Wednesday, March 30, 2016

Lidah tak bertulang, gigit aja biar tertahan

Sebagai seorang perempuan yang fitrahnya adalah suka mengungkapkan segala hal dalam pikirannya meskipun hal yang tidak penting sekalipun, berbicara adalah sebuah kebutuhan. Dan godaan yang paling sulit untuk dihindari adalah membicarakan orang lain. Ya, gosip adalah suatu perbuatan yang seringkali dilakukan oleh kaum ibu-ibu (ga cuman ibu-ibu sih, gadis-gadis juga, bapak-bapak, dan bujang-bujang oge termasuk) sering melakukannya disadari ataupun tidak. Baru-baru ini saya membaca sebuah artikel yang berisi hadits-hadits mengenai ghibah atau gosip. Ya sebenarnya bukan hal baru. Saya sering mendapatkan madah mengenai afatullisan. Saya dan semua orang juga kayaknya tau gosip itu dosa. Cuman saya kaget saat membaca salah satu hadits yang menyatakan dosa ghibah itu lebih besar daripada dosa zina!!! What the??!!  Ya kaget aja zina yang termasuk dosa besar yang hukuman di dunianya dicambuk atau dirajam sampai mati kalah sama dosa ghibah? Masa iya? Astaghfirullah...  Sya mencoba menghindari ghibah dengan tidak terlalu banyak ngobrol bareng ibu-ibu sekitar, godaannya gede kalau sudah berkumpul ngobrol sama ibu-ibu, meskipun tetep aja ada dikit-dikit pembicaraan mereka yang membuat saya jadi konsumen informasi yang tidak penting bagi saya. Otomatis saya jadi pelaku ghibah meski cuman sebagai pendengar. Dulu saya pernah bertanya pada murabbi tamu saat membahas madah tentang ghibah. Beliau menyarankan untuk pergi saja dari majelis ghibah itu, karena walaupun kita cuman mendengar, kita tetep dapet dosanya. Tapi asa ga sopan secara etika mah ada orang yang sedang berbicara pada kita, kitanya langsung pergi.. Tapi itu menunjukkan ketidaksukaan kita pada perbuatan itu. Kalau kita belum mampu mencegah dengan lisan kita perbuatan itu setidaknya kita menunjukkan ketidaksukaan kita dengan menghindarinya. Tapi angger weh ghibah sudah merajalela. Di setiap stasiun televisi ada aja program yang menyuguhkan dosa ghibah. Meskipun ga niat nonton, kalau remote tv ga dipencet buat dipindahin acara gosip pasti ngelewat. Mending matiin tv aja deh. Jadi inget kisah Hasan bin Hannan di Tarbiyah Ruhiyah Abdullah Nashih Ulwan. Hasan pernah melewati sebuah rumah yang selesai dibangun. Beliau berkata, "Kapan rumah ini dibangun?". Kemudian beliau menegur dirinya sendiri,  "Kenapa kau tanyakan sesuatu yang tidak berguna untuk dirimu?! Akan kujatuhkan sanksi dengan puasa setahun!". Dan beliau pun berpuasa satu tahun sebagai sanksi atas campur tangan dalam sesuatu yang tidak berguna baginya..
