi memang orang yang paling humoris di kelas. Orang-orang sering tertawa mendengar lelucon-leluconnya. Dia punya karakter seperti Si Kabayan. Tapi meniru leluconnya ternyata bukan ide bagus, karena saya bukan orang yang humoris. Jadi di pembagian-pembagian raport selanjutnya, saat dia bertanya begitu lagi, saya hanya tersenyum kecut.
7. Non. Kependekan dari Nona. Yang manggil saya ini Obos. Dia temen sekelas waktu kuliah. Yang pertama kali manggil dia Obos bukan saya, tapi temen sekelompok waktu buat maket dan diorama pada mata kuliah seni rupa. Saya hanya ikut mempopulerkan panggilan itu. Kami memanggilnya Obos karena dia bossy. Sebenarnya dia tidak suka menyuruh-nyuruh atau memerintah anggotanya. Dia mengiyah-iyahkan pekerjaan kami tapi ujung-ujungnya dia merombak sendiri sesuai keinginannya. Hahah. Ya dia termasuk orang yang punya idealisme tinggi. Setelah mata kuliah seni rupa beres dia tetap dipanggil Obos, bahkan teman-teman di luar kelompok seni rupa kami pun ikut-ikutan memanggil begitu. Bagaimana pun juga dia adalah pendengar yang baik, yang bisa membuat orang-orang nyaman mengemukakan pendapat di hadapannya.
8. Baka~chan. Saya paling tidak suka dengan panggilan ini. Orang yang memanggil saya begini adalah Batta~kun. The Arch enemy, saikyou no teki. Musuh bebuyutan saya dari awal kami bertemu. Dia mengirim setiap sms dengan tanda seru sebagai ganti tanda titik. Ya, awalnya dia mengirim sms seperti itu untuk meminta saya bergabung di dakwah SMP. Dulu saya bingung, ini orang siapa sih ga sopan banget minta tolong ke saya lewat sms tapi kayak yang marah-marah, ketemu aja belum pernah. Ternyata emang kebiasaannya gitu. Dia dapat nomor saya dari temen alumni SMA saya. Lagi butuh alumni SMP 17. Dia bukan alumni SMP 17 juga bukan alumni SMA 10, tapi dia mengelola dakwah sekolah di Kota Bandung tingkat SMP dan SMA. Jadi dia masuk ke sekolah-sekolah yang rohisnya butuh fasilitas dakwah, yang paling umum masalahnya adalah kurang pementor. Bukannya saya tidak mau bantu dan masuk ke SMP almamater saya, tapi saya kesal dengan orang yang tidak bisa menjaga sopan-santunnya, dan saya tidak mau berurusan dengan orang menyebalkan seperti itu. Setelah beberapa bulan berlalu dan saya sudah lupa tentang SMP, murabbiyah saya meminta saya masuk ke 17. Saya tidak bisa menolak permintaan murabbiyah saya. Jadi mau tidak mau saya harus berurusan dengan orang itu. Saat saya memperkenalkan diri di rapat pertama, dia kaget. "Saya yang dulu ngesms. " katanya. Saya cuman menimpali dengan dingin, "Oh." Setelah itu dia mulai sering SMS dan menawarkan kamen rider. Saya awalnya tidak tertarik dengan tokusatsu dan lebih fokus pada manga dan anime. Tapi dia mulai mempengaruhi dengan menyangkut pautkannya pada kegemaran saya.
"Suka detektif kan! Kamen rider ada ada yang tentang detektif! Ada juga yang tentang alien! Kamu pasti suka!"
Saya heran dari mana dia tau informasi tentang saya. Ternyata teman SMA saya yang bilang. -_-"
Akhirnya saya terima juga tawaran kamen ridernya. Tapi dia ngasih heisei secara berurutan, jadi saya ga langsung dapat kamen rider double (W) dan kabuto. Saya harus nonton dari agito. -_-" Ya fine-fine aja sih sebenarnya, gratis ini. Tapi saat nonton ryuki dan ada episode monster laba-laba yang disiksa kamen rider saya langsung illfeel dan males buat ngelanjutin nonton. Pas dia tau, dia ga terima alasan saya ga mau nonton lagi hanya gara-gara monster laba-laba yang dibully. Sejak saat itu dia manggil saya Baka~chan. Setiap sms, telpon, atau ketemu pasti manggilnya gitu. Saya pernah meledak marah karena dia manggil Baka~chan berulang-ulang di depan anak-anak SMP. Walaupun mereka mungkin ga ngerti artinya, saya tetap mendidih. Dia kaget melihat reaksi saya di depan anak-anak, kemudian menyeringai puas karena telah berhasil mengganggu kestabilan emosi saya. Saya benar-benar tidak menyangka bisa hilang kontrol seperti itu. Sejak saat itu saya memanggilnya Batta~kun dan mendeklarasikan permusuhan kami. Belalang adalah musuh bebuyutan laba-laba. Saat mereka bertemu salah satu dari mereka akan mati. Saat kami bertemu pasti ada pertengkaran. Dia satu-satunya musuh di kehidupan saya sampai saat ini. Kami berjanji untuk saling bunuh jika waktunya tiba. Dia bersumpah akan membunuh saya beserta anak keturunan saya. Anehnya saya tidak merasa sakit hati. Saya merasa wajar saat dia mengkritik dengan kasar setiap hal yang saya pikirkan atau saya lakukan. Wajar karena dia adalah enemy. Seorang enemy memang harus begitu. Tapi tentu saja seorang musuh juga bisa memberikan banyak pelajaran berharga bagi saya. Saat musuh sering berbuat jahat, tapi kalau ada satu saja kebaikan yang dilakukannya untuk kita,  maka kita akan mengingat satu kebaikannya itu dan melupakan kejahatannya. Tapi anehnya, saat keluarga, sahabat, atau teman yang sering berbuat baik pada kita, lalu suatu waktu dia menyakiti kita dengan satu keburukan maka kita akan mengingat keburukannya dan melupakan semua kebaikannya. Dan tentu saja pelajaran yang paling berharga darinya adalah: The saddest thing about betrayal is that it never comes from your enemies. Satu hal yang saya sadari, seorang musuh beda tipis dengan sahabat dekatmu.. Musuhmu akan tau seluk beluk tentang dirimu sekecil apapun, karena tugasnya adalah mencari kelemahan dan kekuranganmu.
9. Sei. Ini kependekan dari senSEI. Yang manggil ini adalah Om Zhuki Smile. Saya ga tau kenapa orang-orang memanggilnya begitu. Mungkin karena beliau dianggap pupuhu oleh para mahasiswa. Beliau adalah mahasiswa dual modes yang sangat aktif di kegiatan mahasiswa dan supel dengan tiap orang. Sepertinya mereka sering meminta nasehat pada beliau. Dan beliau termasuk salah satu yang ikut pembelajaran B. Jepang di kampus. Waktu itu temen-temen saya minta diajarin B. Jepang. Mereka adalah beberapa teman sekelas yang tau saya ngeprivat B. Jepang. Saya sebenarnya banyak jadwal kegiatan di luar. Tapi saya ga tega nolak mereka yang mempunyai kesungguhan belajar. Saya milih-milih juga soal siapa yang ingin saya ajari B. Jepang, dan saya tau mereka yang meminta ini adalah orang-orang yang sungguh-sungguh ingin belajar. Nah Om yang tau saya ngadain kelas B.Jepang di kampus minta ikut juga. Well yah cukup menyenangkan bisa menggunakan kalimat perintah kepada orang-orang yang bisa dibilang gegedug dari UKM. Geli-geli gimana gitu nyuruh para ketua UKM ngayun-ngayunin tangan buat nulis hiragana di udara atau nyuruh mereka gerak-gerak sesuai lagu bahasa jepang yang saya kasih sebagai bahan ajar. Wkwkwkw. Ya jadi Om konsisten manggil saya Sei sejak saat itu.
10. Sintrong. Ini panggilan dari ibu saya. Dari kecil kalau saya nakal ibu manggil saya dengan panggilan ini. Selain ibu ada satu lagi yang memanggil saya Sintrong, dia adalah adik ibu, paman saya. Saya memanggilnya Mang Budrong, harusnya Mang Budi.
11. Sherlock. Ini panggilan yang saya suka. Yang memanggil saya Sherlock adalah adik tingkat saya, Mby (Nama aslinya Febby). Kalau kami berpapasan dia menyapa saya dengan panggilan ini,
Mby: Hai Sherlock. .................
Saya: Hai Watson. .................
Dia termasuk orang yang supel. Mungkin banyak orang yang merasa tidak nyaman dengan kesupelannya yang terlalu supel, hahah. Tapi saya nyaman-nyaman aja dia menganggap kakak tingkat sebagai teman. Ya, walaupun dia adik tingkat, tapi dia kelahiran 90, jadi usianya lebih berumur daripada saya. Dia orang yang semangat, dan saya sering merasa tertular semangat darinya kalau kami ngobrol. Sangat optimis.
12. Anak aneh. Ini panggilan yang menyebalkan dari guru B.Inggris saya di SMA. Beliau sering menganggap saya aneh. Tapi saya belajar banyak dari beliau. Tentang musik, tentang teknik menggambar, tentang cara menyenangkan belajar bahasa.

Itu lalandian yang pernah tersemat pada saya. Bagaimanapun juga pada saat keadaan formal seperti saat diskusi pembelajaran atau perkuliahan di kelas atau saat rapat mereka tetap memanggil saya Sinta. Di luar kondisi formal itulah mereka konsisten memanggil dengan lalandian itu. Walaupun seringkali kesal dengan panggilan-panggilan itu, saya menyadari kalau mereka yang menyematkan nama-nama itu adalah mereka yang merasa sudah dekat dengan saya. Oh, ada satu orang lagi yang memanggil saya dengan panggilan berbeda dari yang lainnya. Beliau adalah dosen IPA saya di kampus. Beliau selalu memanggil saya dengan nama lengkap. Sinta Legian Wulandari. Kadang saya heran, apa ga ribet gituh manggil dengan nama lengkap.. Tapi saya suka. Karena saya yakin sampai saat ini hanya ada satu orang yang bernama Sinta Legian Wulandari di planet ini yaitu saya. Saya satu-satunya manusia yang bernama Sinta Legian Wulandari (sampai saat ini). Beliau terbiasa mengabsen nama lengkap tiap mahasiswa di kelas sebelum perkuliahan dimulai. Dan beliau bisa mengingat nama lengkap setiap mahasiswa dari angkatan terdahulu. How amazing his brain! Setiap berpapasan atau ngobrol dengan beliau, saya selalu kagum dengan ingatan fotografisnya.

Thursday, December 15, 2016

Translation

Nemu postingan temen yang ada kanjinya. Ternyata di fb ada translation buat tulisan b.jepang. Pas  saya klik, ko artinya terasa sangat tidak sesuai. Jadi penasaran postingan-postingan saya di fb yang pakai hiragana, katakana, kanji, kalau di klik translatenya bener ga ya. Untuk yang paham bahasa dan tulisan jepang sih kayaknya no problem, mereka akan ngerti tanpa harus ngeklik translate. Tapi buat yang ga ngerti terus ngeklik translate bisa jadi ga sesuai dengan arti sebenarnya. Tapi paduli ah. Kalau salah translate itu kan salah fb, kalau ada yang salah paham dengan translate dari fb, ya itu konsekuensi mereka, bongan saha ga ngerti dan bongan saha langsung percaya translate dari fb. Hihihihi..

