Tuesday, April 26, 2016

Aniv

Tadi pagi seusai shalat shubuh Akang berbaring di pangkuan saya sambil melihat kalender.
Akang: Kita nikah teh udah berapa tahun?
Saya: Dua..
Akang: Kita nikah hari apa?
Saya: Sabtu..
Akang: Tanggal berapa?
Saya: Hmmm.. 20..
Akang: Udah kelewat dong. Padahal tadinya mau beli sate buat ngerayain..
Saya: -_-"
Sebenarnya saya cuman pura-pura ga inget tanggalnya. Saya juga ngeh ko sekarang tanggal 26.. Cuman pengen tau aja reaksinya gimana. Hihihi..
Udah 2 tahun.. Ga kerasa kami udah melewati waktu 2 tahun bersama.. Hidup bersama menjalani waktu yang tidak ditentukan sampai kapan.. Tapi saya berharap semoga kami bisa tetap bersama sehidup sesurga.. Walaupun kematian menjemput dan memisahkan, semoga kami bisa bersama kembali di jannah-Nya. Dia pernah nanya, "Sin, nanti kalau kamu udah di surga, kamu bakal nyari saya ga?"
"Hah? Kenapa gitu? "
"Ya kan ntar mah kalau di surga udah ada bidadara yang ganteng-ganteng?"
"Oh.."
"Jadi bakal nyariin saya ga?"
"Hmmm..."
" -_-" "
Geli juga ngedenger pertanyaannya. Saya ga mau gr dulu jadi penghuni surga. Tapi saya berharap semoga saya tetap berpegang teguh pada dien ini. Saya takut juga Allah mencabut nikmat iman Islam saya. Nau'zubillah.. Semoga Allah tetap menyayangi saya dengan mengistiqamahkan saya sebagai seorang muslim.. Kalau saya bisa beruntung punya tempat di surga-Nya kelak tentu saja saya ingin bisa bersama suami saya lagi. Kalaupun tidak bisa, saya tinggal minta bidadaranya jadi mirip mukanya kayak suami saya.. Hihi..
Ya waktu tidak terasa bergulir dengan cepat. Asa baru kemarin dia mengikrarkan ijab qabul untuk menjadi suami saya. Dengan mahar 8 gram emas yang sekarang melingkar di jari saya, kami akhirnya sah menjadi sepasang suami istri. Mahar yang punya nilai historis baginya dan membuat saya merasa berharga dapat memakainya. Dia membeli cincin ini semasa kuliah dulu saat mendapatkan gaji di awal masa kerjanya sebagai guru bimbel. Saat itu dia sudah berniat untuk menjadikannya mahar kalau suatu saat menikah walaupun belum fix ada calon istrinya. Saya suka designnya, emas putih yang dililit emas kuning dengan hiasan bulan sabit dan satu mata cincin di tengahnya. Waktu beli dia pakai jari sendiri untuk ngukur, pas saya pakai jadinya longgar. Dia menawarkan untuk membelikan yang baru yang lebih pas di jari saya. Tapi saya tidak mau, saya suka dengan nilai historisnya dan saya ingat cerita seorang rekan kerja waktu di sekolah alam. Dia waktu itu bilang mau menukarkan cincin kawinnya karena sudah tidak muat lagi di jarinya. Seiring berjalannya waktu jarinya jadi mengembang, lingkar cincinnya jadi terasa menyempit dan sakit. Sayang sekali kan cincin kawinnya kalau harus ditukar yang baru. Dan ternyata dugaan saya betul, saat hamil cincinnya jadi pas di jari. Hehe. Sekarang sih sudah agak longgar lagi, tapi yang penting saya ingin tetap memakainya. Dia ingin saya tetap memakainya. Pernah dulu karena takut lepas saya pasang cincinnya di kalung saya. Dia protes karena dia ingin orang lain melihat cincin itu tersemat di jari saya. Dia melilitkan solatip pada cincinnya agar pas dengan jari saya. Hihihi. Bodor lah. Tapi sekarang udah ga dililit solatip lagi. Saat hamil solatipnya dilepas dan sekarang meskipun jari saya sudah kembali ke ukuran semula cincinnya masih saya pakai. Tidak khawatir lepas karena tertahan oleh satu cincin di atasnya yang pas. 3 gram cincin yang ditambahkan mertua saya untuk mahar. Saya juga suka yang ini. Bentuk yang bergelombang dan terdapat patahan di tengahnya dengan masing-masing satu mata cincin di tiap ujung patahannya. Design ini memungkinkan cincinnya mengikuti perubahan jari, jadi walaupun jari makin mengembang, tidak perlu diganti. Waktu itu dia bertanya apakah ada hal lain yang saya inginkan untuk mahar. Saya bilang, "Ga ada, kan udah ada cincin 5 gram tea."
"Ditambahin sama mamah cincin 3 gram lagi ko. Tapi bisi ada yang kamu pengen lagi, bilang aja."
"Udah aja cukup."
Saya seneng jadinya 8 gram. Padahal saya ga minta dan belum pernah kasih tau mereka kalau saya suka angka 8. Ya, hal-hal yang saya suka menyangkut angka 8. 8 Kaki laba-laba. 8x8 petak papan catur. 8 arah mata angin pada kompas. 8 tuts pada satu oktaf (8ve). 8 planet dalam tata surya (pluto ga dianggap). Hihihihi. Saya suka makna filosofisnya. 8 = ∞
Angka 8 kalau diputar 90°, akan menjadi lambang infinity. Ada apa dengan lambang infinity?
Menurut kamus:
Infinity (noun) :
1. time without end
2. Unlimited extent of time, space, or quantity; eternity; boundlessness; immensity
Infinity yang mempunyai arti tak terhingga atau tak terbatas yang dilambangkan melalui bentuknya yang tanpa awal dan tanpa akhir.
Oh iya, di dalem cincinnya juga terukir angka 8 (sebenarnya angka 18, tapi kan tetep aja ada angka 8nya. Keukeuh. Hahah. Ya biarin 18 juga, that's my birthday.)