Jadi inget juga suami pernah bilang ghibah boleh, bukannya kita sering ngeghibahin fir'aun, abu lahab, abu jahal, dll? Itu mereka kan orang, kita nyeritain kejelekan mereka kan? Haha iya sih.. Tapi sekarang saya baru memahami maksud ghibah yang dibolehkan, ghibah untuk dijadikan pelajaran hidup, lagian kisah-kisah itu kan dari qur'an, jadi kita menyebarkan pembelajaran kisah dari al-qur'an. Terus ghibah untuk kezhaliman orang lain di pengadilan juga boleh kan, untuk menyelesaikan permasalahan agar hakim dapat membuat keputusan berdasarkan kesaksian yang didalamnya ada keharusan mengungkapkan kejelekan orang lain. Tapi itu kan ada manfaatnya, untuk menyelesaikan suatu perkara. Bukan ghibah untuk kesenangan dan hobi sehari-hari. Saya pernah bingung saat ada teman yang menanyakan sifat buruk seorang ikhwan untuk kepentingan ta'aruf. Saat seseorang akan menikah kita harus tau sifat baik dan buruk calon pasangan. Dan caranya adalah dengan bertanya kepada teman dekatnya atau orang yang pernah atau sering berinteraksi dengan calon pasangan. Tiap orang pasti punya kelebihan dan kekurangan. Ada banyak kejadian pasangan yang bercerai karena tidak bisa menerima kekurangan istri/suaminya. Ada istri yang tidak tahan dengan suara dengkuran suaminya dan tiap malam dia jadi tidak bisa tidur nyenyak akhirnya bercerai. Cuman karena itu. Tapi kekurangan yang tidak bisa diterima walaupun itu hal sepele dampaknya besar. Dulu saya sempat bingung saat mencari tahu sifat calon suami saya. Orang yang pacaran bertahun-tahun aja belum tahu pasti tentang sifat asli pasangannya, karena yang ditampakkan saat pacaran hanyalah kepura-puraan, setelah menikah barulah keluar sifat aslinya. Apalagi saya yang ketemunya cuman bisa dihitung jari. Waktu saya coba nanya tentang sifat buruk calon suami saya ke salah satu teman dekatnya dia tidak mau memberi informasi. "Nggak ah, takut dia marah."
Dulu saya merasa dia tidak memberikan informasi pada saya. Tapi sekarang saya sadar dia memberikan informasi yang valid lewat jawabannya itu. Setelah menikah barulah kerasa. Haha. -_-"
Ya tiap manusia punya kelebihan dan kekurangan. Tidak hanya satu, pasti banyak kelebihan dan banyak kekurangan. Tidak terkecuali saya. Karena itu saya ingin selalu membersamainya dalam setiap kelebihan dan kekurangannya seperti dia yang selalu membersamai saya dalam tiap kelebihan dan kekurangan saya.