Monday, December 12, 2016

Scary story

Saya bingung bikin judulnya, tadinya kepikiran horror story atau creepy story. Tapi jadinya scary story. Kenapa? Pengen weh. Suka-suka saya dong bikin judul mau apa.
Kemarin denger cerita temen tentang pengalamannya harus ruqyah gara-gara jin gangguin dia dan keluarganya. Saya jadi inget pengalaman saya yang tidak akan terlupakan waktu jaman kuliah..
Waktu itu hari Minggu. Saya pergi ke kampus untuk mengerjakan proyek seni rupa, membuat maket dan diorama. Saat itu saya masih tingkat 1, semester 2 kalau tidak salah.. Itu tugas kelompok. Saat masuk gerbang, Kampus Cibiru sangat sepi. Ya itu kan hari Minggu. Siang itu matahari tertutup awan diiringi rintikan gerimis turun membuat udara di sekitar saya terasa sejuk dan lembab. Saya berjalan menuju ruang seni rupa yang ternyata masih terkunci. "Sudah kuduga, mereka belum datang." Gumamku dalam hati. Saya menyusuri lorong kampus yang lebih mirip lorong rumah sakit. Menemukan para caraka kampus yang sedang mengecat pagar PAUD.
"Pak, nambut konci ruang seni rupa.." Saya nyengir merasa bersalah telah mengganggu pekerjaan mereka.
Mereka saling pandang heran karena hari Minggu ada yang butuh ruangan itu.
"Mau ngerjain tugas kelompok seni rupa." Saya lanjut menjelaskan.
"Nu sanesna kamarana neng?" Tanya salah seorang dari mereka.
"Teu acan dugi panginten pak." Jawab saya singkat.
Salah seorang dari mereka mengantarkan saya ke ruang penyimpanan kunci. Saya sudah sering menggunakan ruang seni rupa. Saya suka berdiam diri di sana, sendirian, mencorat-coret kertas A3 dengan berbagai isi kepala saya. Saya sudah izin pada dosen seni rupa, dan beliau mengizinkan saya menggunakan fasilitas didalamnya. Kertas, crayon, pensil warna, acrylic, dan semua hal di sana secara gratis. Jarang ada mahasiswa yang memanfaatkannya. Beliau bilang fasilitas itu berasal dari uang mahasiswa, jadi kalau ada mahasiswa yang perlu, sangat dipersilahkan. Ruang seni rupa bagaikan surga bagi saya yang suka ketenangan. Biasanya saya mengambil sendiri kuncinya, para caraka sudah mengenal saya. Tapi karena itu hari Minggu jadi mungkin agak beda. Hari itu caraka membukakan kunci ruang seni rupa untuk saya sambil mengucapkan kalimat yang ganjil.
"Temen-temennya belum pada dateng kan? Tenang aja, nanti di dalem juga ada ada yang nemenin. " Dia tersenyum simpul dan berbalik menuju PAUD untuk mengecat pagar kembali.
Saya mengangkat alis dan berteriak padanya,
"Nuhun Pak."
Saya masuk ke dalam ruangan itu meraih tombol saklar, lampu-lampu  menyala, menunjukan ruangan seni rupa yang seperti kapal pecah.
"Ini pasti ulah kelas B. Mahasiswa-mahasiswa yang sangat tidak bertanggung jawab." Gumam saya terganggu dengan pemandangan ruang seni rupa yang biasanya rapi tapi hari itu sangat berantakan. Saya mengingat jadwal pemakaian ruangan seni rupa kemarin. Yang terakhir menggunakannya adalah kelas B. Tapi saya malas harus membereskan ulah kelas lain, jadi saya langsung menuju maket kelompok saya dan mulai menggoreskan kuas untuk memberikan warna hitam pada miniatur gedung sate yang jadi tema proyek kami. Saya lupa tidak membawa earphone yang biasanya saya gunakan untuk mendengarkan lagu di mp3 sambil bekerja. Jadi saat itu saya benar-benar bekerja dalam keheningan. Hanya suara rintik hujan di atap yang menemani keasyikan saya menggarap maket. Saat tenggelam dalam keasyikan saya yang sunyi, tiba-tiba lampu di ruangan itu padam.
"Yaaaa, mati lampu.. " Saya bergumam sendiri sambil menghentikan kuas terayun dalam tinta. Tapi saya masih bisa bekerja dalam keremangan ruangan yang terisi sedikit cahaya dari pintu. Saya kembali bekerja. Tidak lama kemudian lampu kembali menyala.
"Alhamdulillah.. " saya tersenyum lebar karena senang dengan cahaya terang yang membantu saya fokus pada detail pekerjaan saya.
Beberapa saat kemudian lampu padam lagi..
"Yaaaa, gimana sih PLN.. " -_-"
Lalu menyala lagi...
Lalu mati lagi..
Nyala, mati, nyala, mati, nyala, mati..
"Lho kok?"
Lampu-lampu di ruangan itu mati dan menyala secara tidak pararel.
Saya beranjak dari kursi, mematikan saklar, dan menuju para caraka yang masih mengecat pagar PAUD. Jaraknya sekitar 30 meter dari ruang seni rupa. Tapi terasa lama sekali sampainya. Tiba-tiba teringat kata-kata caraka yang mengantar saya tadi, saya segera mengenyahkan pikiran-pikiran yang tidak sesuai logika. Berbelok ke kanan akhirnya saya menemukan mereka.
"Pak, listrikna error? Bisi ada yang konslet. Tolong dicek sebentar.."
Mereka terlihat agak kesal karena pekerjaan mereka terganggu.
"Emang kunaon neng?" Tanya salah seorang dari mereka.
"Listriknya mati nyala mati nyala terus." Jawab saya singkat.
Mereka saling berpandangan terlihat tidak nyaman. Lalu salah seorang menemani saya, dia adalah koordinator para caraka.
Di lorong dia bertanya, "Temen-temennya belum pada dateng? "
"Belum." Jawab saya.
"Dimarana keneh?"
"Duka."
"Disms atau ditelpon atuh."
Saat sampai di ruangan seni rupa, lampu sudah dalam keadaan menyala normal.
" Eh tos hurung deui gening pak." Kata saya heran.
Beliau mematikan saklar, lalu menyalakannya lagi, normal..
"Atos hurung deui pak, punten ngarepotkeun, nuhun." Kata saya.
" Bade ngerjakeun deui?" Tanyanya.
"Muhun."
"Diantosan tong?"
"Teu kedah." Jawab saya yang kemudian akan saya sesali.
"Teu nanaon neng?"
"Teu nanaon pak. "
Dan beliau pun pergi. Meninggalkan saya sendiri di ruangan itu lagi.. Saya masih heran dengan saklar lampu yang sudah saya matikan sebelum ke luar ruangan jadi menyala saat kembali. Saya meraih mobile phone saya dan mengirim sms kepada teman-teman kelompok kerja saya.
Not sent. Not sent. Not sent.
Saya coba telpon mereka satu persatu.
Your destination number is not active or in out of area. Please try again later..
Semuanya seperti itu..
WHAT THE HEEEEEEY WITH THEM??!!!
Ah sudahlah, saya kembali meraih kuas dan tinta. Mengerjakan lagi maket yang masih belum selesai. Saat saya kembali asyik dengan gedung sate tiba-tiba terdengar suara langkah kaki di lorong.
Tok tok tok tok
Langkah kaki seperti langkah orang yang memakai sepatu hak tinggi.
"Shelly?!" Teriak saya kegirangan. Saya bergegas keluar pintu untuk menyambutnya dan mengomelinya. Tapi.. Tidak ada siapa-siapa di sana.. Mungkin itu hanya suara air yang jatuh.. Saya kesal dan kembali masuk ke ruangan. Duduk dan kembali bekerja. Lalu terdengar suara benda yang jatuh. Suara benda yang terbuat dari besi.
Klontang
Saya menengok dan melihat penggaris besi yang jatuh dari gantungannya. Saya berdiri menuju penggaris itu,  memungutnya dan menggantungkannya kembali di tempatnya. Bersama dengan benda-benda lainnya yang digantungkan seperti pajangan. Ada obeng, acrylic, dan benda-benda lainnya untuk memahat dan mengolah tanah liat yang saya lupa lagi namanya apa. Saya kembali duduk dan sibuk lagi dengan kuas dan cat. Tiba-tiba saya tersentak karena benda-benda yang digantung itu jatuh satu persatu di depan mata saya. Klontang. Klontang. Klontang. Klontang. Apa anginnya kencang? Ah tidak.. Saya tidak merasakan angin yang kencang. Kenapa benda-benda itu jatuh semua? Merepotkan. Saya memunguti dan menggantungkan kembali benda-benda itu. Lalu dimulai lagi lampunya.. Mati, nyala, mati, nyala, mati, nyala, makin lama makin cepat, makin tidak beraturan. Saya mulai merasa bulu kuduk saya merinding. Saya tidak percaya hantu. Saya rasional. Ada yang menjahili saya? Ketakutan saya tertutup oleh rasa marah karena merasa dipermainkan, saya menggebrak meja dengan gusar dan berteriak lantang. 
"OY! DIAAAAM! SHUT UP! GANDENG SIAH! DAMATTE KUDASAI!"
Seketika lampu berhenti berkedap kedip dan mati. Suara gerimis siang masih terdengar di telinga saya. Saya berlari menuju para caraka. Mencoba tetap terlihat tenang saya berkata,
"Pak, lampunya gitu lagi."
Mereka terlihat heran dengan saya. Ada salah seorang yang terkikik,
"Nya ceuk saya oge, ada yang nemenin eneng di dalem kan? "
Saya cemberut. Sama sekali tidak lucu. Koordinator caraka terlihat sangat khawatir dan menemani saya kembali ke sana.
"Ari eneng atuh tong nyalira! Naha teu acan daratang keneh temen-temennya?!" Dia marah-marah di lorong menuju ruang seni rupa. Kenapa dia jadi marah-marah?
"Teu acan pak. "
"Naha? Tos ditelepon?! "
"Tos, teu araktif hpna."
"Tos ayeuna mah ngalih tong di ruangan eta!"
Saya mengambil proyek saya beserta kuas dan tinta. Saya pindah ke ruangan sebelahnya, ruang TU. Di sana ada dua unit komputer, sofa, dan ada kamar mandi di dalamnya. Cahayanya lebih terang karena kaca jendelanya tidak tertutup. Saya mengerjakan gedung sate saya di sofa.
"Direncangan tong?" Tanyanya.
"Teu kedah." Jawab saya.
Dia menghela napas..
"Sok we lah direncangan ku bapa."
Dia duduk di depan komputer, menyalakannya, dan bermain game komputer.
"Bilih ngarepotkeun, pan bapa nuju ngecet PAUD." Kata saya.
"Wios weh. Da eneng mah atuh bet di ruang seni rupa. Puguh banyak kajadian di dinya teh." Katanya sambil asyik memainkan game komputer.
"Hah?"
"Komo perempuan mah, sok di gangguin. Sering ada suara nangis dari dalem lemarinya.." Lanjutnya dengan mata yang tidak beralih dari layar komputer.
"Hehe. Maenya pak." Saya mulai terganggu dengan cerita tak masuk akal yang bisa menghambat kreativitas saya di ruang seni rupa. Lagian nyebelin banget kalau yang digangguin cuman  perempuan aja, benar-benar tidak menghormati hak persamaan gender dalam penggunaan ruang seni rupa. -_-"
"Ih, si eneng mah teu percayaan. Bapa tos lami di kampus ieu. Ruangan eta teh ruangan nu paling sering aya kajadian."
"Hehe. Atos pak tong nyaritakeun nu kitu." Protes saya.
Beliau terkekeh, dan tidak melanjutkan ceritanya. Sepertinya beliau mengerti saya tidak mau mendengar cerita seperti itu lagi.
"Lami keneh teu neng?" Tanyanya mengalihkan sejenak pandangannya dari layar komputer.
"Sakedap deui." Sebenarnya masih lama, tapi saya ga enak kalau beliau harus menunggui saya padahal dia juga masih ada pekerjaan. Saya ke kamar mandi mencuci kuas dan palet bekas tinta.
"Saya harus ke ruang seni rupa lagi pak, tas saya masih di sana."
"Eh, si eneng mah sanes dicandak tadi sakalian."
"Hilap pak, hehe."
"Dianteur tong?"
"Teu kedah pak, sakedap da nyandak kantong hungkul, teras bade uih."
"Teu nanaon?"
"Teu nanaon pak."
Beliau tersenyum dan mengangguk. Mematikan komputernya dan kembali ke PAUD untuk mengecat.
Saya masuk kembali ke ruang seni rupa. Menyalakan saklar. Dan melihat kembali pemandangan yang mengganggu. Kekacauan akibat kelas B. Lalu saya merenung. Mungkin mereka juga terganggu dengan pemandangan yang berantakan ini sama seperti saya. Saya menyimpan kembali maket di meja kelompok kami. Memandang tas hijau saya. Sepertinya nanti saja pulangnya. Saya menghela napas panjang. Dan membereskan kekacauan di ruang seni rupa. Menyusun karton-karton dan scotlight yang berserakan, membersihkan meja yang penuh sampah, membereskan segala sesuatunya, sampai menyapu dan membuang sampah ke tempat sampah. Lumayan juga, membersihkan ruang seni rupa ternyata lumayan melelahkan. Tapi saya lebih nyaman dengan kekacauan yang hilang digantikan oleh pemandangan yang rapi.
"Saya baik kan? Saya mahasiswa yang bertanggung jawab." Teriak saya sambil tersenyum dan berputar-putar senang. Saya tidak tahu kepada siapa saya bicara. Tapi saya benar-benar puas dengan yang telah saya lakukan hari itu. Saya melirik lemari tempat kertas-kertas A3, pensil-pensil, crayon-crayon, pensil warna, dll. Masih belum berani membuka lemari itu karena membayangkan cerita caraka. Membayangkan saat membuka lemari itu ada wanita yang sedang menangis berjongkok dan mendongakkan kepalanya ke atas dengan menakutkan. Padahal sebelumnya saya biasa-biasa saja membuka pintu lemari itu. -_-"
Saya meraih tas saya, mengunci ruangan, mengembalikan kunci kepada para caraka yang masih bekerja, dan pulang. Beberapa caraka menggoda saya dengan bertanya,
"Aya nu ngaheureuyan nya neng? "
"Aya nu ngarencangan nya neng?"
Saya hanya tersenyum dan mengucapkan terima kasih dengan sopan.
Besoknya tibalah kemurkaan saya pada teman-teman kelompok saya. Saya cerita pertama kali sama Obos dan menanyakan kemana dia kemarin.
"Punten non, saya ketiduran." Jawabnya dengan watados. Saya marah-marah dan menceritakan kejadian kemarin. Dia seperti tidak percaya.
"Wah? Maenya?" Cuman gitu doang jawabannya.
Dia menceritakannya pada teman-teman yang lain. Mereka mengerubuni saya yang lagi pundung.
"Beneran gitu sin? " Tanya Jejen.
"Aku lagi mudik ke Sumedang. Emang ada kerja kelompok ya kemarin?" Kata Iki.
"Maaf aku lupa ga ngasih tau yang lain, aku juga lupa. Ketiduran." Kata Shelly.
Jadi informasi kerja kelompoknya ga dijarkomin??!!!
"Tapi kenapa saya telpon kalian susah banget??!!"
Mereka juga heran karena hp mereka katanya pada aktif..
Cerita itu sampai juga di telinga dosen seni rupa. Beliau sering bilang saya salah masuk jurusan, harusnya saya masuk ke jurusan seni rupa bukan PGSD katanya. Beliau  bertanya pada saya tentang cerita itu, 
"Temen-temen kamu cerita kejadian di ruang ini. Beneran itu Sin? "
"Iya Pak, bener." Jawab saya datar.
"Mungkin pengen kenalan sama kamu Sin. Hahaha."
Sangat-sangat tidak lucu..
Well, setelah kejadian itu saya tidak kapok ke ruang seni rupa. Saya tetap suka ruangan itu. Hanya saja butuh waktu 2 hari sampai saya berani membuka kembali lemari dan mengambil fasilitas gratisan yang bisa saya gunakan untuk hobi saya. Saya ingat saat ragu-ragu membuka lemari itu dengan mata tertutup. Lalu membuka mata sambil berteriak dan loncat-loncat senang.
"Tidak ada apa-apa kan??!!"
Kayak orang gila aja. Untung ga ada manusia yang ngeliat saya pas  kayak gitu.
Waktu saya garap skripsi (yang telat) ruang seni rupa sudah berubah jadi ruang audio visual semacam lab bahasa. Padahal setelah mata kuliah seni rupa berakhir saya tetep sering ke sana buat fasilitas seni rupa gratis. Rada kecewa juga sih diubah jadi ruang audio visual.
Intinya saya ga percaya hantu. Tapi saya percaya adanya jin. Jin kan makhluk gaib. Saya kan orang beriman ya harus percaya kalau jin itu ada. Tapi saya tidak harus takut sama jin, karena yang ditunjuk sebagai khalifah di muka bumi ini adalah manusia bukan jin. Dan saya adalah manusia. Saya juga tidak perlu mengurusi urusan jin. Urusan sama manusia aja udah ribet, ngapain urusan sama jin. Nyiar-nyiar pikamusyrikkeun wae kalau ada manusia yang mau punya urusan sama jin.

