Tuesday, December 27, 2016

Lalandian

Ada beberapa nama panggilan yang pernah saya sandang.
1. Swiquette. Swiket, swi, suiket. Ini ceritanya waktu SMA pas rihlah sama anak-anak IRMA ke Lembang kalau ga salah. Di dalem angkot yang dicarter kita pada nyanyi naik-naik ke puncak gunung, topi saya bundar, burung kakak tua, dll. Terus saya cerita tentang sponge bob square pants. Pas nyebut squidward, Teh Danger salah seorang kakak kelas saya tertawa. Dia mengira saya salah ucap jadi swiket. Sepertinya dia salah denger deh (saya ga mau disalahin, wkwkwk). Tapi teman-teman di dalam angkot berkonspirasi dengan Teh Danger. Sejak saat itu mereka sepakat memanggil saya Swiket. Saking konsistennya mereka, sampai adik kelas angkatan 2010 pun ikut-ikutan manggil saya Teh Swiket. Bahkan saat kuliah pun temen-temen BBF (Blah Bloh Family) manggil saya Swiket karena mereka membaca komen-komen temen SMA saya di akun FB. Hmm, kalau dipikir-pikir yang manggil saya Swiket adalah temen-temen akhwat/perempuan yang benar-benar mengenal kepribadian saya sesungguhnya. Maksudnya mereka lebih banyak mengenal kegilaan-kegilaan saya yang sesungguhnya dibanding teman-teman yang lain.
2. Sin~chan. Kependekan dari SINta~chan. Yang menggunakan panggilan ini adalah Fatiha dan Ta~chan. Mereka berdua adalah teman sekelas saya di jurusan bahasa saat SMA. Fatiha nasibnya sama seperti saya, bahkan lebih miris. Ditentang orang tua masuk jurusan bahasa. Kami waktu itu memiliki nilai yang memadai bahkan bisa dibilang tinggi untuk masuk jurusan IPA. Tapi kami ingin masuk jurusan bahasa. Di ruang BK saya tetap teguh pendirian memilih Bahasa saat guru BK dan ibu saya membujuk saya untuk masuk IPA. Akhirnya ibu saya mengizinkan juga. Setelah beberapa bulan berlalu, Fat masuk ke kelas Bahasa. Padahal dia sudah membeli buku-buku IPA yang tebal-tebal banget. Di situ pertama kalinya saya mengenal Fat dan tau ceritanya. Dia adalah orang yang tenang, kalem, dan pintar. Walaupun saya selalu dapat rangking 1 dan dia rangking 2, tapi dia berhasil dipilih untuk supiichi kontesuto, lomba pidato B. Jpg karena ketenangannya dalam berbicara. Saya terlalu nyeroscos dan nereleng, tidak ada titik dan koma saat tes pidato. Hihihi. Dari situ saya lebih mengontrol cara bicara saya. Dia selalu protes saat saya memanggilnya Fat. Padahal itu kan namanya, dan dia tidak gemuk, malah bisa dibilang langsing. Jadi aneh juga kalau dia protes, hihihi.
Ta~chan adalah teman sebangku saya saat di kelas XII. Dia seorang katolik, tapi pertemanan kami tidak ada masalah. Dia orang yang energic dan selalu terlihat sangat ceria. Tapi saat sedih terlihat sangat sedih. Yah biasa lah anak-anak bahasa yang suka manga atau anime pasti gitu. Saya juga gitu. Hahah. Namanya Tania, tapi dia ingin dipanggil Ta~chan.
3. Tata. Itu juga kependekan dari nama saya sinTA. Akhiran yang diulang. Yang manggil ini adalah kelompok kerja mata kuliah Kimia di kelas konsentrasi IPA saat kuliah.
4. Alien, kelinci, doyle. Yang manggil ini adalah Asyilah. Dia juga teman SMA di kelas Bahasa. Saya manggil dia Acil. Jadi kadang dia manggil saya alien (karena saya ingin ke Planet Mars), kadang dia manggil saya kelinci (karena saya suka minta wortel mentah pada ibu kantin yang sedang mencuci sayuran untuk dibuat Bala-Bala), kadang dia manggil saya Doyle (itu nama kaktus saya yang saya rawat di kelas). Pokoknya dia sering manggil saya dengan 3 nama itu.