Friday, March 25, 2016

Program diet

Saya: Akang mau makan lagi?
Akang: Hmmm, pangnyeduhin STMJ aja deh.
Saya: Ga akan makan?
Akang: Laper sih, tapi... (keukeuh program diet sehari dua kali aja makannya)
Saya: Saya mah mau makan, kalau mau sekalian saya alasin.
Akang: STMJ aja deh. (Megang pipi sama perut yg masih pengen dikempesin)
Saya: Ya udah kalau ga mau.
Akang: (Nyeruput STMJ anget sambil ngeliatin saya makan)
Saya: Mau?
Akang: (Pandangan memelas dan kabita)
Ujung-ujungnya calangap minta disuapin. Setelah disuapin 1 sendok...
Saya: Saya alasin ya?
Akang: Ga usah, suapin aja..
Akhirnya program diet Akang kembali gagal. Jadinya tetep 3x sehari. Hihihi..

Wednesday, March 23, 2016

Niqab oh niqab

Di awal tahun ini Akang membelikan saya satu set gamis, khimar, plus niqab. Dari tahun kemarin dia udah bujuk-bujuk saya buat mau pakai. Saya sih bilang kalau emang Akang pengen muka saya ditutup tinggal pake masker aja kali, saya punya masker hijau beludru yang ada muka kucingnya, lucu deh. Dulu kalau lagi flu saya suka pake masker itu biar pas ngajar ga nularin anak-anak. Tapi dia keukeuh pengennya saya pake niqab. Dia bilang ga rela kalau laki-laki lain ngeliat dan nikmatin wajah saya. Asa lebay banget deh. Tapi dia berterus terang kalau laki-laki normal ngeliat wajah perempuan yang cantik tuh pikirannya langsung ke hal-hal yang jorok. Hyaks. Tapi saya pikir ga semua gitu deh. Dia bilang emang ga semua, tapi cuman laki-laki yang "normal" aja. Haaaah, berarti Akang kalau ngeliat wajah perempuan di jalan juga gitu? Dengan tiisnya dia jawab, "Iya, kamu harus bersyukur punya suami yang termasuk laki-laki normal." Zzzzzzzzzzz... -_-"
Dan dia nambahin, "Saya mau ga mau nikmatin wajah perempuan-perempuan di luar sana da merekanya yang nunjukin sendiri. Kalau saya terus-terusan nunduk ke bawah bisi tidagor. Tapi kalau istri sendiri yang dinikmatin orang, saya mah ga rela." Speechless da, pikakeuheuleun pisan, tapi ya seneng juga dia berniat melindungi saya dari pandangan laki-laki normal lain. Ya udah saya mau dibeliin tapi yang warna ijo. Eeeeeh, dia keukeuh pengen yang item. Halah. Intinya dia pengen difoto sama saya pake niqab buat dijadiin pp. Mulai saat itu saya ga boleh pasang pp atau upload foto yang ngeliatin muka saya. Kalau ke luar rumah mah ga usah pake niqabnya juga gpp cnah. Haaaar. Ya mengingat masyarakat Indonesia yang masih "begini" bisi jadi malah membahayakan meureun. Bisi ditewak densus 88. Hahahah. Saya jadi tambah