Wednesday, November 30, 2016

Lanjut S2?

Lagi seneng liat-liat beasiswa S2. Apalagi S2 ke Jepang. Jadi sekalian jalan-jalan di negeri sakura sambil belajar. Tapi setelah dipikir-pikir lagi, lebih seneng ngurus Hawnan di rumah. Saya tetep bisa belajar walaupun ga harus ada embel-embel gelar lainnya kan. Hawnan terus tumbuh dan tidak terasa nanti akan lebih jarang bertemu dengan saya karena mungkin akan lebih banyak kegiatan bersama teman-temannya. Jadi pengen dipuas-puasin main bareng Hawnan dulu. Saya masih memikirkan homeschooling agar Hawnan tetap banyak waktu dengan saya karena ga usah pergi ke sekolah. Ya, saya harus lebih banyak belajar mandiri agar bisa menjadi ibu dan guru yang baik untuk Hawnan. Walaupun kabita ngeliat temen-temen yang foto pake toga di wisuda S2 mereka, tapi saya harus lebih bersyukur. Bersyukur karena saya sudah diberikan jodoh dan keturunan. Waktu wisuda S1 saya juga sudah punya pendamping yang halal, jadi bisa foto bareng pendamping wisuda dengan leluasa. Nikmat mana lagi yang saya dustakan. Alhamdulillah. Jadi flashback. Liat-liat lagi foto-foto wisuda dulu. Ga usah diupload di sini deh fotonya. Upload foto hadiah teddy bearnya aja yang coklat dari ayah, yang putih dari suami. n_n

Tuesday, November 29, 2016

Kenapa nulis di blog?

Di group fb dengan komunitas para blogger ada yang nanyain motif anggota lain nulis di blog. Kebanyakan jawabannya untuk menghasilkan uang. Ada juga yang untuk sekedar penghilang rasa bosan. Saya ga ikut komen di situ karena khawatir jadi dikepoin. Hahah. Jadi ingat motif saya dulu bikin blog buat apa. Dan sampai sekarang pun tidak berubah. Yaitu buat ngilangin stress. Nulis bisa jadi terapi psikologis. Kenapa di blog? Kalau di buku udah mainstream udah bosen dari jaman SD-SMA nulis di buku aja, kalau di fb males terlalu banyak temen/ kenalan yang kepoin. Di blog lebih enak, paling yang baca yang ga kenal. Kalau ada yang kenal ikut baca, berarti dia super kepo. Dan tulisan di blog dibuat lebih menggunakan pikiran walaupun tetap ada emosi karena mempertimbangkan pembaca. Kalau di buku diary kata-kata yang kurang baik dan tidak pantas ditulis bisa tetap saya tulis kalau mood lagi marah. Kalau di blog saya memikirkan khawatir ada anak kecil yang baca. Jadi pemilihan kata/diksi yang saya gunakan diblog tidak terlalu kasar walaupun sedang menulis dalam keadaan murka. Ya, sampai sekarang belum ada niat buat ngehasilin uang dari blog sih. Mungkin kapan-kapan akan saya pikirkan kalau udah ada niat. Hahah. Tapi itu berarti saya harus belajar dulu cara membuat artikel yang baik dan benar. Karena tema tulisan saya selama ini lebih banyak pada kegiatan sehari-hari atau diary. Saya hanya menulis apa yang ingin saya tulis. Tujuannya murni untuk melepaskan beban pikiran yang tidak terungkapkan secara lisan karena merasa tidak ada yang mau mendengarkan cerita saya. Sedangkan saya adalah perempuan yang punya kebutuhan mengeluarkan ribuan kosa kata tiap harinya. Dengan menulis di blog saya merasa lebih "plong" tanpa harus merasa bersalah karena saya tidak memaksa orang lain mendengarkan saya atau membaca tulisan saya. Jadi intinya saya hanya ingin mengeluarkan pikiran dan pendapat saya tanpa harus memberisiki orang. Kalau mereka membaca tulisan saya itu pilihan mereka. Kalau tidak suka tulisan saya ya tidak usah datang ke blog saya. Beda kalau nulis di fb, langsung muncul di newsfeed yang otomatis terbaca oleh orang lain. Walaupun di fb juga sebenarnya kalau tidak suka dengan tulisannya tinggal diunfriend atau diunfollow. Tapi secara pribadi saya lebih suka menulis di blog. Hidup ini simple. Kalau ga suka, tinggalkan. Daripada jadi beban pikiran dan stress berkepanjangan. Saya hanya ingin menjalani hidup dengan bahagia yang benar-benar berasal dari hati. Hidup saya singkat, saya tidak mau hidup yang singkat ini diisi dengan terlalu banyak kesedihan. Saya akan pergi mencari kebahagiaan dan meninggalkan kesedihan yang sia-sia. Saya tau mana hal yang bisa membuat saya bahagia dan mana yang bisa membuat saya bersedih. Saya tau dengan menganalisis hati saya yang sering terbolak-balik dan pikiran saya yang menyediakan berbagai kemungkinan dan solusi yang rasional. Saya akan memilih otak saya dari pada hati saya. Karena otak saya paham bagaimana kondisi hati yang lemah. Maka saya lebih rela disebut manusia tidak berhati daripada manusia tidak berotak. Karena saya benar-benar berusaha menekan perasaan-perasaan emosi saya dengan pemikiran-pemikiran hebat saya. Tapi saya tau konsekuensi logis dari penekanan emosi yang terlalu lama, saat ada pemicu walaupun kecil, maka akan meledak menghancurkan semuanya melewati batas radius normal yang telah diperkirakan.

Saturday, November 26, 2016

Sang Murabbi

Tadi nonton cuplikan Sang Murabbi di salah satu fanspage fb. Tentang bagaimana almarhum Ust. Rahmat Abdullah yang begitu lembut bisa menjadi galak saat ada orang yang meragukan janji nabi. Saya jadi buka youtube dan search Sang Murabbi. Langsung terbayang murabbiyah saya yang pertama saat SMA. Beliau yang dulu mempertontonkan film ini saat wada'an kelompok yang waktu itu kami akan mengalami ujian akhir nasional dan melanjutkan studi di kampus-kampus yang sudah kami rencanakan.. Saat itu saya sedang galau karena perbedaan pendapat dengan orang tua tentang kampus dan jurusan yang akan saya ambil.. Saya ingin masuk ke ITB dan mengambil jurusan Astronomi karena saya suka Astronomi. Tapi orang tua saya ingin saya mengambil PGSD UPI. Saya berusaha melobi orang tua dan tawar menawar mengenai kampus UPI. Saya bersedia daftar UPI tapi jurusannya B.Inggris atau B.Jepang. Tapi orang tua tetap memaksa saya daftar PGSD. Akhirnya saya ikut UM dengan asal-asalan, sama sekali tidak membawa apa-apa. Hanya beli pensil di jalan, meminjam serutan pada teman satu ruangan ujian yang tidak saya kenal. Tidak ada penghapus.. Tidak ada apa-apa. Dulu di pikiran saya hanya terlintas "Kenapa saya harus ikut ujian ini? Saya harap tidak lulus.." Saat saya melihat soal ujian, yang terdiri dari B.Inggris yang tentu saja saya kuasai karena saya jurusan bahasa saat SMA dan soal psikotes matematika dasar. Walaupun saya tidak suka matematika yang merupakan kelemahan saya, tapi soal-soal ini tergolong mudah karena menggunakan logika sederhana. Tidak ada soal seperti konsep logaritma atau konsep matematika rumit lainnya yang tidak bermanfaat back saya. Sempat terpikir untuk mengerjakannya dengan asal dan sengaja memilih jawaban yang salah. Tapi harga diri saya tidak mengizinkannya. Bagaimanapun juga saya mengerjakannya dengan sungguh-sungguh dan sepertinya Allah memberikan kemudahan bagi saya untuk mengerjakan tiap soalnya. Saat itu yang mendaftar ke PGSD Kampus Cibiru kalau tidak salah kurang lebih seribu orang. Yang akan diterima hanya sekitar 10% atau kurang lebih seratus orang. Waktu itu PGSD hanya membuka jalur UM, tidak ada SMPTN/SNMPTN. Saat mendapat pengumuman bahwa saya termasuk yang lulus, entah kenapa bukannya senang, malah jadi galau. Saya sudah berniat memecahkan celengan untuk mendaftar SMPTN. Saya sudah berlatih soal-soal IPC yang bukunya tiap hari saya bawa kemana-mana, saya baca dan saya kerjakan dimana-mana. Waktu itu orang tua meminta saya tidak perlu daftar SMPTN dan mengambil UM yang telah jelas-jelas saya lulus. Nah kembali lagi pada Sang Murabbi. Saat saya menontonnya, saya jadi takjub pada Ust. Rahmat Abdullah. Asli, pengen nangis. Entah karena filmnya atau karena itu liqa terakhir dengan murabbiyah saya dan dengan teman-teman halaqah yang selama tiga tahun membersamai saya dalam suka dan duka, saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran. Pokonya setelah menonton film ini saya jadi pasrah menerima takdir sebagai mahasiswa UPI Kampus Cibiru jurusan PGSD. Saya terkesan dengan Ust. Rahmat Abdullah yang cita-citanya ingin menjadi guru karena pahala yang tidak pernah putus walaupun jasad sudah berada dalam liang lahat. Dan beliau begitu menurut pada ibunya, saat ibunya melarang beliau kuliah di Al Azhar Mesir. Beliau rela melepaskan kesempatan emas jadi mahasiswa Al Azhar demi menuruti perintah ibunya tinggal di Indonesia. Setelah istikharah beliau menolak beasiswa itu. Ladang dakwah tersebar dimana-mana dan beliau memilih untuk menyemainya di Indonesia. Saya pun istikharah dan mantap untuk mengambil kelulusan UM, mengurungkan niat untuk ikut SMPTN. Saat mulai menjadi mahasiswa di kampus, masih ada terbersit pikiran "Why am I here? I don't belong here.." Saya berusaha mengenyahkan pikiran itu. Waktu masa orientasi salah satu dosen bertanya dikelas, "Siapa di sini yang masuk PGSD karena disuruh orang tua? " Saya mengacungkan tangan... Ternyata tidak hanya saya, hampir semuanya mengacungkan tangan! Setelah ditelusuri, rata-rata keluarga teman-teman saya adalah guru SD.. Mereka dapat informasi tentang jurusan PGSD dari keluarganya. Ya setidaknya saya tidak merasa sendirian. Banyak teman-teman yang senasib sepenanggungan dengan saya. Dan yang mengejutkan saat saya berkuliah di sana adalah "Saya mencintai kampus ini!" Direktur yang sangat berwibawa Prof. Dr. Juntika Nurihsan.. Dosen-dosen yang 90% keren-keren.. Apalagi dosen-dosen IPA 100% keren. Mereka idealis, mengayomi mahasiswa-mahasiswinya, memberikan perkuliahan dengan baik, dan pada rajin! Menurut informasi, di kampus yang lain, dosen-dosennya jarang hadir ke kelas. Dan saya benar-benar bersyukur dengan fasilitas ORMAWA dan UKM di kampus saya yang membuat saya semakin cinta dengan Kampus Cibiru. Saya betah diam di kampus sampai sore karena ikut kegiatan di luar perkuliahan. Bahkan hari libur pun ke kampus karena banyak kegiatan mahasiswa yang menyenangkan. Ya pokoknya banyak cerita di kampus ini. Saya benar-benar sudah jatuh cinta dengan Kampus Cibiru sampai-sampai lulusnya lebih dari 8 semester. Hahah, ini mah alasan weh. Ya, lumayan sedih juga saat saya lulus di smt 10.. Itu berarti saya tidak punya alasan yang kuat lagi buat sering-sering ke kampus. Naik ke atas torn air kampus, pakai alat pemotong rumput caraka kampus, melewati jalan rahasia selain gerbang kampus, main tin whistle di saung di bawah pohon kelapa di depan hamparan sawah hijau di salah satu sudut kampus, mencorat-coret kertas di ruang seni rupa pakai acrylic, crayon, pensil warna, kertas A3 yang bebas saya gunakan secara gratis, memainkan keyboard di ruang seni musik, meloncati pagar gerbang kampus yang sudah digembok, tidur di ruang poliklinik saat sakit, menyendiri di as sakinah.. Banyak me time yang saya lakukan di kampus saat saya butuh waktu sendirian..
Dan saya juga bertemu seorang  kakak tingkat yang sekarang menjadi suami saya.. Di kampus..
Yes I have a lot of memories in that campus. And I proud to be a teacher. ლ(⌒▽⌒ლ)

Tuesday, October 25, 2016

A dignity

10 texts a married man should never send
They don't feel dangerous, but these texts can completely ruin your marriage and happiness.