5. Bola bekel. Itu panggilan dari kakak tingkat saya waktu kuliah, Teh Wilah. Dia sering tertawa kalau melihat saya. Dia bilang cara berjalan saya seperti bola bekel (bola beklen). Well, yeah banyak yang bilang cara jalan saya aneh. Katanya sih saya seperti melompat-lompat saat berjalan. Udah kebiasaan. Setelah nikah dan mengandung dan melahirkan, barulah cara jalan saya jadi normal. Saat awal nikah dan mengandung, mamah mertua sering protes tentang cara jalan saya. Katanya khawatir takut saya jatuh, bahaya juga buat bayi dalam kandungan. Tidak butuh waktu lama untuk mengubah cara jalan saya. Dengan sendirinya, makin lama perut saya makin berat, jalan saya makin lambat.
6. Ratu laba-laba. Ini panggilan dari temen SMA di kelas bahasa juga, Ardi. Ini karena saya suka laba-laba, terutama tarantula. Walaupun saat itu saya belum memelihara tarantula, tapi saya selalu perhatian pada tiap laba-laba yang saya temui. Saat beres-beres kelas pun saya tidak mengizinkan ada orang yang merusak jaring laba-laba di sudut-sudut ruangan. Saya memanggilnya Kamen (karena dia suka kamen rider) atau Kordi. (plesetan dari namanya). Dia suka duduk di bangku paling belakang dan tidur sampai mendengkur saat pelajaran sejarah berlangsung. Saat pembagian raport dia sering membully saya dengan bilang:
"Kenapa sih harus kamu yang dapet rangking 1?! Hah?! Kamu tidak pantas! Jawab!" Katanya sambil melotot dengan tangan terlipat. Teman-teman tertawa terbahak-bahak.
Saya menjawab dengan dingin, "Makanya otak tuh disimpen di sini (sambil nunjuk kepala), bukan di dengkul."
Krik krik krik.. Teman-teman yang lain diam, hening mendengar pernyataan saya.
"Saya kan cuma bercanda.. Saya kan ngutip kalimat yang sering diucapkan dia. " Kata saya sambil menunjuk Kordi.
"Kalau Si Ardi yang bilang emang jadi lucu, tapi kalau kamu yang bilang jadi terdengar kejam." Fat menimpali.
Well, Kordi memang orang yang paling humoris di kelas. Orang-orang sering tertawa mendengar lelucon-leluconnya. Dia punya karakter seperti Si Kabayan. Tapi meniru leluconnya ternyata bukan ide bagus, karena saya bukan orang yang humoris. Jadi di pembagian-pembagian raport selanjutnya, saat dia bertanya begitu lagi, saya hanya tersenyum kecut.
7. Non. Kependekan dari Nona. Yang manggil saya ini Obos. Dia temen sekelas waktu kuliah. Yang pertama kali manggil dia Obos bukan saya, tapi temen sekelompok waktu buat maket dan diorama pada mata kuliah seni rupa. Saya hanya ikut mempopulerkan panggilan itu. Kami memanggilnya Obos karena dia bossy. Sebenarnya dia tidak suka menyuruh-nyuruh atau memerintah anggotanya. Dia mengiyah-iyahkan pekerjaan kami tapi ujung-ujungnya dia merombak sendiri sesuai keinginannya. Hahah. Ya dia termasuk orang yang punya idealisme tinggi. Setelah mata kuliah seni rupa beres dia tetap dipanggil Obos, bahkan teman-teman di luar kelompok seni rupa kami pun ikut-ikutan memanggil begitu. Bagaimana pun juga dia adalah pendengar yang baik, yang bisa membuat orang-orang nyaman mengemukakan pendapat di hadapannya.