Monday, April 18, 2016

Shimpai shinaide..

Akang: Sin berat badan saya 63..
Saya: Emang terakhir berapa?
Akang: 60.. Kenapa malah naik lagi ya..
Saya: Oh..
Akang: Will u still love me?
Saya: Hah?
Akang: Padahal saya kan udah makan 2x sehari. Ko malah naik sih?
Saya: Akang pengennya gmn?
Akang: Pengen kayak dulu.
Saya: Pengen turun berapa kilo?
Akang: 10 kg.
Saya: Berarti dulu 53 kg?
Akang: 50..
Saya: Ngapain terlalu mikirin berat badan.. Lagian yang 13 kg mah otot kali bukan lemak.
Akang: Oh ini otot ya? (sambil megang perut)
Saya: Iya. Dulu kan akang cungkring. Begang jiga si Dede. Hihi. (Super Dede)
Akang: Kata siapa?
Saya: Kata saya barusan.
Huahahahaha.
Akang parno amat sama berat badannya. Selama masih normal (belum obes) saya ga terlalu khawatir. Yang penting sehat.. Akang pernah bilang setelah nikah jadi jarang sakit paling setahun sekali/dua kali. Katanya dulu sebelum nikah mah hampir tiap bulan kena demam/masuk angin sampai harus bed rest. Ya alhamdulillah deh. Sekarang dagingnya emang nambah. Eh otot maksudnya. Iya dulu pas awal-awal nikah masih cungkring, sekarang otot di tangannya gede padahal tara ngegym. Katanya perubahannya itu biar bisa melindungi saya. Hahah, walaupun saya bisa melawan 2 orang dengan mudah (lebih dari itu kata sempai mending pake jurus kaki seribu alias kabur), tapi seneng juga ada yang siap melindungi. Emang sih kalau perutnya mah bukan otot. Tapi perubahannya adalah perubahan yang saya suka. Saya ngeri banget kalau liat orang yang perutnya sispack, mungkin orang-orang mah nganggapnya keren. Tapi saya mah ngeri. Ya saya suka Akang yang dulu, saya suka Akang yang sekarang, saya suka Akang yang akan datang. Suatu saat nanti dia akan beruban, berkeriput, berjalan tertatih dan perubahan fisik lainnya. Perubahan adalah keniscayaan. Tapi saya akan tetap suka. Chikyuu~kun no koto ga daisuki.  Semoga saya bisa selalu mendampinginya di setiap perubahannya. Setelah dipikir-pikir jadi manusia tidak terlalu membosankan. Omoshiroi desune, ningen wa...