Amberlee Lovell
340,369 views   |   5,528 shares

Men, you love your wife, and you would never try to intentionally hurt her. But these 11 seemingly innocent texts can damage, or completely destroy, even the healthiest relationship if left unchecked.

1. Checking in on your ex-girlfriend

Even if it's been years since you've dated, this is RISKY. Initiating a small text can eventually respark the flame. At one point in your life, you really loved this person. Those feelings can easily come back if you let them. Never text your ex. It's like playing with fire.

2. Whining about your wife

You wouldn't want your wife to tell all her friends about the obnoxious things you do, so why would it be any different with her? How you talk about your wife behind her back can make or break a beautiful marriage.

If you are frustrated with your wife, find a healthy way to release those strong feelings before you talk to her about it. Texting your friend about how annoying your wife is, is absolutely toxic. Your friends will remember those annoying things long after you normally would (and remind you of them). And those hurtful words are now in writing - a perfect way for your wife to stumble across and be deeply wounded by them later on.

3. Obsessively texting a friend

It's fine for you to have a bro-mance, but if that relationship becomes more important to you than your relationship with your wife, it's time to break up with your friend.

How many times do you text your friend during the day? Are you texting him while your wife is having a conversation with you? At any time, have you resented the time you need to spend at home with your family because you would rather be hanging out with your buddy? These are all signs of an impending disaster. It's time to step back from that friendship.

4. Any text sent from a secret messaging app

If you're using any app to keep a conversation secret of if you have a desire to hide any text from your wife, that's a pretty clear sign you're doing something wrong.

With any conversation you have, ask yourself how your wife would feel if she were reading it. If you don't know, ask her. If you're uncomfortable with her finding out, stop it immediately.

5. Texting out of anger

If you're angry at your wife, cool down before you call her. Texting is never a good way of expressing your frustration. Your tone of voice is impossible to interpret through a text message, and it's way too easy to type hurtful things you'll later regret. Anything hurtful texts you send your wife will forever be recorded in writing. She'll also remember them at times when she is feeling the most vulnerable.

6. Responding to a flirty text from any woman (besides your wife)

If a woman initiates the conversation, block her. Nothing good can come from responding.

7. Flirting at all (even as a joke)

Never send a flirty text. Ever.

Inside jokes should be kept between you and your wife. There is no room to be texting inside jokes to another woman.

8. Shoving your wife under-the-bus

Be cautious of how you use the, "I can't come, because my wife won't let me" excuses. If you're frequently whining about how she never lets you do anything, your friends will start to believe she's the reason for all your problems. Eventually, you'll come to resent her as well.

9. Pornographic images

Husbands, if you truly understood the effect pornography has on you and your relationship, you would avoid this at all costs.

A study by Fight the New Drug showed that after men were exposed to pornography, they rated themselves as less in love with their partner, and were more critical of their partner's appearance, sexual performance and displays of affection. Why would you ever wish to spread that around (let alone, expose yourself to it?)

10. Texting a female co-worker about anything besides work

No matter who it is, no matter how impossible it seems to ever have an affair, don't enter this territory. When you're married, you have to set boundaries with the other women you interact with. You possibly spend more time with your co-worker than with your wife. Developing an inappropriate relationship can be so easy. If you have to text a female co-worker, make sure it's only for the right reasons (i.e. about work).

Husbands, even the best of marriages can be destroyed. Don't risk this precious relationship because of a few careless texts. If you're doing any of these things, there's time to stop right now.

https://familyshare.com/24940/7-texts-a-married-man-should-never-send


Sunday, October 23, 2016

Chat yang sepele tapi berbahaya?

Nemu postingan temen di wall.. Dia jadi admin di grup belajar di WA.. Pas baca saya langsung bergumam.. Masya Allah.. Subhanallah.. Alhamdulillah.. Allahuakbar.. Nemu lagi sosok yang bikin kagum.. Ga tau namanya.. Ga tau mukanya.. Tapi saya langsung melting dan berandai-andai.. Dan tidak lupa beristighfar.. Kalau dulu sebelum nikah pas baca atau denger cerita tentang ikhwan seperti ini, dalam hati "Astaghfirullah, dia kan suami orang." Kalau sekarang istighfarnya dobel, "Astaghfirullah, dia kan suami orang. Astaghfirullah, saya kan sudah jadi istri orang." Hahah. Tapi sulit buat ga kagum sama orang-orang yang luar biasa seperti itu. Laki-laki selingkuh mah biasa. Laki-laki poligami juga biasa. Diawali tidak mampu menahan interaksi, tidak mampu mengendalikan hati, tidak mensyukuri dan ingin terus memuaskan diri. Tapi laki-laki yang benar-benar bisa menjaga hati, pikiran, lisan, terhadap perempuan yang bukan mahramnya benar-benar luar biasa.. Keren.. Laki-laki yang menggunakan otak dan pikirannya dengan baik.. Brainy.. Menyadari kelemahannya, berusaha menghindari fitnah yang bisa timbul. Karena untuk bisa menjaga keluarganya dari api neraka, seorang suami memang harus bisa menjaga dirinya terlebih dahulu.. Hal yang kecil pun dia jaga. Terlihat sepele dan tidak penting mungkin ada yang bilang lebay. Tapi dia berusaha untuk menjaga dirinya dengan baik. Rare species on this planet. Tapi saya percaya masih belum punah. Masih ada ikhwan2 yang bisa menjaga dirinya dengan baik. Saat membaca postingan teman saya, selain perasaan kagum, saya merasa bersalah juga. Merasa bersalah karena kagum. Kalau saya bisa mengagumi suami orang, bukankah saya juga harus bisa mengagumi suami sendiri? Kalau saya bisa melihat kebaikan dari suami orang, bukankah seharusnya saya juga bisa melihat kebaikan suami sendiri. Seringkali kebaikan dari orang yang setiap hari membersamai tertutup oleh keburukan2nya. Seringkali kita melihat dan mencari hal2 yang tidak dimiliki orang yang bertemu setiap hari dengan kita. Melihat kelebihan orang lain yang tidak dimiliki oleh orang terdekat. Padahal pasangan kita juga memiliki kelebihan dibalik kekurangannya. Mungkin orang lain yang kita kagumi juga punya kekurangan yang tidak kita ketahui. Yang jelas dengan postingan teman saya ini saya merasa ditampar. Saya harus bisa merubah diri sendiri. Karena pasangan kita adalah cerminan dari diri kita. Fokus memperbaiki diri sendiri. Semoga saya dijauhkan dari fitnah akhir zaman. Semoga fasilitas yang menambah peluang bagi manusia untuk tersentuh api neraka bisa digunakan dengan pemikiran yang matang, penuh pertimbangan, dan kebijaksanaan.. Semoga saya bukan termasuk orang yang kufur nikmat.. Harus terus belajar bersyukur tidak hanya dengan hati dan lisan, tapi juga dengan perbuatan..

Tuesday, October 11, 2016

My instrument, My music

Mulai sering buka partitur-partitur musik yang dulu saya kumpulkan. Waktu SMA ibu memfotokopi buku yang saya gunakan untuk belajar piano karena tiap dua minggu buku itu selalu saya perpanjang masa peminjamannya. Belajar pakai buku Bapusipda lah, jadi gratis, ga usah bayar kursus. Hahah. Dulu belajar pakai keyboard yang dipinjam dari paman dan upright piano teman SMA. Setelah memahami not balok, saya makin senang belajar piano. Setelah kuliah keyboard paman dikembalikan. Tapi sekarang ada keyboard saya jaman SD yang saya wariskan ke Hawnan. Casio emang keren, masih tetep bagus suaranya meski udah belasan tahun.. Tapi karena cuman ada 2,5 oktaf jadi ga semua not di partitur bisa dimainkan. Well that's fine..  I still can imagine the whole part that I was playing on the upright piano or keyboard that have more octave. Masih inget rasanya waktu mainin upright piano di rumah temen. Beda sensasinya. Tutsnya lebih berat dan butuh tenaga lebih banyak pada jari-jari saya. Ditambah pedal sustaine yang bisa membuat permainan lebih variatif. Dulu temen nawarin buat beli pianonya karena ga pernah dipake lagi. Dia ga bisa maininnya, adiknya yang bisa, tapi adiknya udah jarang banget mainin lagi. Saat saya tanya harganya, langsung nolak lah buat anak SMA kayak saya waktu itu.. Uang saku saya harus dikumpulin bertahun-tahun buat bisa beli. Keyboard aja minjem.. Hehe. Yang penting bisa mainin. Cari yang gratisan aja lah. Wkwkwk. Sekarang juga gantian sama Hawnan. Kalau dia tidur, baru saya bisa mainin dengan bebas. Ini instrumen pertama saya yang bikin saya semangat buat mainin instrumen lain. Gitar klasik juga jadi favorit saya. Belajar dari gurunya langsung ini mah waktu ada Rumah Belajar dari Mapusta. Jadi gratis. Gitar juga disediain dari sana, tapi ga bisa dibawa pulang jadi minjem gitar punya paman. Huahaha. Selama ada yang gratis, harus dimanfaatkan. Ilmu itu mahal, jadi saya ga mau nyia-nyiain yang gratisan. Harmonica juga dikasih dari temen SMA, jadi cari tahu cara mainnya dari situs online. Tinwhistle mah beli. Nitip ke guru SMA yang punya link bwt bawa dari Irlandia dengan harga yang jauh lebih hemat. Pengen eksplore instrumen lain..

Tuesday, September 27, 2016

Review Bapusipda Jabar (Badan Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Provinsi Jawa Barat)

Di notif ada permintaan review dari Facebook tentang Bapusipda karena saya ngetag tempat itu untuk melengkapi status dan foto. Tapi mending nulis di sini aja. Sejak saat duduk di bangku Sekolah Dasar saya rutin diajak oleh ibu ke perpustakaan daerah, nama lengkap tempatnya Bapusipda Jabar (Badan Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Provinsi Jawa Barat). Dulu masih di deket BPBD. Saat kuliah jadi pindah ke Kawaluyaan. Tempatnya jadi lebih besar dan luas. Setelah menikah dan skripsi beres belum sempat ke sana lagi. Apalagi setelah tinggal di Bogor. Hari Jum'at kemarin saat ada di Bandung saya ambil kesempatan buat berkunjung lagi. Kali ini disertai anak saya yang berumur 19 bulan. Tujuan kunjungannya jadi beda. Sekarang tujuannya ngasuh anak, jalan-jalan di perpustakaan daerah ternyata membuat anak saya sangat senang. Dia bisa main perosotan di ruang anak-anak dan mengeksplorasi buku-buku yang dia temukan di rak. Walaupun memang belum bisa baca tapi dia berlagak mengambil buku dan seolah membacanya. Ruangannya nyaman disertai karpet yang menutupi lantai. Sepatu ditaruh di rak. Kemudian naik lift menuju lantai 2. Di ruang dewasa dia tertawa-tawa girang. Saya khawatir mengganggu para pembaca yang khusyu dengan bukunya dalam keheningan. Dia tertawa terus menerus. Mengeluarkan buku-buku dari dalam rak dengan riang. Saya tidak merekomendasikan membawa anak kecil ke ruangan ini karena para pecinta buku pasti mengerti etika tenggang rasa tentang keheningan saat membaca. Tapi entah kenapa dia terlihat lebih senang di ruangan ini. Ada mesin pencari buku yang bisa memberitahu ada atau tidaknya buku yang kita butuhkan. Setelah menemukan buku yang akan dipinjam, saya menuju ke petugas yang siap melayani dengan ramah. Sekarang tidak perlu lagi 3 kartu merah untuk disimpan di sana. Cukup dengan 1 kartu elektronik yang discan barcodenya sudah bisa pinjam. Struk peminjaman dan tanggal kembali diberikan kepada peminjam (anggota). Sudah secanggih ini sekarang.. Di luar ruangan di lantai 2 ada area dengan rak buku dan longue yang bisa digunakan pengunjung untuk mengisi waktu saat waktu istirahat perpustakaan.. WiFi gratis dan super cepat juga bisa dinikmati di setiap lantai (ada username dan password yang berbeda untuk tiap lantai dipampang agar pengunjung bisa mudah mengakses informasi). Kali ini saya tidak ke lantai 3 karena tidak ada kepentingan. Dulu pernah ke lantai 3 gara-gara telat ngembaliin. Jadi turun lewat eskalator yang otomatis bawa kita ke bawah saat nginjekin kaki di tangga pertama. Kalau belum nginjek eskalatornya hanya melaju pelan. Makanya harus hati-hati kalau mau menuju atas, mending naik lift atau tangga darurat karena eskalatornya khusus untuk ke bawah. Mushola juga sudah tersedia di dalam gedung. Dulu kalau mau shalat harus keluar gedung dulu. Malah saya sempat ikut shalat di samsat karena musholanya pernah dikunci. Sekarang jadi lebih mudah dan nyaman kalau mau shalat. Oh iya jangan lupa menyimpan tas dan jaket di loker penyimpanan karena tidak diperbolehkan membawanya ke ruang baca. Kita juga harus menjaga kunci loker dengan baik. Di ruangan loker penyimpanan Hawnan malah tiduran di lantai, ga mau diajak pulang. Ya mau bagaimana lagi dulu saya juga sering ketiduran dengan tumpukan buku yang saya bawa untuk dibaca. Sampai petugas perpustakaan ngebangunin karena waktunya tutup. Betah rasanya kalau banyak buku.
Sebagai bahan evaluasi tentang ruang galeri dan toilet saja. Dulu ruang galeri tertata rapi dengan penataan informasi dan benda-benda tiap daerah di Jawa Barat, juga dokumen-dokumen penting sejarah yang paling menarik perhatian saya tentang G30SPKI. Sekarang ruang galeri jadi seolah kosong dan berdebu, banyak yang rusak dan hilang.. Satu set angklung pun sayang seperti tidak terurus. Toilet yang luas dengan yang disertai cermin dan wastafel juga jadi kurang bersih dan ada yang rusak. Dulu yang saya ingat toiletnya selalu bersih. Tapi saya yakin dua point itu akan ditindaklanjuti segera karena saya melihat ada yang membawa toilet-toilet baru ke dalam gedung. Sekian review salah satu tempat favorit saya di Bandung Jawa Barat.