8. Baka~chan. Saya paling tidak suka dengan panggilan ini. Orang yang memanggil saya begini adalah Batta~kun. The Arch enemy, saikyou no teki. Musuh bebuyutan saya dari awal kami bertemu. Dia mengirim setiap sms dengan tanda seru sebagai ganti tanda titik. Ya, awalnya dia mengirim sms seperti itu untuk meminta saya bergabung di dakwah SMP. Dulu saya bingung, ini orang siapa sih ga sopan banget minta tolong ke saya lewat sms tapi kayak yang marah-marah, ketemu aja belum pernah. Ternyata emang kebiasaannya gitu. Dia dapat nomor saya dari temen alumni SMA saya. Lagi butuh alumni SMP 17. Dia bukan alumni SMP 17 juga bukan alumni SMA 10, tapi dia mengelola dakwah sekolah di Kota Bandung tingkat SMP dan SMA. Jadi dia masuk ke sekolah-sekolah yang rohisnya butuh fasilitas dakwah, yang paling umum masalahnya adalah kurang pementor. Bukannya saya tidak mau bantu dan masuk ke SMP almamater saya, tapi saya kesal dengan orang yang tidak bisa menjaga sopan-santunnya, dan saya tidak mau berurusan dengan orang menyebalkan seperti itu. Setelah beberapa bulan berlalu dan saya sudah lupa tentang SMP, murabbiyah saya meminta saya masuk ke 17. Saya tidak bisa menolak permintaan murabbiyah saya. Jadi mau tidak mau saya harus berurusan dengan orang itu. Saat saya memperkenalkan diri di rapat pertama, dia kaget. "Saya yang dulu ngesms. " katanya. Saya cuman menimpali dengan dingin, "Oh." Setelah itu dia mulai sering SMS dan menawarkan kamen rider. Saya awalnya tidak tertarik dengan tokusatsu dan lebih fokus pada manga dan anime. Tapi dia mulai mempengaruhi dengan menyangkut pautkannya pada kegemaran saya.
"Suka detektif kan! Kamen rider ada ada yang tentang detektif! Ada juga yang tentang alien! Kamu pasti suka!"
Saya heran dari mana dia tau informasi tentang saya. Ternyata teman SMA saya yang bilang. -_-"
Akhirnya saya terima juga tawaran kamen ridernya. Tapi dia ngasih heisei secara berurutan, jadi saya ga langsung dapat kamen rider double (W) dan kabuto. Saya harus nonton dari agito. -_-" Ya fine-fine aja sih sebenarnya, gratis ini. Tapi saat nonton ryuki dan ada episode monster laba-laba yang disiksa kamen rider saya langsung illfeel dan males buat ngelanjutin nonton. Pas dia tau, dia ga terima alasan saya ga mau nonton lagi hanya gara-gara monster laba-laba yang dibully. Sejak saat itu dia manggil saya Baka~chan. Setiap sms, telpon, atau ketemu pasti manggilnya gitu. Saya pernah meledak marah karena dia manggil Baka~chan berulang-ulang di depan anak-anak SMP. Walaupun mereka mungkin ga ngerti artinya, saya tetap mendidih. Dia kaget melihat reaksi saya di depan anak-anak, kemudian menyeringai puas karena telah berhasil mengganggu kestabilan emosi saya. Saya benar-benar tidak menyangka bisa hilang kontrol seperti itu. Sejak saat itu saya memanggilnya Batta~kun dan mendeklarasikan permusuhan kami. Belalang adalah musuh bebuyutan laba-laba. Saat mereka bertemu salah satu dari mereka akan mati. Saat kami bertemu pasti ada pertengkaran. Dia satu-satunya musuh di kehidupan saya sampai saat ini. Kami berjanji untuk saling bunuh jika waktunya tiba. Dia bersumpah akan membunuh saya beserta anak keturunan saya. Anehnya saya tidak merasa sakit hati. Saya merasa wajar saat dia mengkritik dengan kasar setiap hal yang saya pikirkan atau saya lakukan. Wajar karena dia adalah enemy. Seorang enemy memang harus begitu. Tapi tentu saja seorang musuh juga bisa memberikan banyak pelajaran berharga bagi saya. Saat musuh sering berbuat jahat, tapi kalau ada satu saja kebaikan yang dilakukannya untuk kita,  maka kita akan mengingat satu kebaikannya itu dan melupakan kejahatannya. Tapi anehnya, saat keluarga, sahabat, atau teman yang sering berbuat baik pada kita, lalu suatu waktu dia menyakiti kita dengan satu keburukan maka kita akan mengingat keburukannya dan melupakan semua kebaikannya. Dan tentu saja pelajaran yang paling berharga darinya adalah: The saddest thing about betrayal is that it never comes from your enemies. Satu hal yang saya sadari, seorang musuh beda tipis dengan sahabat dekatmu.. Musuhmu akan tau seluk beluk tentang dirimu sekecil apapun, karena tugasnya adalah mencari kelemahan dan kekuranganmu.