males buat ke luar rumah, tapi pake niqab juga masih risih dan ribet. Ya cuman keren-kerenan aja sih buat saya mah. Tapi sebenarnya meski ga pake niqab dan cuman pake gamis+kerudung itemnya, saya merasa orang-orang lebih memperhatikan saya daripada pake pakaian saya yang biasa. Biasanya saya pake khimar yang nutupin dada aja ga nyampe bawah banget, terus ga item-item semua.  Jadi saya pake baju itu cuman kalau bareng Akang aja, biar nyenengin Akang. Makin nyadar masyarakat sepertinya masih terjangkiti islamphobia. Islam seperti sesuatu yang asing. Saya sih sebenarnya biasa aja, cuman mungkin karena di Indonesia pakaian itu identik dengan salafy jadi rada risih. Saya tidak membenci mereka, mereka saudara seperti NU, Muhammadiyah, Persis, atau apapun yang syahadatnya masih sama, berarti masih muslim dan saudara. Cuman beberapa oknum salafy yang suka menghujat dan membully pemikiran ideologi kami sehingga terkadang hati kami jadi sempit atas perkataan mereka saat berjuang dalam pergerakan kami menuju khilafah islamiyah. Padahal tujuan kami dan mereka sama, tapi mungkin cara menuju tujuan itu yang berbeda. Saya ingin kami dan mereka berubah menjadi kita. Saya sadar tidak semua seperti itu, ya hanya beberapa oknum. Pemikiran Akang yang lebih cenderung pada salafy sering membuat saya terdiam. Saya tidak mau menanggapi perkataannya, khawatir meruncing pada perdebatan yang menyakitkan untuk kedua belah pihak. Dia tidak pernah mau membaca buku-buku saya. Tapi pas saya beli Majmu'aturrasail dia kayak penasaran dan buka-buka buku itu. "Tumben, mau baca buku saya." Saya cekikikan.
"Biar ga taklid." jawabnya dingin.
Saya kepikiran kalau ntar pemilu, ke TPS pake gamis item+niqab terus difoto sambil ngeliatin kelingking yang sudah terlumuri tinta. Hihihi. Keren kayaknya. Keren dong kalau orang-orang sesholeh para salafy duduk diparlemen. Saat kekuasaan ada dalam genggaman orang-orang yang shalih rakyat akan punya harapan yang lebih baik. Kalau setiap negara dipimpin oleh orang- orang yang shalih maka seluruh dunia akan terciprat keberkahan dan akhirnya terbentuklah khilafah islamiyah. Karena itu orang-orang di parlemen tidak hanya butuh kritik dan demonstrasi dari rakyat, tapi juga butuh dakwah dari dalam. Saat ini saya hanya bisa mendo'akan teman-teman ikhwanul muslimin bisa terus berjuang menggenggam kekuasaan dan mengislamkan negeri dan dunia ini, bukan hanya dengan hati, bukan hanya dengan lisan, Tapi juga dengan tangan (kekuasaan).