Saturday, April 16, 2016

Family bonding

Saya teringat saat ulang tahun ke 22. Ketika itu saya sangat kesal karena ayah dan ibu pulang malam tanpa memberi tahu mereka ke mana.. Dua hari mereka tidak ada di rumah saat saya pulang.. Tidak biasanya mereka seperti itu.. Biasanya ibu tidak pernah meninggalkan saya atau adik saya tanpa makanan di lemari. Dan kalau mereka pulang larut pasti memberi kabar ke mana mereka pergi agar tidak membuat khawatir. Saat tanggal 18 Juli 2013, mereka memberikan hadiah tak terduga.. Liontin laba-laba yang cantik.. Saya hampir menangis saat menerimanya.. Ternyata selama dua hari mereka berkeliling toko mas untuk mencari laba-laba ini.. Saat sendirian di kamar saya benar-benar menangis, menyesali rasa kesal yang timbul selama dua hari itu. Ibu bilang dia pakai uang gaji saya yang saya berikan pada ibu untuk membelinya, tapi saya tahu itu tidak cukup, pasti mereka nambahin.. Saya minta ibu menyimpan suratnya karena saya tidak mau sampai menjualnya kecuali kalau ibu suatu saat membutuhkannya. Saya menganggap ini sebagai kenang-kenangan berharga, bukan barangnya yang berharga, tapi kisah perjuangan mereka mencarinya. Saya tahu sulit menemukan yang seperti ini. Tapi mereka tahu saya suka laba-laba, dan tetap mencari.. Saat saya melihatnya, saya merasakan kasih sayang keluarga.. Ibu yang selalu menyayangi saya.. Walaupun dia wanita karir, tapi saya tau saya lebih penting baginya daripada karirnya. Saya ingat setiap saya sakit, dia selalu berada di samping saya dan tidak masuk kerja untuk menemani saya sampai saya sembuh.. Menyuapi saya dengan sabar.. Tidak pernah membiarkan kami pergi tanpa sarapan.. Jarang sekali meninggikan suara di depan kami, selalu memperlakukan kami dengan kelembutan dan kesabaran. Ayah yang rela mengorbankan waktunya untuk saya, selalu berusaha mengantarkan saya di sela pertemuannya dengan client yang order dagangannya atau perangkat desa yang harus ditemuinya. Ya, yang paling berharga untuk keluarga adalah waktu. Waktu saat bersama dan mementingkan kebersamaan. Kebersamaan yang mengikat erat untuk kebahagiaan. Apalah
artinya harta yang melimpah kalau waktu bersama keluarga tergadaikan. Apalah artinya bersosialisasi dengan banyak orang di luar sana kalau di rumah percakapan dengan keluarga hanya seperlunya. Apalah artinya mengeluarkan banyak energi di luar kalau keluarga mendapatkan sisa stamina dan hanya tertinggal keluh kesah. Saya ingat saat kami berempat makan bersama di atas tikar di balkon rumah, saya ingat saat kami berbagi satu telur dadar untuk berempat, saya ingat saat menghabiskan liburan bersama. Hal-hal sederhana yang dilakukan bersama.. Kebersamaan yang tidak bisa tergantikan oleh apapun. Ketulusan dapat dirasakan dalam sebuah keluarga..
Bahkan sampai sekarang pun saya masih merasakan kasih sayang mereka. Saat ini saya bersyukur masih bisa melihat wajah mereka yang sedang terlelap. Datang dari jauh untuk menjenguk anak dan cucunya.. Arigatou, Okaa~chan, Otou~chan.. :')

Saturday, April 2, 2016

Ongaku wo kikimashou..

Lagi ga bisa tidur. Ngambil earphone, terus search radio yang bisa ketangkep di sini. Baru sekarang ngedengerin radio lagi. Dulu sebelum nikah saya sering denger radio. Program kerjasama garuda radio sama nhk. Sekalian belajar nihongo. Sering banget dengerin lagu yang pake nihongo atau english, biar nambah kosakata. Sundaan juga boleh lah, ya walaupun dari kecil udah jadi bahasa sehari-hari di rumah tapi masih banyak kosa kata yang saya ga ngerti. Kalau lagunya enakeun saya search lyricnya, trust translate deh. Ngelatih listening juga. Jadi jarang banget ngedengerin lagu berbahasa indonesia da udah ngerti, paling tentang makna dan idiom tersembunyi, tapi emang jarang banget ada lagu berbahasa indonesia yang saya mau denger. Satu-satunya lagu indonesia favorite saya dan ga akan pernah bosen buat denger dan nyanyiin ya Indonesia Raya karya W.R. Supratman. Denger lagu-lagu wajib nasional juga mau. Atau lagu anak-anak yang bisa digunakan buat apersepsi atau ngebantu hafalan anak. Tapi waktu LDRan sama Akang pas abis lahiran, pernah dengerin lagu indonesia dengan tema galau. Ya campur sama yang english juga.  Tapi denger lagu galau malah tambah galau.Sebenernya genre music favorite saya lebih ke rock, pop rock, atau underground. Yang bikin semangat pokona mah. Ya ada beberapa nasheed indonesia kayak shotul harakah atau izzis yang layak dijadiin list saya juga sih kalau dipikir-pikir mah. Tapi pas lagi galau atau baper jadi ke pop yang selow-selow deh.