Wednesday, November 30, 2016
Lanjut S2?
Tuesday, November 29, 2016
Kenapa nulis di blog?
Di group fb dengan komunitas para blogger ada yang nanyain motif anggota lain nulis di blog. Kebanyakan jawabannya untuk menghasilkan uang. Ada juga yang untuk sekedar penghilang rasa bosan. Saya ga ikut komen di situ karena khawatir jadi dikepoin. Hahah. Jadi ingat motif saya dulu bikin blog buat apa. Dan sampai sekarang pun tidak berubah. Yaitu buat ngilangin stress. Nulis bisa jadi terapi psikologis. Kenapa di blog? Kalau di buku udah mainstream udah bosen dari jaman SD-SMA nulis di buku aja, kalau di fb males terlalu banyak temen/ kenalan yang kepoin. Di blog lebih enak, paling yang baca yang ga kenal. Kalau ada yang kenal ikut baca, berarti dia super kepo. Dan tulisan di blog dibuat lebih menggunakan pikiran walaupun tetap ada emosi karena mempertimbangkan pembaca. Kalau di buku diary kata-kata yang kurang baik dan tidak pantas ditulis bisa tetap saya tulis kalau mood lagi marah. Kalau di blog saya memikirkan khawatir ada anak kecil yang baca. Jadi pemilihan kata/diksi yang saya gunakan diblog tidak terlalu kasar walaupun sedang menulis dalam keadaan murka. Ya, sampai sekarang belum ada niat buat ngehasilin uang dari blog sih. Mungkin kapan-kapan akan saya pikirkan kalau udah ada niat. Hahah. Tapi itu berarti saya harus belajar dulu cara membuat artikel yang baik dan benar. Karena tema tulisan saya selama ini lebih banyak pada kegiatan sehari-hari atau diary. Saya hanya menulis apa yang ingin saya tulis. Tujuannya murni untuk melepaskan beban pikiran yang tidak terungkapkan secara lisan karena merasa tidak ada yang mau mendengarkan cerita saya. Sedangkan saya adalah perempuan yang punya kebutuhan mengeluarkan ribuan kosa kata tiap harinya. Dengan menulis di blog saya merasa lebih "plong" tanpa harus merasa bersalah karena saya tidak memaksa orang lain mendengarkan saya atau membaca tulisan saya. Jadi intinya saya hanya ingin mengeluarkan pikiran dan pendapat saya tanpa harus memberisiki orang. Kalau mereka membaca tulisan saya itu pilihan mereka. Kalau tidak suka tulisan saya ya tidak usah datang ke blog saya. Beda kalau nulis di fb, langsung muncul di newsfeed yang otomatis terbaca oleh orang lain. Walaupun di fb juga sebenarnya kalau tidak suka dengan tulisannya tinggal diunfriend atau diunfollow. Tapi secara pribadi saya lebih suka menulis di blog. Hidup ini simple. Kalau ga suka, tinggalkan. Daripada jadi beban pikiran dan stress berkepanjangan. Saya hanya ingin menjalani hidup dengan bahagia yang benar-benar berasal dari hati. Hidup saya singkat, saya tidak mau hidup yang singkat ini diisi dengan terlalu banyak kesedihan. Saya akan pergi mencari kebahagiaan dan meninggalkan kesedihan yang sia-sia. Saya tau mana hal yang bisa membuat saya bahagia dan mana yang bisa membuat saya bersedih. Saya tau dengan menganalisis hati saya yang sering terbolak-balik dan pikiran saya yang menyediakan berbagai kemungkinan dan solusi yang rasional. Saya akan memilih otak saya dari pada hati saya. Karena otak saya paham bagaimana kondisi hati yang lemah. Maka saya lebih rela disebut manusia tidak berhati daripada manusia tidak berotak. Karena saya benar-benar berusaha menekan perasaan-perasaan emosi saya dengan pemikiran-pemikiran hebat saya. Tapi saya tau konsekuensi logis dari penekanan emosi yang terlalu lama, saat ada pemicu walaupun kecil, maka akan meledak menghancurkan semuanya melewati batas radius normal yang telah diperkirakan.