Wednesday, March 16, 2016

To complete each other

Waktu FLS2N Akang minta saya gambarin semut. Ceritanya Akang yang buat. Cerita waktu jaman kuliah pas dia ikutan TCA. Sekarang diwariskan ke anak muridnya. Kalau dulu pake B.Inggris, sekarang ditranslate ke B.Indonesia dan B.Sunda. Cuman karena saya punya dendam pribadi terhadap semut, jadi saya berimajinasi menggambar alien.Hihi. Hewan-hewan lainnya asa gj, tapi itulah gambaran di otak saya. Peternakannya mah searching di google, masih belajar untuk latar tempat mah. Saya jadi kepikiran buat buku cerita bergambar. Akang yang buat ceritanya, saya jadi ilustratornya. Akang emang jago bikin cerita, dan lemah dalam menggambar. Saya cukup kaget pas pertama kali tau, soalnya judul skripsinya tentang Listen and Draw. Tapi jadinya complete each other sama saya. Cerita anak khusus buat Hawnan. Bisa ga ya.. Hehehe..






Thursday, March 10, 2016

Borrow --> Buy

Saya mulai punya kebiasaan baru.. Membeli buku.. Ya, dulu sebelum nikah saya anti beli buku. Buat apa? Saya udah punya ribuan buku yang bisa saya baca. Di perpustakaan daerah. Sejak saya kecil ibu rajin membawa saya ke perpustakaan daerah Jabar. Saya juga sudah menjadi anggota dari sejak SD. Minimal dua minggu sekali saya berkunjung, membaca, dan meminjam/mengembalikan. Semua jenis buku ada di sana. Saya tinggal memilih buku mana yang akan saya baca di sana, dan buku mana yang akan saya pinjam me rumah. Kalau tidak ada agenda lain, saya akan diam di sana sampai perpustakaannya tutup. Sungguh menyenangkan menghabiskan waktu bersama buku-buku yang seru. Dalam diam, bola mata saya bergerak mengikuti alunan tiap kalimat dan paragraf. Dalam hening, pikiran saya menjelajah dalamnya isi tulisan. Sangat mengasyikan. Tidak peduli dengan omongan orang tentang autisme berlebihan atau sebutan kutu buku. Saya tau kalau saya adalah manusia. Manusia yang cepat bosan dan ingin selalu menjelajah. Tapi saat buku ada di tangan saya, kaki saya tidak perlu bergerak. Saya bisa diam di satu tempat tanpa merasa bosan dengan buku yang saya baca. Buku yang "benar-benar" ingin saya baca, karena tidak semua buku menarik perhatian saya.
Ya itu dulu.. Setelah menikah akses saya untuk mendapatkan pengetahuan dari buku secara gratis mulai menyempit. Waktu garap skripsi saya masih bisa berkunjung ke  perpustakaan. Tapi saat domisili berubah, ke perpustakaan juga jadi susah. Apalagi sekarang, jauh di perantauan dan rumah adalah utamanya kewajiban.. Tapi saat bulan-bulan kemarin dapat rizki tak terduga dari keluarga dan saya pisahkan dari uang belanja, ditabung dan akhirnya bisa beli buku-buku yang tidak perlu khawatir denda karena tak perlu dikembalikan. Beli empat, satu dijadikan kado pernikahan teman, satu dijadikan kado ulang tahun adik tersayang, dua lagi dijadikan santapan saya saat mengalami kejenuhan. Bulan ini juga alhamdulillah dapat gaji ngajar SMP, ngegantiin guru yang lagi nifas. Langsung saya pesen buku. Ga perlu CODan, tinggal nunggu kurirnya datang mengantarkan. Walaupun suami rada protes, tapi ga ngelarang karena uangnya bukan uang belanja. Ya tadinya gaji itu mau saya beliin tarantula, tapi itu mah masih belum diizinkan. Ya sudah, beli buku aja, lumayan untuk menghilangkan kebosanan. Tralalalalala...