9. Sei. Ini kependekan dari senSEI. Yang manggil ini adalah Om Zhuki Smile. Saya ga tau kenapa orang-orang memanggilnya begitu. Mungkin karena beliau dianggap pupuhu oleh para mahasiswa. Beliau adalah mahasiswa dual modes yang sangat aktif di kegiatan mahasiswa dan supel dengan tiap orang. Sepertinya mereka sering meminta nasehat pada beliau. Dan beliau termasuk salah satu yang ikut pembelajaran B. Jepang di kampus. Waktu itu temen-temen saya minta diajarin B. Jepang. Mereka adalah beberapa teman sekelas yang tau saya ngeprivat B. Jepang. Saya sebenarnya banyak jadwal kegiatan di luar. Tapi saya ga tega nolak mereka yang mempunyai kesungguhan belajar. Saya milih-milih juga soal siapa yang ingin saya ajari B. Jepang, dan saya tau mereka yang meminta ini adalah orang-orang yang sungguh-sungguh ingin belajar. Nah Om yang tau saya ngadain kelas B.Jepang di kampus minta ikut juga. Well yah cukup menyenangkan bisa menggunakan kalimat perintah kepada orang-orang yang bisa dibilang gegedug dari UKM. Geli-geli gimana gitu nyuruh para ketua UKM ngayun-ngayunin tangan buat nulis hiragana di udara atau nyuruh mereka gerak-gerak sesuai lagu bahasa jepang yang saya kasih sebagai bahan ajar. Wkwkwkw. Ya jadi Om konsisten manggil saya Sei sejak saat itu.
10. Sintrong. Ini panggilan dari ibu saya. Dari kecil kalau saya nakal ibu manggil saya dengan panggilan ini. Selain ibu ada satu lagi yang memanggil saya Sintrong, dia adalah adik ibu, paman saya. Saya memanggilnya Mang Budrong, harusnya Mang Budi.
11. Sherlock. Ini panggilan yang saya suka. Yang memanggil saya Sherlock adalah adik tingkat saya, Mby (Nama aslinya Febby). Kalau kami berpapasan dia menyapa saya dengan panggilan ini,
Mby: Hai Sherlock. .................
Saya: Hai Watson. .................
Dia termasuk orang yang supel. Mungkin banyak orang yang merasa tidak nyaman dengan kesupelannya yang terlalu supel, hahah. Tapi saya nyaman-nyaman aja dia menganggap kakak tingkat sebagai teman. Ya, walaupun dia adik tingkat, tapi dia kelahiran 90, jadi usianya lebih berumur daripada saya. Dia orang yang semangat, dan saya sering merasa tertular semangat darinya kalau kami ngobrol. Sangat optimis.
12. Anak aneh. Ini panggilan yang menyebalkan dari guru B.Inggris saya di SMA. Beliau sering menganggap saya aneh. Tapi saya belajar banyak dari beliau. Tentang musik, tentang teknik menggambar, tentang cara menyenangkan belajar bahasa.

Itu lalandian yang pernah tersemat pada saya. Bagaimanapun juga pada saat keadaan formal seperti saat diskusi pembelajaran atau perkuliahan di kelas atau saat rapat mereka tetap memanggil saya Sinta. Di luar kondisi formal itulah mereka konsisten memanggil dengan lalandian itu. Walaupun seringkali kesal dengan panggilan-panggilan itu, saya menyadari kalau mereka yang menyematkan nama-nama itu adalah mereka yang merasa sudah dekat dengan saya. Oh, ada satu orang lagi yang memanggil saya dengan panggilan berbeda dari yang lainnya. Beliau adalah dosen IPA saya di kampus. Beliau selalu memanggil saya dengan nama lengkap. Sinta Legian Wulandari. Kadang saya heran, apa ga ribet gituh manggil dengan nama lengkap.. Tapi saya suka. Karena saya yakin sampai saat ini hanya ada satu orang yang bernama Sinta Legian Wulandari di planet ini yaitu saya. Saya satu-satunya manusia yang bernama Sinta Legian Wulandari (sampai saat ini). Beliau terbiasa mengabsen nama lengkap tiap mahasiswa di kelas sebelum perkuliahan dimulai. Dan beliau bisa mengingat nama lengkap setiap mahasiswa dari angkatan terdahulu. How amazing his brain! Setiap berpapasan atau ngobrol dengan beliau, saya selalu kagum dengan ingatan fotografisnya.

No comments:

Post a Comment