Di notif ada permintaan review dari Facebook tentang Bapusipda karena saya ngetag tempat itu untuk melengkapi status dan foto. Tapi mending nulis di sini aja. Sejak saat duduk di bangku Sekolah Dasar saya rutin diajak oleh ibu ke perpustakaan daerah, nama lengkap tempatnya Bapusipda Jabar (Badan Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Provinsi Jawa Barat). Dulu masih di deket BPBD. Saat kuliah jadi pindah ke Kawaluyaan. Tempatnya jadi lebih besar dan luas. Setelah menikah dan skripsi beres belum sempat ke sana lagi. Apalagi setelah tinggal di Bogor. Hari Jum'at kemarin saat ada di Bandung saya ambil kesempatan buat berkunjung lagi. Kali ini disertai anak saya yang berumur 19 bulan. Tujuan kunjungannya jadi beda. Sekarang tujuannya ngasuh anak, jalan-jalan di perpustakaan daerah ternyata membuat anak saya sangat senang. Dia bisa main perosotan di ruang anak-anak dan mengeksplorasi buku-buku yang dia temukan di rak. Walaupun memang belum bisa baca tapi dia berlagak mengambil buku dan seolah membacanya. Ruangannya nyaman disertai karpet yang menutupi lantai. Sepatu ditaruh di rak. Kemudian naik lift menuju lantai 2. Di ruang dewasa dia tertawa-tawa girang. Saya khawatir mengganggu para pembaca yang khusyu dengan bukunya dalam keheningan. Dia tertawa terus menerus. Mengeluarkan buku-buku dari dalam rak dengan riang. Saya tidak merekomendasikan membawa anak kecil ke ruangan ini karena para pecinta buku pasti mengerti etika tenggang rasa tentang keheningan saat membaca. Tapi entah kenapa dia terlihat lebih senang di ruangan ini. Ada mesin pencari buku yang bisa memberitahu ada atau tidaknya buku yang kita butuhkan. Setelah menemukan buku yang akan dipinjam, saya menuju ke petugas yang siap melayani dengan ramah. Sekarang tidak perlu lagi 3 kartu merah untuk disimpan di sana. Cukup dengan 1 kartu elektronik yang discan barcodenya sudah bisa pinjam. Struk peminjaman dan tanggal kembali diberikan kepada peminjam (anggota). Sudah secanggih ini sekarang.. Di luar ruangan di lantai 2 ada area dengan rak buku dan longue yang bisa digunakan pengunjung untuk mengisi waktu saat waktu istirahat perpustakaan.. WiFi gratis dan super cepat juga bisa dinikmati di setiap lantai (ada username dan password yang berbeda untuk tiap lantai dipampang agar pengunjung bisa mudah mengakses informasi). Kali ini saya tidak ke lantai 3 karena tidak ada kepentingan. Dulu pernah ke lantai 3 gara-gara telat ngembaliin. Jadi turun lewat eskalator yang otomatis bawa kita ke bawah saat nginjekin kaki di tangga pertama. Kalau belum nginjek eskalatornya hanya melaju pelan. Makanya harus hati-hati kalau mau menuju atas, mending naik lift atau tangga darurat karena eskalatornya khusus untuk ke bawah. Mushola juga sudah tersedia di dalam gedung. Dulu kalau mau shalat harus keluar gedung dulu. Malah saya sempat ikut shalat di samsat karena musholanya pernah dikunci. Sekarang jadi lebih mudah dan nyaman kalau mau shalat. Oh iya jangan lupa menyimpan tas dan jaket di loker penyimpanan karena tidak diperbolehkan membawanya ke ruang baca. Kita juga harus menjaga kunci loker dengan baik. Di ruangan loker penyimpanan Hawnan malah tiduran di lantai, ga mau diajak pulang. Ya mau bagaimana lagi dulu saya juga sering ketiduran dengan tumpukan buku yang saya bawa untuk dibaca. Sampai petugas perpustakaan ngebangunin karena waktunya tutup. Betah rasanya kalau banyak buku.