Saturday, November 26, 2016
Sang Murabbi
Tadi nonton cuplikan Sang Murabbi di salah satu fanspage fb. Tentang bagaimana almarhum Ust. Rahmat Abdullah yang begitu lembut bisa menjadi galak saat ada orang yang meragukan janji nabi. Saya jadi buka youtube dan search Sang Murabbi. Langsung terbayang murabbiyah saya yang pertama saat SMA. Beliau yang dulu mempertontonkan film ini saat wada'an kelompok yang waktu itu kami akan mengalami ujian akhir nasional dan melanjutkan studi di kampus-kampus yang sudah kami rencanakan.. Saat itu saya sedang galau karena perbedaan pendapat dengan orang tua tentang kampus dan jurusan yang akan saya ambil.. Saya ingin masuk ke ITB dan mengambil jurusan Astronomi karena saya suka Astronomi. Tapi orang tua saya ingin saya mengambil PGSD UPI. Saya berusaha melobi orang tua dan tawar menawar mengenai kampus UPI. Saya bersedia daftar UPI tapi jurusannya B.Inggris atau B.Jepang. Tapi orang tua tetap memaksa saya daftar PGSD. Akhirnya saya ikut UM dengan asal-asalan, sama sekali tidak membawa apa-apa. Hanya beli pensil di jalan, meminjam serutan pada teman satu ruangan ujian yang tidak saya kenal. Tidak ada penghapus.. Tidak ada apa-apa. Dulu di pikiran saya hanya terlintas "Kenapa saya harus ikut ujian ini? Saya harap tidak lulus.." Saat saya melihat soal ujian, yang terdiri dari B.Inggris yang tentu saja saya kuasai karena saya jurusan bahasa saat SMA dan soal psikotes matematika dasar. Walaupun saya tidak suka matematika yang merupakan kelemahan saya, tapi soal-soal ini tergolong mudah karena menggunakan logika sederhana. Tidak ada soal seperti konsep logaritma atau konsep matematika rumit lainnya yang tidak bermanfaat back saya. Sempat terpikir untuk mengerjakannya dengan asal dan sengaja memilih jawaban yang salah. Tapi harga diri saya tidak mengizinkannya. Bagaimanapun juga saya mengerjakannya dengan sungguh-sungguh dan sepertinya Allah memberikan kemudahan bagi saya untuk mengerjakan tiap soalnya. Saat itu yang mendaftar ke PGSD Kampus Cibiru kalau tidak salah kurang lebih seribu orang. Yang akan diterima hanya sekitar 10% atau kurang lebih seratus orang. Waktu itu PGSD hanya membuka jalur UM, tidak ada SMPTN/SNMPTN. Saat mendapat pengumuman bahwa saya termasuk yang lulus, entah kenapa bukannya senang, malah jadi galau. Saya sudah berniat memecahkan celengan untuk mendaftar SMPTN. Saya sudah berlatih soal-soal IPC yang bukunya tiap hari saya bawa kemana-mana, saya baca dan saya kerjakan dimana-mana. Waktu itu orang tua meminta saya tidak perlu daftar SMPTN dan mengambil UM yang telah jelas-jelas saya lulus. Nah kembali lagi pada Sang Murabbi. Saat saya menontonnya, saya jadi takjub pada Ust. Rahmat Abdullah. Asli, pengen nangis. Entah karena filmnya atau karena itu liqa terakhir dengan murabbiyah saya dan dengan teman-teman halaqah yang selama tiga tahun membersamai saya dalam suka dan duka, saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran. Pokonya setelah menonton film ini saya jadi pasrah menerima takdir sebagai mahasiswa UPI Kampus Cibiru jurusan PGSD. Saya terkesan dengan Ust. Rahmat Abdullah yang cita-citanya ingin menjadi guru karena pahala yang tidak pernah putus walaupun jasad sudah berada dalam liang lahat. Dan beliau begitu menurut pada ibunya, saat ibunya melarang beliau kuliah di Al Azhar Mesir. Beliau rela melepaskan kesempatan emas jadi mahasiswa Al Azhar demi menuruti perintah ibunya tinggal di Indonesia. Setelah istikharah beliau menolak beasiswa itu. Ladang dakwah tersebar dimana-mana dan beliau memilih untuk menyemainya di Indonesia. Saya pun istikharah dan mantap untuk mengambil kelulusan UM, mengurungkan niat untuk ikut SMPTN. Saat mulai menjadi mahasiswa di kampus, masih ada terbersit pikiran "Why am I here? I don't belong here.." Saya berusaha mengenyahkan pikiran itu. Waktu masa orientasi salah satu dosen bertanya dikelas, "Siapa di sini yang masuk PGSD karena disuruh orang tua? " Saya mengacungkan tangan... Ternyata tidak hanya saya, hampir semuanya mengacungkan tangan! Setelah ditelusuri, rata-rata keluarga teman-teman saya adalah guru SD.. Mereka dapat informasi tentang jurusan PGSD dari keluarganya. Ya setidaknya saya tidak merasa sendirian. Banyak teman-teman yang senasib sepenanggungan dengan saya. Dan yang mengejutkan saat saya berkuliah di sana adalah "Saya mencintai kampus ini!" Direktur yang sangat berwibawa Prof. Dr. Juntika Nurihsan.. Dosen-dosen yang 90% keren-keren.. Apalagi dosen-dosen IPA 100% keren. Mereka idealis, mengayomi mahasiswa-mahasiswinya, memberikan perkuliahan dengan baik, dan pada rajin! Menurut informasi, di kampus yang lain, dosen-dosennya jarang hadir ke kelas. Dan saya benar-benar bersyukur dengan fasilitas ORMAWA dan UKM di kampus saya yang membuat saya semakin cinta dengan Kampus Cibiru. Saya betah diam di kampus sampai sore karena ikut kegiatan di luar perkuliahan. Bahkan hari libur pun ke kampus karena banyak kegiatan mahasiswa yang menyenangkan. Ya pokoknya banyak cerita di kampus ini. Saya benar-benar sudah jatuh cinta dengan Kampus Cibiru sampai-sampai lulusnya lebih dari 8 semester. Hahah, ini mah alasan weh. Ya, lumayan sedih juga saat saya lulus di smt 10.. Itu berarti saya tidak punya alasan yang kuat lagi buat sering-sering ke kampus. Naik ke atas torn air kampus, pakai alat pemotong rumput caraka kampus, melewati jalan rahasia selain gerbang kampus, main tin whistle di saung di bawah pohon kelapa di depan hamparan sawah hijau di salah satu sudut kampus, mencorat-coret kertas di ruang seni rupa pakai acrylic, crayon, pensil warna, kertas A3 yang bebas saya gunakan secara gratis, memainkan keyboard di ruang seni musik, meloncati pagar gerbang kampus yang sudah digembok, tidur di ruang poliklinik saat sakit, menyendiri di as sakinah.. Banyak me time yang saya lakukan di kampus saat saya butuh waktu sendirian..
Dan saya juga bertemu seorang kakak tingkat yang sekarang menjadi suami saya.. Di kampus..
Yes I have a lot of memories in that campus. And I proud to be a teacher. ლ(⌒▽⌒ლ)