Sunday, September 18, 2016

Pamer foto mesra di facebook tanda tidak bahagia?

Ada yang ngeshare di facebook artikel tentang penelitian yang membuktikan pamer foto mesra di facebook adalah tanda ketidak bahagiaan dalam hubungan. Saya baca dan lumayan tertarik. Cukup setuju untuk kondisi tertentu. Harus saya akui terakhir kali saya pasang foto mesra sama suami emang pas kondisi lagi galau. Pas ditinggal suami buat asrama selama satu bulan. Saya ngungsi dulu ke Bandung, suami balik lagi ke Bogor buat persiapan asrama. Setelah dua hari ga ketemu saya baru pasang foto mesra walaupun mukanya ga keliatan, cuman tangan yang saling menggenggam. Itu saya ambil pas waktu di bus, suami lagi ga ngeh karena ngantuk, saya ambil deh tangannya. Hihi. Saya upload foto pas dia mulai masuk asramanya buat ngasih dia semangat juga di tengah kegalauan saya yang harus tidur sendirian. Saya tau dia suka kalau saya upload kemesraan asalkan wajah ga usah diperlihatkan. Dulu waktu harus LDRan dua bulan setelah lahiran saya sempat buat status "kangen" di facebook, tapi saya atur privasinya biar cuman suami yang bisa baca. Eh, dia malah ngesms dan nelpon nantangin saya buat ngubah privasinya biar orang lain juga bisa baca. Saya bingung juga, males kalau orang lain komen di status yang khusus saya buat untuk suami. Setelah cukup lama berpikir, saya akhirnya mengubah privasinya biar teman-teman facebook bisa baca. Setelah itu baru suami mau komen di statusnya. Dan ternyata kekhawatiran saya tidak terjadi. Ga ada teman-teman lain yang komen, paling cuman like. Sepertinya mereka sudah paham bahwa itu adalah privasi dan mereka tidak berhak berkomentar. Saya juga mencoba menyelami pikiran suami. Dia memang ga suka pasang status atau foto mesra. Tapi sepertinya dia ingin saya yang melakukannya. Mungkin dia juga merasa galau dan tidak yakin dengan perasaan saya. Dengan saya memposting kemesraan, mungkin dia merasa teryakinkan karena saya berani mengakui hubungan di depan orang-orang yang mengenal saya. Walaupun sebenarnya tiap hari bisa komunikasi melalui sms, telpon, bbm, atau wa yang lebih privasi, tapi hubungan sepertinya memang harus ada pengakuan secara de fakto dan de jure agar bisa merasa lebih tenang. Tapi memang, secara pribadi saya posting kemesraan di fb saat merasa galau karena harus berjauhan dengan suami dalam jangka waktu yang cukup lama. Walaupun sebenarnya kalau setiap hari bertemu ada kejengkelan atau pertengkaran, tapi itu lebih baik daripada kemesraan saat berjauhan. Tetap saja gadget tidak akan pernah bisa menggantikan kehangatan pertemuan langsung. Saya kan ga bisa meluk-meluk atau megang gadget. Tentang bahagia atau tidak bahagia tentu saja dalam kehidupan rumah tangga pasti pernah merasakan keduanya. Ada bahagianya, ada tidak bahagianya. Kehidupan yang terus berputar. Yang jelas pernikahan itu harus lebih banyak bahagianya daripada tidakbahagianya. Dan saat suami istri harus berjauhan tentu saja itu salah satu ketidakbahagiaan dalam hubungan. Saya tidak suka LDR. Saya suka hubungan yang real. Itu saja.

Saturday, August 13, 2016

Waktu

Saya termasuk orang yang yakin terhadap kecukupan rizki. Tidak terlalu memikirkan uang yang kurang. Karena saya tau rizki bukan hanya uang. Dan selama saya hidup Allah sudah memberikan rizki yang tidak terhitung, nikmat Allah mana lagi yang harus saya dustakan? Saya bisa menghirup oksigen dengan bebas dan gratis. Saya bisa merasakan nikmatnya makanan yang menutup rasa lapar, meneguk air yang menghilangkan dahaga, memakai pakaian yang melindungi tubuh. Saya tidak pernah merasa kurang karena Allah selalu melimpahkan rizkinya pada saya. Jadi saat saya harus menjadi ibu rumah tangga yang tidak bekerja, saya tetap yakin rizki saya selalu melimpah. Tapi permasalahan uang memang sensitif dalam rumah tangga. Saya bukan termasuk tipe istri yang memonopoli uang suami. Saya memberikan kepercayaan penuh pada suami untuk mengelola uangnya. Saya tidak berani menyebut "uang kami" walaupun saya tau rizki saya juga ada di situ. Saat suami memberikan uang bulanan, saya sadar betul penggunaannya adalah untuk kebutuhan primer seperti makan dan urusan rumah tangga sehari-hari. Tapi saya pribadi punya kebutuhan yang lebih primer daripada makanan. Kebutuhan super primer saya, kebutuhan psikologis, kebutuhan penyaluran hobi saya.. Saya tidak berani menggunakan uang belanja untuk memenuhi kebutuhan hobi saya. Rasanya tidak bertanggung jawab sekali uang untuk makan keluarga dipakai pemenuhan hobi pribadi. Saya akan merasa bersalah.. Tapi saat mendapatkan amanah baru di yayasan untuk mengajar anak-anak SMP saya merasa lebih nyaman. Saya punya pemasukan yang bisa saya gunakan dengan cukup untuk membeli buku, pensil warna, dll, juga memberikan pada orang tua walaupun tidak besar dan orang tua saya mungkin tidak terlalu butuh uang tapi saya merasa bahagia saat bisa memberi orang tua saya. Saya tidak bisa hidup tanpa buku, saya rela kalau seandainya hidup dalam penjara tapi ada buku menarik yang bisa saya baca tiap hari. Saya merasa bebas saat membaca buku. Saya bisa tahan seharian ga makan saat baca buku. Saya juga sadar saya bukan anak laki-laki yang punya kewajiban seumur hidup pada ibunya.. Dari dulu guru-guru saya mengingatkan, wanita akan punya suami, tapi bekerjalah agar bisa memberi pada orang tuamu. Kerasa sekarang, dulu sebelum nikah bisa ngasih tiap bulan ke ibu, setelah nikah rada susah da jauh dan saya ga punya rekening di bank yang cuman satu-satunya bank di daerah deket sini. Paling kalau liburan baru bisa ngasih, itu juga ga sebanyak yang saya kasih kayak dulu dan saya malah yang lebih banyak dikasih sama orang tua. Jadi saya ngasih, ibu juga ngasih ke saya. Kadang jadi malu juga, jadi pakasih-kasih. Tapi ada rasa bahagia tersendiri saat bisa memberi orang tua. Walaupun sedikit saya ingin bisa memberi mereka. Nah ada fakta yang saya buktikan dari pemasukan yang saya dapatkan. Ternyata benar saat istri bekerja keuangan rumah tangga tetap segitu aja. Buktinya dulu sebelum suami keterima di Bogor, kami berdua bekerja, pemasukan kami jika dijumlahkan "sekian". Kemudian setelah suami diterima dan saya ikut merantau tapi tidak bekerja, gaji suami "sekian". Setelah saya kembali bekerja gaji suami ada pemotongan, beberapa tunjangan ditiadakan tapi kalau dijumlahkankan dengan gaji saya jadi "sekian". Intinya "sekian" adalah jumlah yang kurang lebih sama. Tapi saya tidak melihat jumlah yang "sekian" ini. Saya melihat waktu sebagai rizki yang besar. Dulu di kampung halaman, saya bekerja full day dari setengah tujuh sampai setengah empat. Suami dari setengah tujuh sampai malam. Saat suami meminta do'a untuk lolos penerimaan saya bertanya padanya:
Saya:" Emang Akang bahagia kalau keterima?"
Suami: "Iya, seenggaknya saya ga harus pulang malem, siang udah bisa pulang ke rumah."
Saya dulu memikirkan anak dalam kandungan, ga kebayang kalau tiap hari bapaknya pergi pagi pulang malam, pas pulang anak udah tidur, ga ada waktu bercengkrama dengan keluarga. Kemungkinan saya juga bekerja sampai sore, anak dititipin ke neneknya, ASI mampet gara-gara dicampur sufor. Walaupun saya tidak terlalu berminat, tapi kalau suami keterima, kami bisa punya banyak waktu bersama anak. Jadi saya benar-benar mensyukuri rizki yang sangat berharga ini, WAKTU. Untuk apa punya banyak uang kalau tidak bisa menghabiskan waktu bersama anak? Sungguh keluarga adalah harta yang lebih berharga dari uang. Uang dicari untuk keluarga, bukan dengan mengorbankan keluarga. Sekarang saya bekerja hanya seminggu sekali, tiap hari jum'at. Tahun lalu kebagian IPA, sekarang Bahasa Sunda. Saya berani menerima tawaran ini karena diizinkan membawa anak ke sekolah dan waktunya juga ga full day. Itung-itung rekreasi dari pekerjaan rutin sebagai ibu rumah tangga. Ya intinya saya harus bersyukur bisa mengurus anak dan suami, bisa menyalurkan ilmu yang saya miliki, bisa menjaga kestabilan psikologis saya dengan hobi. Jadi jangan sampai saya mengeluh, karena waktu saya terbatas. Kenapa terbatas? Karena saya manusia, setiap manusia akan mencapai batas waktunya. Jangan sia-siakan waktu yang terbatas ini hanya untuk mencari uang, saya ingin lebih banyak menghabiskan waktu bersama harta yang paling berharga, anak yang shalih, ilmu yang bermanfaat, orang tua untuk diberi..