Wednesday, March 2, 2016

Doubutsu no ichiban suki desuka

Kumo.
Wah, keren.. Satu-satunya master perempuan dari Bandung masuk media online newspaper dan tv juga. Saya sebut master karena koleksinya udah ribuan dan saya dulu beli sling tarantula, pakannya, serta tau cara keep yang benar dari dia.. Waktu itu saya cari keeper perempuan biar ga kagok fngobrolnya, terus kebeneran banget dia tinggal di Bandung, jadi bisa CODan langsung ke rumahnya. Saat masuk ke rumahnya tampak biasa saja, banyak hal-hal bercorak Chinese karena dia memang keturunan Chinese lah udah jelas dari namanya juga. Tapi saat masuk lebih dalam saya baru ngeh,arsitekturnya keren,  seperti berjalan di dalam labirin-labirin misterius, dengan berbagai ruangan dan tumpukan serta gulungan kain-kain, sepertinya usaha keluarganya. Lalu saya diajak menaiki tangga ke atas, tangga yang juga unik karena tidak satu arah tapi membelok. Saat di atas saya tidak bisa menahan kekaguman pemandangan yang saya lihat.. Setidaknya saya bisa menahan diri untuk tidak berteriak dan loncat-loncat dan menari berputar saking bahagianya.. Benar-benar seperti di surga... Surga bagi para pecinta tarantula.. Saya seperti melayang-layang di antariksa tanpa gravitasi saat dia menunjukkan dan menjelaskan koleksi-koleksinya pada saya. Saya tidak bisa mengingat setiap nama species yang diperkenalkannya. Tapi saya berusaha menyimpan kata-katanya tentang tarantula serta cara keep yang baik dan benar. Dia bertanya kapan saya mulai tertarik dengan tarantula dan terkejut saat saya bilang dari sejak SMP.
"Hah? Kenapa baru sekarang mau keepnya?"
Saya bilang "Karena dari dulu tidak pernah diizinkan ortu."
Dia nanya lagi, "Emang sekarang udah dapet izin?"
"Belum" saya jawab sambil tersenyum.
"Nah, lho gimana dong? Ntar kasian ke tartulnya kalau sampai digimana-gimanain ortu."
Saya cuman tersenyum.
"Eh mau megang tarantula ga?"
Saya terbengong-bengong.. "Bolehkah"
"Berani ga?"
"Mau teh, mau, mau.."
Lalu dia mengeluarkan salah satu tarantula dari enclosurenya..
Waaw, it's big... It's green!!!
How beautiful...
Dia menunjukan cara handlingnya dan mewanti-wanti jangan sampai tarantulanya jatuh karena bisa merusak organ dalamnya..
Dan itulah pertama kalinya saya handling tarantula.. Bulu-bulu dikakinya begitu halus, saat saya megusap-usapnya dengan perlahan dia bergerak-gerak di lengan saya.. Katanya itu male, dan sekarang saya baru ingat kalau itu Poechilotheria rufilata. Hari itu saya sudah bilang cuman mau tanya-tanya dulu. Tadinya mau beli Gramastola rosea atau Brachipelma smithi, tapi stok slingnya lagi kosong. Cuman ada Heteroscodra maculata dan Stromatopelna calceatum. Tapi itu kecampur waktu shipping ga tau waktu nyampenya, saya lupa. Setelah sampai di rumah saya terus memikirkan keinginan buat keep tarantula. Ya, dari dulu saya tidak pernah bosan meminta izin, walaupun jawabannya selalu tidak. Tapi untuk kali ini saya berani untuk mencari buyernya langsung. Saat itu adalah saat-saat penggarapan skripsi saya yang mandeg. Saat itu adalah saat-saat dimana seseorang mengajak saya menikah.. Dia bilang binatang yang paling membuatnya geli dan illfeel adalah tikus dan laba-laba. Waktu itu saya berpikir bagaimana mungkin dia mau menikahi saya yang seorang spider lover? Jadi tadinya cuman mau ngetes aja, saat saya bilang sudah bertemu dengan keeper dan buyernya, dan saya berniat beli dan memeliharanya, dia tampak kaget, dari tulisan smsnya.
"Wah beneran mau beli? Seriusan itu teh?"
Tapi ujung-ujungnya dia bilang,
"Ya, udah beli aja dua, ntar yang satu lagi sama saya digantiin uangnya.. Biar belajar melihara juga. "
Saya bingung kenapa saya harus beli dua, emang dia berani melihara yang satunya lagi. Ternyata maksudnya saya yang pelihara, tapi yang satu jantan yang satu betina biar sepasang. Dia emang suka melihara binatang, kenari, kucing, ikan, dll. Dan katanya kasian kalau cuman satu mah ga ada temennya dan ga bisa kawin. Tapi dia belum pernah melihara tarantula dan ga tau kalau beli yang sling itu kita ga bisa tau sexnya apa, bisa aja itu teh female dua-duanya, atau male dua-duanya, sexnya baru bisa diliat kalau udah gede. Dan breedingnya juga ribet, hanya master-master yang udah ahli banget yang berani ngawinin tarantula, dan itu akan berakhir dengan kematian male yang menyedihkan. Setelah kawin femalenya akan langsung membunuh si male.. Telur-telur yang bisa mencapai ratusan itu harus rela menetas sebagai yatim.