Sebagai bahan evaluasi tentang ruang galeri dan toilet saja. Dulu ruang galeri tertata rapi dengan penataan informasi dan benda-benda tiap daerah di Jawa Barat, juga dokumen-dokumen penting sejarah yang paling menarik perhatian saya tentang G30SPKI. Sekarang ruang galeri jadi seolah kosong dan berdebu, banyak yang rusak dan hilang.. Satu set angklung pun sayang seperti tidak terurus. Toilet yang luas dengan yang disertai cermin dan wastafel juga jadi kurang bersih dan ada yang rusak. Dulu yang saya ingat toiletnya selalu bersih. Tapi saya yakin dua point itu akan ditindaklanjuti segera karena saya melihat ada yang membawa toilet-toilet baru ke dalam gedung. Sekian review salah satu tempat favorit saya di Bandung Jawa Barat.
Tuesday, September 27, 2016
Sunday, September 18, 2016
Pamer foto mesra di facebook tanda tidak bahagia?
Ada yang ngeshare di facebook artikel tentang penelitian yang membuktikan pamer foto mesra di facebook adalah tanda ketidak bahagiaan dalam hubungan. Saya baca dan lumayan tertarik. Cukup setuju untuk kondisi tertentu. Harus saya akui terakhir kali saya pasang foto mesra sama suami emang pas kondisi lagi galau. Pas ditinggal suami buat asrama selama satu bulan. Saya ngungsi dulu ke Bandung, suami balik lagi ke Bogor buat persiapan asrama. Setelah dua hari ga ketemu saya baru pasang foto mesra walaupun mukanya ga keliatan, cuman tangan yang saling menggenggam. Itu saya ambil pas waktu di bus, suami lagi ga ngeh karena ngantuk, saya ambil deh tangannya. Hihi. Saya upload foto pas dia mulai masuk asramanya buat ngasih dia semangat juga di tengah kegalauan saya yang harus tidur sendirian. Saya tau dia suka kalau saya upload kemesraan asalkan wajah ga usah diperlihatkan. Dulu waktu harus LDRan dua bulan setelah lahiran saya sempat buat status "kangen" di facebook, tapi saya atur privasinya biar cuman suami yang bisa baca. Eh, dia malah ngesms dan nelpon nantangin saya buat ngubah privasinya biar orang lain juga bisa baca. Saya bingung juga, males kalau orang lain komen di status yang khusus saya buat untuk suami. Setelah cukup lama berpikir, saya akhirnya mengubah privasinya biar teman-teman facebook bisa baca. Setelah itu baru suami mau komen di statusnya. Dan ternyata kekhawatiran saya tidak terjadi. Ga ada teman-teman lain yang komen, paling cuman like. Sepertinya mereka sudah paham bahwa itu adalah privasi dan mereka tidak berhak berkomentar. Saya juga mencoba menyelami pikiran suami. Dia memang ga suka pasang status atau foto mesra. Tapi sepertinya dia ingin saya yang melakukannya. Mungkin dia juga merasa galau dan tidak yakin dengan perasaan saya. Dengan saya memposting kemesraan, mungkin dia merasa teryakinkan karena saya berani mengakui hubungan di depan orang-orang yang mengenal saya. Walaupun sebenarnya tiap hari bisa komunikasi melalui sms, telpon, bbm, atau wa yang lebih privasi, tapi hubungan sepertinya memang harus ada pengakuan secara de fakto dan de jure agar bisa merasa lebih tenang. Tapi memang, secara pribadi saya posting kemesraan di fb saat merasa galau karena harus berjauhan dengan suami dalam jangka waktu yang cukup lama. Walaupun sebenarnya kalau setiap hari bertemu ada kejengkelan atau pertengkaran, tapi itu lebih baik daripada kemesraan saat berjauhan. Tetap saja gadget tidak akan pernah bisa menggantikan kehangatan pertemuan langsung. Saya kan ga bisa meluk-meluk atau megang gadget. Tentang bahagia atau tidak bahagia tentu saja dalam kehidupan rumah tangga pasti pernah merasakan keduanya. Ada bahagianya, ada tidak bahagianya. Kehidupan yang terus berputar. Yang jelas pernikahan itu harus lebih banyak bahagianya daripada tidakbahagianya. Dan saat suami istri harus berjauhan tentu saja itu salah satu ketidakbahagiaan dalam hubungan. Saya tidak suka LDR. Saya suka hubungan yang real. Itu saja.
Subscribe to:
Posts (Atom)