Sunday, July 31, 2016

Invisible umbrella

Salah satu perubahan setelah saya menikah adalah pakai payung. Sejak dulu saya anti banget sama yang namanya payung. Tepatnya sejak insiden saat SMP yang hampir membuat saya mati tertabrak truk. Saat itu hujan angin dan saya berjalan sambil menggenggam payung. Perjalanan menanjak sambil melawan angin dan hujan yang deras. Tiba-tiba angin bertiup sangat kencang dan menerbangkan payung beserta dengan diri saya yang ikut terseret karena tetap menggenggam payung. Saya diterbangkan sampai ke tengah jalan dan sebuah truk besar melaju turun dengan cepat ke arah saya, membunyikan klakson yang mendengung-dengung di telinga dan otak saya. Entah bagaimana saya bisa selamat saat itu.. Saya pulang sambil menangis karena masih shock dengan kejadian itu. Tapi air mata saya tersamarkan oleh air hujan yang membasahi seluruh tubuh saya. Sejak saat itu saya trauma kalau harus pakai payung. Saya lebih memilih jas hujan atau lebih baik basah kuyup kehujanan. Tapi sekarang setelah punya anak mau tidak mau saya harus melawan rasa trauma terhadap payung. Kalau sendiri saya akan lebih milih kehujanan, tapi kalau sama anak tentu saya tidak mau dia kehujanan. Saat saya membeli payung yang transparan suami protes karena menganggap seperti payung mainan. Tapi saya lebih bisa mengendalikan rasa trauma saya kalau memakai payung ini. Jadi seperti tidak pakai payung. Sebenarnya saya sangat suka hujan dan tidak pernah ragu untuk hujan-hujanan. Air yang turun dari langit terasa sejuk dan membuat saya merasa nyaman walaupun harus basah. Saya sangat suka hujan dan patrikor. 🎶

Tuesday, July 19, 2016

Presence can never be replace by present

Sedang memikirkan pendidikan untuk anak saya kelak. Lagi banyak yang mempengaruhi baik langsung atau tidak langsung untuk memasukkan anak ke ponpes. Tapi..
Dulu saat menjelang SMP, teman2 SD saya mengajak untuk masuk pesantren. Katanya seru bisa mondok di pesantren. Saat saya menyampaikan ide tersebut pada ibu, beliau tidak mengizinkan..
"Ibu sanggup keneh ngurus sareng ngadidik sinta." Begitu beliau berucap.
Saya sempat kecewa karena tidak bisa bersama teman2 lagi. Tapi sekarang saya mulai paham dan mensyukurinya. Saya masuk SMP negeri dan mengikuti organisasi yang menempa saya. Ada asramanya juga walaupun hanya beberapa hari. Organisasi yang mendidik saya untuk tidak makan dan minum sambil berdiri, untuk tidak membuang-buang waktu dengan pacaran, untuk shalat tepat waktu dan berjamaah, untuk bertutur kata baik, untuk selalu percaya diri, untuk menghargai sejarah, untuk tidak membuang sampah sembarangan, untuk melatih keahlian paskibra.. Saat SMA saya masuk ke SMA negeri dan mengikuti organisasi rohis. Ternyata saya baru tahu rohis SMA saya terkenal rohis yang kuat di kota Bandung sampai-sampai rohis SMA saya dijuluki pesantren dalam sekolah negeri. Setelah cukup lama berada di dalamnya saya menyadari kekuatan ukhuwah yang bisa membuat rohis ini tetap berjalan dengan baik. Alumni-alumni yang tidak meninggalkan adik-adiknya walaupun sudah kuliah atau menikah.. Saat kuliah di universitas negeri saya juga mengikuti kegiatan rohis di kampus. Walaupun saya tidak masuk pesantren saya bersyukur bisa bertemu dengan murabbi dan murabbiyah hebat serta teman-teman yang selalu memberikan semangat untuk terus beribadah dan berjuang di jalan Allah. Dan yang paling saya syukuri saya punya kesempatan untuk bertemu orang tua dan keluarga saya setiap hari di rumah. Walaupun kegiatan saya di luar sangat banyak, tapi saya bisa pulang dan melihat wajah ibu, ayah, dan adik yang saya cintai, setiap hari.. Adanya kebersamaan setiap hari dengan orang-orang yang saya cintai merupakan hal yang berharga bagi saya. Saya ingat selalu mengapa ibu tidak mengizinkan saya masuk pesantren..
"Ibu sanggup keneh ngurus sareng ngadidik sinta. Ibu palay papendak sareng sinta unggal dinten.."
Itu yang membuat saya tidak pernah melewatkan do'a untuknya selesai shalat.. Saya menyayanginya, orang yang selalu sabar terhadap saya, orang yang tidak ingin saya jauh darinya, orang yang selalu mengkhawatirkan kondisi saya, tapi orang yang harus rela melepaskan saya setelah saya menikah. Saya makin paham dan mengerti pikiran dan perasaannya setelah saya dikaruniai anak perempuan. Makin banyaknya pesantren yang bisa memfasilitasi anak untuk mendapat didikan dan lingkungan yang baik adalah sebuah pilihan. Tapi mendidik dan membersamai anak perempuannya setiap hari sampai dia ditakdirkan pergi bersama suaminya juga adalah pilihan.. Karena waktu tidak bisa kembali.. Karena kebersamaan yang penuh ketulusan tidak bisa dibeli oleh apapun.. Presence can never be replace by present. Saya ingin terus menggali tentang homeschooling..

Wednesday, July 6, 2016

Ied

Setelah 2 tahun kemarin , akhirnya tahun ini bisa kumpul bersama keluarga besar di Sumedang saat hari pertama Idul Fitri. Kalau hari pertama tuh hampir semuanya lengkap. Walau ada yang ga nginep. Makanan ibu juga masih kebagian, ketupat, sayur kari, beefsteak.. Kalau hari kedua udah pada sepi, tinggal nyisa makanan nenek. Alhamdulillah sekarang bisa mengalami lagi. Seneng banget, banget, banget.. :)

Friday, July 1, 2016

Meet up Blah Bloh Family

Kemarin acara bukber keluarga tapi jadi bukber sama temen kampus juga. Ketemu di ampera sama temen-temen yang dulu akrab di kampus. Alhamdulillah jadi bisa silaturahim sama mereka. Dulu sebelum nikah selalu bisa menyempatkan buat bukber dengan teman-teman kampus dan SMA. Setelah nikah rada susah untuk bertemu mereka. Bukan berniat untuk memutus tali silaturahim, tapi sadar diri juga status saya sudah bukan single lagi, tidak bisa seenaknya kesana kemari tanpa suami. Ditambah keberadaan Hawnan yang rawan untuk dibawa malam-malam ke luar khawatir keanginan. Tapi sekarang Hawnan udah boleh dibawa keluar malam. Niatnya bukber bareng mereka sehari sebelumnya, tapi tidak jadi karena cuaca hujan. Besoknya saya tidak bisa ikut karena bukber di luar dengan keluarga. Tapi kami bertemu di tempat yang sama. Akhirnya sekali merengkuh dayung dua pulau terlampaui. Bukber keluarga ditambah bukber dengan teman-teman kampus. Kami dulu di kampus kemana-mana bertujuh. Tapi dua orang tidak hadir, tik2 masih di Jasinga lagi hamil belum mudik-mudik, ein kejauhan di Bungbulang. Jadi cuman berlima yang bisa hadir. Saya kaget juga saat ada satu sahabat lama tiba-tiba muncul. Dia ikhwan tapi tumben berani ngumpul bareng kami, biasanya dulu dia berani kumpul dengan kami kalau ada satu teman yang segendernya ikut juga. Saya dari dulu juga sudah menganggapnya sebagai saudara kandung sendiri. Dulu bisa menceritakan hal apapun kepadanya dan dia selalu sabar menjadi pendengar cerita-cerita saya yang mungkin baginya tidak penting. Tapi kemarin terasa kikuk juga. Setelah menikah jadi lebih memahami bagaimana seharusnya berinteraksi dengan lawan jenis. Jadi lebih memahami bagaimana kondisi pikiran dan hati lawan jenis. Jadi lebih memahami psikologi sosialisasi dengan lawan jenis. Walaupun saya sudah menganggapnya saudara kandung saya sendiri, sekarang saya lebih memikirkan fakta konkrit bahwa dia seorang ikhwan dan saya harus memposisikannya seperti itu. Bicara seperlunya saja. Saya tidak bisa lagi berinteraksi seperti dulu kepada sahabat yang berbeda gender dengan saya. Walaupun tidak ada perasaan yang khusus, tetap saja gendernya berbeda dengan saya dan saya mau tidak mau harus membatasi interaksi dengannya. Bagaimanapun juga saya harus ingat bahwa dia bukanlah mahram saya. Dan saya juga harus ingat sekarang saya punya hati yang harus dijaga, semoga Allah tetap menetapkan hati saya karena saya tidak bisa menjamin hati manusia yang cenderung terbolak balik. Saya juga harus menjaga hati suami saya agar hatinya tetap tentram dan tidak ada kekhawatiran terhadap hati dan perasaan saya. Sekarang saya lebih memahami bahwa menundukan pandangan bukan hanya tugas muslim saja, muslimah juga perlu. Tapi saya akan tetap mendo'akan kebaikan untuknya, karena dia tetap saudara seiman seislam saya. Saya berhutang banyak kebaikan padanya. Semoga Allah memberkahinya.

Thursday, June 23, 2016

Nya'ah ibu sareng ayah

Alhamdulillah..
Saya masih bisa membersamai kedua orang tua saya..
Walaupun hanya selama liburan..
Mudah-mudahan bisa membuat mereka bahagia...
Karena saya bahagia saat mereka bahagia..

Friday, May 20, 2016

Wilujeng tepang taun Ayah..

Saya bersyukur memiliki seorang ayah yang menyayangi kami tanpa henti..
Saya ingat saat ayanh menggendong saya yang pura-pura tidur di sofa agar dipindahkan ke kasur..
Saya ingat ayah yang selalu membawakan oleh-oleh saat pulang kerja walaupun hanya sebutir permen..
Saya ingat ayah yang bermain pipindingan dengan saya dan adik..
Saya ingat ayah yang mendudukan saya di bahunya sambil melompat-lompat menghibur kami..
Saya ingat ayah yang memotong poni rambut saya agar mata saya tidak terganggu..
Saya ingat ayah yang senantiasa mengantarkan saya ke sekolah..
Saya ingat ayah yang selalu berkata lembut.. Pernah suatu ketika saat SMA ayah berkata kasar pada saya "Mantog siah!" Dulu saya kaget karena nada tinggi yang ayah ucapkan disertai gebrakan pintu yang ditutup dengan keras. Saya pergi ke rumah nenek karena tidak berani masuk rumah. Saat saya menanyakan apa arti kata-kata yang diucapkan ayah, nenek heran dan balik bertanya kesalahan saya. Saya tahu hari itu saya salah karena pulang melewati waktu maghrib tanpa memberi kabar. Saya ditawari senior untuk ikut ekskul karate. Saya tertarik karena diiming-imingi nilai tambahan olah raga. Nilai olah raga saya selalu rendah, senior saya bilang nilai olahraga di raport akan ditambah kalau ikut karate karena senseinya guru olah raga. Waktu latihannya tiap hari selasa dan jum'at ba'da ashar sampai maghrib. Saya shalat maghrib di mesjis sekolah, jadi baru pulang sekitar pukul setengah tujuh. Itu pertama kalinya saya pulang selarut itu. Ibu saya mengecek ke rumah nenek, memastikan saya sudah makan atau belum. Malam itu saya menginap di rumah nenek. Besoknya saya meminta maaf pada ayah. Saya tau ayah marah karena khawatir. Akhirnya mulai saat itu setiap selasa dan jum'at ibu membuatkan bekal untuk makan siang. Dan tiap selasa dan jum'at ayah tidak hanya mengantar saat pagi, tapi juga menjemput di sore hari sambil menonton saya yang sedang latihan.
Saya ingat ayah yang selalu menyempatkan waktunya untuk saya..
Saya ingat air matanya yang mengalir saat harus melepaskan saya pada orang yang telah menjadi suami saya saat akad dan sungkeman..
Saya bersyukur masih memiliki ayah yang tetap menyayangi saya..
Kebanggaan terbesar bagi saya adalah ayah yang selalu mencintai ibu dengan sepenuh hati, kesetiaannya mendampingi ibu yang telah melahirkan saya, dukungannya pada pendidikan ibu untuk melanjutkan D3, S1, dan untuk mengamalkan ilmunya, kemandiriannya mencuci baju sendiri, memasak telur sendiri, membereskan rumah dengan sangat rapi. Saya tidak khawatir saat harus merantau setelah menikah, karena saya tau akan selalu ada yang mencintai ibu setiap hari, akan selalu ada ayah untuk ibu..

Wednesday, May 18, 2016

Cara menanggulangi kutu air

Setelah menikah dan banyak menghabiskan waktu di kamar mandi setiap hari untuk nyuci baju, nyuci piring, nyikat keramik kamar mandi, dll saya mengalami hal yang tidak pernah saya alami sebelumnya. Sela-sela jari kaki saya terasa gatal, perih, dan mengelupas, terkadang sampai keluar darah. Setelah searching di google ternyata itu indikasi saya terjangkit kutu air. Saya mencari cara mengobatinya dan banyak mendapatkan referensi, ada yang alami dan ada yang menggunakan salep dari apotek. Saya mencoba cara alami dengan merendam kaki di air garam. Dulu waktu karate di SMA sensei sering merekomendasikan untuk merendam kaki di air hangat yang ditaburi garam untuk mencegah farises dan melancarkan peredaran darah. Tapi saya tidak pernah mencobanya saking lelahnya pulang karate langsung tiduran di kasur. Sekarang saya mencobanya untuk tujuan berbeda. Dan saya merasa nyaman setelah merendam kaki di air garam yang hangat. 3 hari saya melakukan terapi ini selama kurang lebih 15 menit sehari, kaki saya kembali nyaman dan tidak sakit lagi. Walaupun suami mengejek saya manja kayak putri aja meni pedi. Tapi saya tetap rutin merendam kaki saya selama 3 hari berturut-turut. Saya tidak mau merasakan perih saat harus beraktivitas tiap hari di kamar mandi. Setelah menikah saya jarang merawat diri, saking ngerasa ga sempet punya waktu buat diri sendiri mandi aja udah merupakan hal istimewa bagi saya. Saat Hawnan tidur terkadang saya nyuri-nyuri waktu buat mandi walaupun masih banyak kerjaan yang belum beres..