Akhirnya setelah menerima gaji bulan itu saya kembali ke rumah keeper dan membeli dua ekor sling tarantula. Entah itu Heteroscodra maculata atau Stromatopelma calceatum. Saya juga membeli berbagai perlengkapan keeper. Yah, gaji saya dipakai buat hobi baru ini. Biasanya gaji saya berikan ke ibu, dan ibu saya tentu sangat terkejut dengan kehadiran dua bayi tarantula di kamar saya. Inget lah, pundungnya nyampe seminggueun. Walaupun ternyata ibu, ayah, dan adik suka kepo dan ngeliatin toples-toples kecil itu. Adik saya sering ngoceh, "Piceun weh bu, piceun ih, piceun."
Tapi saya bilang dengan tiis, "Lebar atuh, hijina kan 125rb."
Ibu saya makin ngomel, "Balikeun deui ih."
Saya jawab "Barang yang sudah dibeli tidak dapat dikembalikan."
Hihi, mereka murka, tapi penasaran terus, pengen liat.
Yang aneh mah reaksinya pas tau ibu marah, dia bilang "Jangan kasih tau ibu, saya yang nyuruh beli ya, bisi disangka memberikan pengaruh buruk sama kamu. Ntar saya gantiin uangnya yang satu ekor."
Ya bertahun-tahun saya yang nurut ga melihara tarantula sekarang jadi membangkang nekad beli, mungkin itu maksudnya. Tapi saya ga mau terima uangnya da khawatir akan nasib tarantula yang akan dia punyai, lebih baik dua-duanya saya aja yang punya, risih juga kan seorang yang geli laba-laba punya peliharaan tarantula. Apalagi pas dia sms, "Saya udah searching tentang tarantula, ternyata serem juga ya kalau gede, kayak tikus." Saya ga bisa bayangin orang yang serem sama tarantula, melihara tarantula.
Setelah menikah ternyata dia mengizinkan saya buat tetep melihara. Sampai pada suatu hari sebuah insiden terjadi. Setelah kami pulang dari silaturahmi ke Sumedang.. Pas nyampe rumah kaget, satu ekor sudah meninggal.. Satu ekor lagi masih aman di toplesnya. Toples buatan saya yang dilengkapi ventilasi berlapis. Yang meninggal ada di akuarium, sebelum pergi Akang mindahin dia ke aquarium tapi saya waktu itu ga ngeh kalau ventilasinya terlalu besar sehingga semut bisa masuk. Dia tewas dibantai oleh semut-semut itu.. Saya tidak bisa menahan tangis. Saya langsung menyiapkan kuburan dan meminta maaf pada jenazah yang terbaring kaku itu. Setelah proses pemakaman selesai saya masih menangis. Tidak mau makan, sampai mamah mertua membujuk saya untuk makan. Saya makan sambil nangis. Saya menangis seharian, dan semalaman.. Itu pertama kalinya Akang melihat saya menangis. Dia kebingungan menghentikan tangisan saya.
"Udah atuh Sin, da saya juga pernah kenari mati tapi ga nangis. "
Saya malah makin nangis..
"Iya itu salah saya, mindahin ke aquarium tapi ga memperhitungkan ventilasinya bisa dimasukin semut. Harusnya sekitar aquariumnya diolesin oli, tapi ga kepikiran."
Saya malah makin nangis..
Saya ga bisa berhenti nangis, besoknya mata saya bengkak banget..
Mulai saat itu saya membenci semut.
Saya merasa gagal menjadi keeper yang baik dan memutuskan untuk menghibahkan satu tarantula yang selamat agar bisa mendapat keeper yang lebih baik. Banyak yang berminat dan antusias menerima hibah saya. Tapi Akang melarang dan marah-marah. Dia bilang hibahin aja ke dia. Tapi kan kalau dihibahin ke Akang saya jadi tetep bisa liat dan jadi trauma lagi. Tapi Akang keukeuh, akhirnya hak pengasuhan saya kasih ke Akang juga. Sejak saat itu Akang yang ngurus dan ngasih makan tarantula. Saat kehamilan saya makin besar dan Akang harus ke Bogor, adik ipar yang ngasih makan, saya ga boleheun da lagi hamil cnah. Tapi pernah sesekali ngasih jangkrik kalau adik ipar ga di rumah. Setelah Hawnan lahir Akang ngejual tarantulanya karena adik ipar juga sering ga di rumah dan takut membahayakan Hawnan.. Tapi sebenarnya masih ada keinginan saya untuk keep tarantula..