Tuesday, May 17, 2016

Never lose my self


Hanya ingin memperjelas identitas saya sebagai manusia di planet ini. Kekonsistenan yang tetap ada dalam diri seorang saya walaupun di luar terlihat perubahan. Mungkin ini topeng saya untuk berbaur dengan manusia planet ini. Setiap manusia harus punya identitas untuk bisa diakui sebagai manusia dan tidak dicurigai sebagai makhluk asing yang datang dari planet lain. Akta kelahiran, raport, ijazah, KTP, dan dokumen-dokumen lain sangat diperlukan untuk legalitas dan kemudahan hidup di planet ini. Hajimemashite.
Nama Lengkap: Sinta Legian Wulandari
Nama panggilan: Sinta, Swiquette, Swi (walaupun masih banyak panggilan lain tapi ini yang paling sering)
TTL: Bandung, 18 Juli 1991
Domisili: Planet Bumi
Golongan darah: Berubah-ubah (saat SD dicek B, SMP jadi A) Ibu saya A, ayah saya B, mungkin saya AB. Mungkin A, mungkin B. Entahlah. Tapi kemungkinan besar A, kenapa?
1. Karena waktu SD yang ngecek dari puskesmas, waktu SMP dari PMI, jadi kemungkinan hasil yang salah saat SD.
2. Karena waktu SMA dicek sama temen jurusan IPA (dulu saya anak bahasa) di lab IPA hasilnya A.
3. Karena masih ragu sama temen SMA yang ngecek, waktu kuliah maksa-maksa ke PMI yang lagi ada kegiatan donor darah di kampus buat pangecekin gol darah saya dan hasilnya A. (Saya maksa-maksa minta cek gol darah walaupun saya udah ditolak donor karena kurang berat badan)
4. Karena kepribadian saya cenderung pada kepribadian umum gol darah A. Saya ga terlalu percaya karena lebih pada pemikiran bahwa tiap individu itu unik dan berbeda dengan yang lainnya. Tapi pada kenyataannya saya memang cenderung perfeksionis, gampang stress kalau ada hal yang tidak sesuai keinginan, ingin sesuai aturan dan legalitas hukum yang berlaku, memasang tampang baik-baik saja padahal di dalem pikiran terjadi guncangan, badai, gelombang, tsunami, dll. Ya saya tidak bisa berhenti berpikir. Hal yang paling saya suka adalah berjalan kaki sambil memikirkan banyak hal. Memikirkan hal-hal yang tidak penting. Seperti keberadaan makhluk lain di luar tata surya yang tiba-tiba menginvasi bumi dan menculik saya yang sedang berjalan di galengan sawah hijau membentang. Lalu mereka membawa saya keluar dari galaksi bima sakti. Naon sih..  -_-" Ya mungkin ini yang menyebabkan saya tetep kurus. I can't stop thinking. Berpikir kan bisa mengurangi kalori dalam jumlah besar.
Warna favorite: Hijau
Sepatu favorite: Sneaker
Makanan favorite: Coklaaaaaat
Minuman favorite: Carrot juice
Hewan favorite: Laba-laba &.Tarantula
Tanaman favorite: Kaktus
Sayuran favorite: Buncis
Buah favorite: Anggur hijau (ga suka buah, tapi anggur kan kecil, paling cuman makan satu butir)
Daging favorite: Beefsteak buatan ibu enak banget
Ikan favorite: Ga ada (kecuali ikan yang dipressto atau ikan yang tulangnya gede baru suka)
Tempat favorite: Library
Kedai favorite: Jigoku ramen
Olah raga favorite: Karate
Aktivitas favorite: Reading, Drawing, Painting, Writing, Watching
Penulis favorite: Sir Arthur Conan Doyle & Dan Brown
Pelukis favorite: Van Gogh
Produser favorite: Mark Gatiss & Steven Moffat
Buku favorite: Sherlock Holmes
Alat musik favorite: Tin whistle, harmonica, upright piano (masih angan-angan)
Lagu favorite: Indonesia Raya (W.R. Supratman)
Permainan favorite: Catur
Mainan favorite: Cube & Yoyo
Pemandangan favorite: Sawah yang hijau dan langit malam yang penuh bintang
Kendaraan favorite: Pesawat ulang alik hahah. I like just walking on my foot actually..
Subject favorite: Bahasa & sains

Friday, May 13, 2016

Arti sebuah nama

Saya pernah menanyakannya pada ibu saat SMA. Waktu itu salah satu  guru di kelas menanyakan arti setiap nama siswa yang diabsennya di awal semester kelas XI. Saya ga pernah kepikiran sebelumnya kenapa orangtua saya memberikan nama Sinta Legian Wulandari. Ternyata menurut ibu awalnya ayah akan menamai Legian Wulandari saja karena saat saya lahir ayah baru pulang dari pulau Bali dan kagum dengan keindahan pantai Legian. Akhirnya ayah menamai anak pertama yang sudah dinanti selama dua tahun dengan nama pantai di Indonesia. Hahah. Jadi nanti dipanggilnya Egi cnah. Tapi obaa~chan menambahkan Sinta. Kata ibu itu bahasa Arabnya hari Kamis karena saya lahir pada hari tersebut. Saya mengkonfirmasi pada obaa~chan..
Obaa~chan: "Sanes bahasa Arab, tapi bahasa Sunda kuno.. Sin hartosna Kemis.. Tapi Sin naon.. Jadi weh Sinta.."
Oooooh...
Wulandari artinya bulan. Dari SD temen-temen suka plesetin Dari Bulan, alien kali. Wulandari bisa berarti bulan purnama, sinar rembulan, dan perasaan pada keadilan. Guru/dosen yang mengabsen pertama kali biasanya langsung nanya, "Dari Bali?" Saya dengan santai menjawab, "Iya, BAndung asLI." Wajar sih kalau yang pertama kali ketemu nyangka saya orang Bali. Nama saya kayak gitu sih. Tapi mereka suka heran dan ketawa kalau saya kepeleset berbicara bahasa Sunda. "Sin, asa aneh kalau kamu ngomong Sunda." Mulai SMP saya berkomunikasi dengan B.Indonesia. Tapi saya menggunakan B.Sunda dengan orang rumah dan teman-teman SD sampai sekarang. Waktu kuliah pernah ada temen yang mendorong untuk pakai B.Sunda aja saat saya keceplosan berbicara B.Sunda. Iya da dia orang Sunda. Tapi saya sadar lingkungan kampus saya heterogen. Tidak semua mengerti B.Sunda. Saya ingat pernah ada teman dari Kaimana protes saat berada di forum Sidang Umum mahasiswa. Dia merasa tidak dihargai saat ada orang yang berbicara B.Sunda karena dia tidak mengerti. Saat berada di kelas Bahasa saya mempelajari bahwa bahasa adalah alat komunikasi. Fungsi tersebut akan hilang saat kita berkomunikasi dengan orang yang tidak mengerti bahasa kita. Indonesia yang terdiri dari berbagai macam suku dan bahasa bisa berkomunikasi walaupun beda daerah dengan adanya bahasa nasional. Guru B.Inggris saya waktu SMA pernah protes saat saya chat dengan menggunakan B.Jepang. "Saya juga ga pake B.Inggris. Pake B.Indonesia aja." Dan saat saya nyaman pakai B.Indonesia dengan satu orang, sulit untuk menggunakan B.Sunda dengan orang itu. Begitupun saat saya sudah terbiasa menggunakan B.Sunda dengan satu orang, jadi aneh kalau saya harus bicara B.Indonesia pada orang itu. Terbiasa menggunakan suatu bahasa pada satu orang akan jadi sulit menggunakan bahasa lain pada orang itu bagi saya. Meskipun saya bisa menggunakan berbagai bahasa, tapi saya cenderung menggunakan satu bahasa untuk satu orang. B.Jepang paling saya gunakan pada orang yang mengerti, atau orang yang saya tidak ingin dia mengerti. Saya suka kode dan sandi rahasia, hanya saya saja yang tahu. Jadi saya juga punya bahasa untuk saya sendiri.

Sunday, May 1, 2016

Dibonceng?

Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka jangan sekali-kali dia bersendirian dengan seorang perempuan yang tidak bersama mahramnya, karena yang ketiganya ialah syaitan.” (Riwayat Ahmad)

Sahabat Ummi, saat ini kita sering berhadapan dengan dilema, bolehkah dibonceng motor oleh laki-laki non mahram? Termasuk tukang ojeg, tetangga, atau teman kantor? Berikut sedikit ulasannya.

Hadits no. 4849 dalam kitab Sahih Bukhari; dan hadits no. 2182 dalam kitab Sahih Muslim meriwayatkan tentang Asma binti Abu Bakar (saudari Aisyah dan ipar Nabi) yang pernah diajak naik unta bersama Nabi (boncengan bersama dalam satu kendaraan):

“Dari Asma bin Abu Bakar ... Suatu hari saya datang ke kebun Zubair (suami saya) dan memanggul benih di atas kepala saya. Di tengah jalan saya bertemu Rasulullah bersama sekolompok orang dari Sahabat Anshar. Lalu Nabi memanggilku dan menyuruh untanya (dengan mengatakan "ikh ... ikh") agar merunduk untuk membawaku di belakang Nabi.”

Dalam menganalisa hadits ini, Imam Nawawi dalam Syarh Muslim menyatakan XIV/166:

Hadits ini menunjukkan bolehnya berboncengan (antara lelaki dan perempuan bukan mahram) pada satu kendaraan apabila wanita itu seorang yang taat agamanya. Dalam soal hadits ini ada banyak pendapat ulama yang berbeda antara lain:

(a) adanya sifat belas kasih Nabi pada umat Islam baik laki-laki dan perempuan dan berusaha membantu sebisa mungkin ; (b) Pendapat lain menyatakan bolehnya membonceng perempuan yang bukan mahram apabila dia ditemukan di tengah jalan dalam keadaan kecapean. Apalagi kalau bersama sejumlah laki-laki lain yang saleh. Dalam konteks ini maka tidak diragukan kebolehannya.; (c) Menurut Qadhi Iyad bolehnya ini khusus untuk Nabi saja, tidak yang lain. (Karena) Nabi telah menyuruh kita agar laki-laki dan perempuan saling menjauhkan diri.

 Dan biasanya Nabi menjauhi para perempuan dengan tujuan supaya dikuti umatnya. Kasus ini adalah kasus khusus karena Asma adalah putri AbuBakar, saudari Aisyah alias ipar dan istri dari Zubair. Maka, seakan Asma itu seperti salah satu keluarganya. Adapun lelaki membonceng wanita mahram maka hukumnya boleh secara mutlak dalam segala kondisi.

Kesimpulan dari hadits dan tafsir tersebut adalah haramnya berboncengan antara laki-laki dan perempuan non mahram jika menimbulkan syahwat. Artinya, berboncengan diperbolehkan dengan syarat-syarat tertentu.

Syarat-syarat diperbolehkannya antara lain:

1. Tidak terjadi persinggungan badan

Jika Sahabat Ummi berada dalam kondisi harus naik ojek atau dibonceng seseorang yang bukan mahram, usahakan tidak terjadi persentuhan kulit, apalagi sampai memeluk pinggang pembonceng.

Taruhlah tas di tengah-tengah antara pembonceng dengan yang dibonceng. Dan berpeganganlah pada ujung motor, biasanya ada tempat pegangan sehingga kita tetap aman meskipun kecepatan motor agak tinggi.

2. Tidak terjadi khalwat (berdua-duaan di tempat sepi)

Upayakan tidak berboncengan di daerah yang sepi atau di malam hari. Lebih baik dibonceng oleh mahram kita, entah suami, ayah, atau saudara laki-laki kandung jika terjadinya di malam hari.

3. Tidak memiliki maksud buruk atau kecenderungan ke arah syahwat

Kalau kebetulan yang mengajak berboncengan adalah teman kantor, dan kita memiliki kecenderungan suka kepadanya, lebih baik jangan berboncengan dengannya, karena akan menimbulkan hal yang buruk, entah itu berupa penyakit hati, maupun hal lain yang tidak diinginkan.

Nemu di www.ummi-online.com.
Jadi inget kemarin-kemarin. Nyari pulpen buat anak-anak yang beres an-naba. Fotocopyan deket kontrakan tutup. Jadi saya nekat nyari ke fotocopyan di jalan raya, dan naek ojeg karena jaraknya yang lumayan jauh kalau harus jalan kaki. Kalau dulu sebelum nikah bisa aja saya jalan nyampe sana. Tapi sekarang sambil gendong hawnan, lebih mikirin kasihan ke anak. Sempet mikir buat nunggu angkot preman biar lebih murah. Tapi akhirnya milih ojeg karena kasihan ke anak kalau harus nunggu di tengah terik matahari. Jarang sih angkotnya. Ya, lumayan juga sih ongkos yang keluar 5.000, bulak balik jadi 10.000. Pas udah dapet pulpennya, saya harus jalan dulu cukup jauh ke pangkalan ojeg. Tiba-tiba saya ngeliat salah satu rekan pengurus pesantren pakai motor, langsung saya pura-pura ga liat. Khawatir ditawarin dibonceng (gr banget ya). Tapi saya akan lebih memilih keluar uang buat tukang ojeg daripada dibonceng sama teman atau kenalan yang beda gender. Saya selalu ingat kata-kata murabbiyah pertama saya waktu SMA. Lebih baik naik ojeg daripada nebeng ke temen ikhwan. Karena tidak ada yang  bisa menjamin hati kita akan menjadi seperti apa kalau nerima bantuan teman. Walaupun niat teman kita baik, tapi kita tidak bisa menjamin hati kita sendiri untuk tidak merasakan sesuatu. Mungkin yang nawarin biasa aja. Tapi kita harus bisa menjaga hati sendiri. Ya, saya sih setuju dengan pendapat itu. Kalau naik ojeg statusnya kayak ke hamba sahaya, saya bayar karena dia menjual jasa. Kalau ke temen ikhwan apa coba statusnya. Walaupun saya membayarnya (nganggap dia tukang ojeg) tapi tetep aja aneh. Ga akan tenang juga perasaan gimana kalau ada yang lihat saya dibonceng sama dia. Kalau hati mulai gelisah dan malu bila orang melihat saat saya melakukan suatu hal, berarti ada satu kepastian: Hal yang saya lakukan adalah dosa. Hati ga akan bisa bohong. Sudah ada filternya mana yang dosa mana yang tidak. Kegelisahan dan ketenangan merupakan perbedaan yang jelas yang bisa dirasakan oleh hati. Saat hati tidak bisa memfilter bahkan merasa tenang dan senang ketika melakukan dosa, maka telah rusaklah hati. Semoga hati saya akan tetap menjalankan fungsinya dengan baik. Semoga idealisme saya yang satu ini tetap ada, meski dalam keadaan darurat. Kalau ga ada ojeg atau angkot, jalan aja! Saya kan masih punya kaki. Haha. Daripada harus merasa berhutang budi sama teman yang bukan mahram. Tapi yang saya rasakan Allah akan memudahkan keteguhan prinsip kita saat kita sungguh-sungguh menjaganya. Ya walaupun temen-temen ada juga yang tersinggung dan menghujat idealisme saya yang satu ini. Inget waktu kuliah teman laki-laki yang marah-marah karena saya tolak tawarannya buat dibonceng dari kampua nyampe jalan raya.
Temen: "Kamu mah kemarin gitu amat meni ga mau dianterin."
Saya: (diem)
Temen: "Ga baik tau, menolak kebaikan orang yang udah niat buat bantuin.."
Saya: "Oh."
Temen: "Kamu mah dibonceng sama tukang ojeg mau, ari sama temen sendiri ga mau."
Saya: (Mulai annoying nih orang)
Temen: "Jawab atuh. Kamu teh punya mulut kan?"
Saya: "Cerewet!! Suka-suka saya mau jalan kaki 10 kilo juga ga ada yang berhak ngelarang!"
Temen: (Kabur)
Andaikan mereka tahu kalau saya menganggap mereka teman bukan tukang ojeg..
Andaikan mereka tahu kalau saya menganggap mereka laki-laki bukan banci..
Mereka pasti ga akan marah-marah.. Saya juga memaklumi kalau mereka amah.. Bagaimanapun juga belum tentu saya lebih baik dari mereka. Mungkin saja dalam pandangan-Mu mereka lebih mulia dari saya. Mungkin saja dalam pandangan-Mu saya lebih hina dari mereka. Tapi saya menolak tawaran mereka karena saya sayang pada mereka yang sudah saya anggap sebagai teman. Untuk menjaga hati mereka.. Terutama untuk menjaga hati saya..
Tapi saya pernah dibuat heran oleh teman kelompok KKN saya. Dia satu-satunya laki-laki di kelompok kami. Saat itu ada acara di kecamatan. Tiap anggota kelompok harus datang. Jarak kecamatan dari desa kami cukup jauh. Baiklah, jauuuuuuuuuuh bangetngetnget... Tidak ada kendaraan umum atau pun ojeg dari posko kami ke jalan raya. Entah berapa kilo jauhnya saya lupa. Tapi ya jauh lah ya.. Saat itu prinsip saya ini bergesekan dengan anggota kelompok lainnya. Mereka ingin sampai tanpa kelelahan. Jadi strateginya dengan motor yang hanya satu, teman saya yang laki-laki mengantarkan tiap anggota perempuan ke kecamatan, bolak balik. Tapi teman saya yang merupakan satu-satunya laki-laki di kelompok kami terlihat khawatir saat memandang saya, dia teman sekelas, jadi tahu gimana saya ga pernah mau dibonceng sama laki-laki.
Temen: "Sin kamu gimana? Gapapa gitu?"
Saya: (Diem)
Temen: "Sama kamu aja atuh sinta mah diboncengnya.. " (Ngeliat temen saya yang perempuan yang bisa mengendarai motor.)
Temen2: Saya kan ga punya SIM. (Dia temen sekelas juga jadi tahu kalau saya suka ga mau dibonceng sama orang yang ga punya SIM juga walaupun gendernya sama kayak saya.)
Temen: "Tapi sinta pasti bakalan lebih milih dibonceng sama kamu daripada sama saya."
(Masuk akal. Dia seperti bisa membaca pikiran saya. Kalau keadaan terdesak seperti itu saya akan lebih tenang dibonceng sama perempuan walaupun ga punya SIM daripada sama laki-laki walaupun punya SIM. Tapi yang lebih membuat saya tenang..)
Saya: "Saya mau jalan kaki aja ntar naik angkot. "
Temen: "Jauh tau. Dan jam segini angkot jarang."
Saya: "Gpp."
Temen2: "Kamu segitu suka nyasar, malah mau jalan kaki sejauh itu."
Temen3: "Iya, kumaha mun aya nu nyulik? "
Saya: -_-" "Emangnya siapa yang mau nyulik saya? "
Temen3: "Alien. Ntar dibawa am Mars. "
Saya: "Mau banget."
Temen4: "Udah atuh sin, gapapa sekali mah dibonceng sama laki-laki, lagian dia kan ketua kita yang harus mengayomi dan memastikan keselamatan anggotanya. "
Saya: "Saya jalan kaki aja. "
Mereka: -_-"
Temen: "Ada yang mau nemenin sinta jalan kaki?"
Temen3: "Ya udah saya jalan juga."
Temen2: "Saya juga jalan aja.."
Temen4: "Saya juga.. "
Temen5: "Saya juga deh.. "
Temen: "Wah jadinya mau pada jalan kaki? Motor gimana? "
Temen2: "Sama kamu aja bawa, bisi ada apa-apa. "
Dan akhirnya saya jalan kaki bersama teman-teman..
Di jalan..
Saya: "Padahal kalian ga usah ikutan jalan.. Kan cape.. "
Temen2: "Emang.. "
Temen3: "Gapapa atuh sin, kita kan temen."
Temen4: "Kita kan harus ngelindungi kamu. Kamu tea, teralihkan sedikit langsung nyasar, liat laba-laba lucu dikit langsung diikutin meski ka leuweung. "
Saya: -_-"
Tapi asli terharu banget sama temen-temen KKN, saya ngerasa dihargai sebagai teman sebagai perempuan sebagai manusia.. Hiks.. :')
Setelah sampai jalan raya kami tidak menemukan angkot dan terus berjalan ke arah kecamatan.. Bener-bener kerasa, sore-sore jalan kaki sejauh itu di bulan ramadhan.. Tiba-tiba ada mobil polisi melintas dan berhenti saat melihat jaket KKN dan logo UPI yang kami kenakan..
Pak polisi: "Mau pada kemana neng?"
Kami: "Kecamatan pak."
Pak polisi: "Hayu atuh. Bapa juga mau ke sana. Bisi kaburu maghrib. Kecamatan kan masih jauh. "
Yeeeeeeeeee... Alhamdulillah... Dikasih tumpangan sama pak polisi yang baik hati. Walaupun rasanya aneh naik mobil polisi kayak tahanan, tapi kami lega tidak perlu berjalan lagi. Setelah sampai di sana buka puasanya kerasa nikmat banget da cape pisan. Semua kelompok dari tiap desa di kecamatan itu hadir. Kami bisa bertemu dan bercengkrama dengan teman-teman dari posko lain. Karena angkatan 2009 hanya terdiri dari 3 kelas dan kami sudah sering berinteraksi di kampus saat berorganisasi jadi bisa deket walaupun berbeda kelompok, kelas, atau perbedaan lainnya. Banyak kegiatan wajib yang harus kami ikuti dari saat tingkat 1, otomatis karena hanya 120an mahasiswa jadi saling kenal walaupun beda kelas. Jadi kangen temen-temen KKN..

Tuesday, April 26, 2016

Aniv

Tadi pagi seusai shalat shubuh Akang berbaring di pangkuan saya sambil melihat kalender.
Akang: Kita nikah teh udah berapa tahun?
Saya: Dua..
Akang: Kita nikah hari apa?
Saya: Sabtu..
Akang: Tanggal berapa?
Saya: Hmmm.. 20..
Akang: Udah kelewat dong. Padahal tadinya mau beli sate buat ngerayain..
Saya: -_-"
Sebenarnya saya cuman pura-pura ga inget tanggalnya. Saya juga ngeh ko sekarang tanggal 26.. Cuman pengen tau aja reaksinya gimana. Hihihi..
Udah 2 tahun.. Ga kerasa kami udah melewati waktu 2 tahun bersama.. Hidup bersama menjalani waktu yang tidak ditentukan sampai kapan.. Tapi saya berharap semoga kami bisa tetap bersama sehidup sesurga.. Walaupun kematian menjemput dan memisahkan, semoga kami bisa bersama kembali di jannah-Nya. Dia pernah nanya, "Sin, nanti kalau kamu udah di surga, kamu bakal nyari saya ga?"
"Hah? Kenapa gitu? "
"Ya kan ntar mah kalau di surga udah ada bidadara yang ganteng-ganteng?"
"Oh.."
"Jadi bakal nyariin saya ga?"
"Hmmm..."
" -_-" "
Geli juga ngedenger pertanyaannya. Saya ga mau gr dulu jadi penghuni surga. Tapi saya berharap semoga saya tetap berpegang teguh pada dien ini. Saya takut juga Allah mencabut nikmat iman Islam saya. Nau'zubillah.. Semoga Allah tetap menyayangi saya dengan mengistiqamahkan saya sebagai seorang muslim.. Kalau saya bisa beruntung punya tempat di surga-Nya kelak tentu saja saya ingin bisa bersama suami saya lagi. Kalaupun tidak bisa, saya tinggal minta bidadaranya jadi mirip mukanya kayak suami saya.. Hihi..
Ya waktu tidak terasa bergulir dengan cepat. Asa baru kemarin dia mengikrarkan ijab qabul untuk menjadi suami saya. Dengan mahar 8 gram emas yang sekarang melingkar di jari saya, kami akhirnya sah menjadi sepasang suami istri. Mahar yang punya nilai historis baginya dan membuat saya merasa berharga dapat memakainya. Dia membeli cincin ini semasa kuliah dulu saat mendapatkan gaji di awal masa kerjanya sebagai guru bimbel. Saat itu dia sudah berniat untuk menjadikannya mahar kalau suatu saat menikah walaupun belum fix ada calon istrinya. Saya suka designnya, emas putih yang dililit emas kuning dengan hiasan bulan sabit dan satu mata cincin di tengahnya. Waktu beli dia pakai jari sendiri untuk ngukur, pas saya pakai jadinya longgar. Dia menawarkan untuk membelikan yang baru yang lebih pas di jari saya. Tapi saya tidak mau, saya suka dengan nilai historisnya dan saya ingat cerita seorang rekan kerja waktu di sekolah alam. Dia waktu itu bilang mau menukarkan cincin kawinnya karena sudah tidak muat lagi di jarinya. Seiring berjalannya waktu jarinya jadi mengembang, lingkar cincinnya jadi terasa menyempit dan sakit. Sayang sekali kan cincin kawinnya kalau harus ditukar yang baru. Dan ternyata dugaan saya betul, saat hamil cincinnya jadi pas di jari. Hehe. Sekarang sih sudah agak longgar lagi, tapi yang penting saya ingin tetap memakainya. Dia ingin saya tetap memakainya. Pernah dulu karena takut lepas saya pasang cincinnya di kalung saya. Dia protes karena dia ingin orang lain melihat cincin itu tersemat di jari saya. Dia melilitkan solatip pada cincinnya agar pas dengan jari saya. Hihihi. Bodor lah. Tapi sekarang udah ga dililit solatip lagi. Saat hamil solatipnya dilepas dan sekarang meskipun jari saya sudah kembali ke ukuran semula cincinnya masih saya pakai. Tidak khawatir lepas karena tertahan oleh satu cincin di atasnya yang pas. 3 gram cincin yang ditambahkan mertua saya untuk mahar. Saya juga suka yang ini. Bentuk yang bergelombang dan terdapat patahan di tengahnya dengan masing-masing satu mata cincin di tiap ujung patahannya. Design ini memungkinkan cincinnya mengikuti perubahan jari, jadi walaupun jari makin mengembang, tidak perlu diganti. Waktu itu dia bertanya apakah ada hal lain yang saya inginkan untuk mahar. Saya bilang, "Ga ada, kan udah ada cincin 5 gram tea."
"Ditambahin sama mamah cincin 3 gram lagi ko. Tapi bisi ada yang kamu pengen lagi, bilang aja."
"Udah aja cukup."
Saya seneng jadinya 8 gram. Padahal saya ga minta dan belum pernah kasih tau mereka kalau saya suka angka 8. Ya, hal-hal yang saya suka menyangkut angka 8. 8 Kaki laba-laba. 8x8 petak papan catur. 8 arah mata angin pada kompas. 8 tuts pada satu oktaf (8ve). 8 planet dalam tata surya (pluto ga dianggap). Hihihihi. Saya suka makna filosofisnya. 8 = ∞
Angka 8 kalau diputar 90°, akan menjadi lambang infinity. Ada apa dengan lambang infinity?
Menurut kamus:
Infinity (noun) :
1. time without end
2. Unlimited extent of time, space, or quantity; eternity; boundlessness; immensity
Infinity yang mempunyai arti tak terhingga atau tak terbatas yang dilambangkan melalui bentuknya yang tanpa awal dan tanpa akhir.
Oh iya, di dalem cincinnya juga terukir angka 8 (sebenarnya angka 18, tapi kan tetep aja ada angka 8nya. Keukeuh. Hahah. Ya biarin 18 juga, that's my birthday.)