Tuesday, March 1, 2016

Dream land? Dream house?

Biasanya Akang suka bilang pengen cepet pindah ke Bandung.. Tapi akhir-akhir ini Akang sering bilang pengen beli tanah dan rumah di Jasinga.. Saya jarang berkomentar tentang hal-hal itu, paling cuman "Oh" atau senyum doang.. Kontraknya 5 tahun baru bisa pindah, tapi katanya bisa lebih cepat dari itu kalau mau (maksudnya kalau punya uang dan koneksi).Dulu Akang berambisi buat cepet-cepet pindah, sekarang malah bercita-cita beli tanah dan rumah di sini.. Hmmm.. Saya sih ikut aja, buat saya yang penting bisa tetap bersama dan bertemu setiap hari. Ya buat saya yang sedari dulu berambisi mendarat di Mars, kayaknya ga akan masalah mau dibawa ke mana aja karena dia suami saya. Lagian saya emang sukanya acleng-aclengan kaditu-kadieu, gampang bosen dan hobi berpetualang, ya jadi asa biasa-biasa aja sebenarnya dimanapun saya berada, yang jelas saya tau saya masih di Planet Bumi. Well, walaupun sekarang saya lebih sering diem di rumah dan tentu saja sering mengalami kejenuhan, kebosanan, dan kemonotonan hidup, tapi saya bersyukur bisa membersamai suami dan anak setiap hari.. Saya tidak keberatan untuk diam di rumah, karena Akang selalu pulang ke rumah. Dia emang sering bilang lebih baik perempuan itu diem di rumah aja, kalau mendesak banget boleh ke luar. Saya ke luar juga paling cuman ke warung doang dan ga ikut nongkrong sama ibu-ibu. Ya itu permintaannya. Tapi alhamdulillah bisa keluar rada lama pas ngajar ngaji di saung dan ngajar IPA di SMP. Saya bisa memaklumi kekhawatirannya saat saya ke luar rumah.. Dia selalu mendampingi saya saat saya ke luar kecuali saat ke warung dan ke saung, da deket. Ke mana-mana selain itu ga boleh kalau ga bareng dia. Ya saya memakluminya karena saya tau dia ingin memuliakan saya sebagai istrinya. Kalau tali baju belakang saya terlalu kencang, dia selalu melonggarkannya. Kalau khimar saya terlalu pendek disuruh ganti. Kalau saya lagi males pake kaos kaki pas jemur baju da takut basah pasti diprotes atau disindir-sindir. Walaupun kesel karena dia terlalu banyak komen, tapi saya bersyukur karena dia ternyata cemburuan. Tapi banget mah tetep weh jadi suka kesel. Pernah pas liqa dia ga bisa nganter da ngajar, saya jadinya naek ojeg, langsung diinterogasi, tadi naek ojegnya pegangan sama tukang ojeg ga? Kena ga badannya? Heh, ribet juga sih. Pas naek angkot di depan ngobrol sama supir, terus di rumah nyeritain obrolan supir tentang hiruk pikuk perangkotan di situ, langsung di protes, kenapa harus ngobrol sama supir segala. Ya jadinya sekarang saya jadi lebih pendiem, ga banyak ngobrol sama orang-orang juga. Tapi ga masalah selama dia bisa ngajak ngobrol saya. Saya tau pernikahan itu untuk saling menyesuaikan karakter dan kebiasaan yang berbeda. Jadi nikmatin aja lah, Setiap hari bertemu pasti ada seneng, kagum, sayang, sebel, marah, nangis, dll pokonya semua emosi pasti dirasakan. Tapi itulah nikmatnya bisa bertemu tiap hari, bisa merasakan berbagai macam emosi manusia dan bisa belajar untuk memberikan yang terbaik dengan memaksimalkan potensi diri. Saya sempat merenungkan ambisinya saat ini untuk mempunyai tanah dan rumah, saya tidak pernah memintanya, tapi dia ingin mewujudkannya untuk saya dan anak-anak tanpa riba. Butuh waktu yang cukup lama, tapi pasti bisa. Saya tau kami bisa, walaupun saya tidak pernah menuntutnya untuk memberikan rumah, tapi saya bersyukur dia mempunyai tekad dan berusaha mencapainya, maka saya harus mendukungnya dengan qana'ah.. Sebenarnya saya sudah sangat bersyukur bisa tinggal bersama walaupun di rumah kontrakan. Tapi walaupun saya sebut rumah kontrakan sudah seperti rumah sendiri karena kami digratiskan dari membayar uang sewa. Entah sudah berapa bulan induk semang kami tidak mau menerima uang sewa dari kami, saya rada risih kami dibebaskan dari uang sewa sementara tetangga-tetangga kami bayar. Bagaimanapun juga semoga berkah, ilmu yang kami berikan pada anak-anak, dan berkah juga untuk keluarga induk semang kami yang telah membebaskan biaya sewa untuk kami.. Saya yakin dengan ketekunannya suatu hari nanti Akang bisa memberikan rumah untuk saya dan anak-anak, dan karena di dunia ini hanya sekedar singgah, semoga Akang juga bisa memberikan sebuah rumah untuk saya di jannah-Nya kelak.. That's my dream house.. Aamiin..