Saya bersyukur memiliki seorang ayah yang menyayangi kami tanpa henti..
Saya ingat saat ayanh menggendong saya yang pura-pura tidur di sofa agar dipindahkan ke kasur..
Saya ingat ayah yang selalu membawakan oleh-oleh saat pulang kerja walaupun hanya sebutir permen..
Saya ingat ayah yang bermain pipindingan dengan saya dan adik..
Saya ingat ayah yang mendudukan saya di bahunya sambil melompat-lompat menghibur kami..
Saya ingat ayah yang memotong poni rambut saya agar mata saya tidak terganggu..
Saya ingat ayah yang senantiasa mengantarkan saya ke sekolah..
Saya ingat ayah yang selalu berkata lembut.. Pernah suatu ketika saat SMA ayah berkata kasar pada saya "Mantog siah!" Dulu saya kaget karena nada tinggi yang ayah ucapkan disertai gebrakan pintu yang ditutup dengan keras. Saya pergi ke rumah nenek karena tidak berani masuk rumah. Saat saya menanyakan apa arti kata-kata yang diucapkan ayah, nenek heran dan balik bertanya kesalahan saya. Saya tahu hari itu saya salah karena pulang melewati waktu maghrib tanpa memberi kabar. Saya ditawari senior untuk ikut ekskul karate. Saya tertarik karena diiming-imingi nilai tambahan olah raga. Nilai olah raga saya selalu rendah, senior saya bilang nilai olahraga di raport akan ditambah kalau ikut karate karena senseinya guru olah raga. Waktu latihannya tiap hari selasa dan jum'at ba'da ashar sampai maghrib. Saya shalat maghrib di mesjis sekolah, jadi baru pulang sekitar pukul setengah tujuh. Itu pertama kalinya saya pulang selarut itu. Ibu saya mengecek ke rumah nenek, memastikan saya sudah makan atau belum. Malam itu saya menginap di rumah nenek. Besoknya saya meminta maaf pada ayah. Saya tau ayah marah karena khawatir. Akhirnya mulai saat itu setiap selasa dan jum'at ibu membuatkan bekal untuk makan siang. Dan tiap selasa dan jum'at ayah tidak hanya mengantar saat pagi, tapi juga menjemput di sore hari sambil menonton saya yang sedang latihan.
Saya ingat ayah yang selalu menyempatkan waktunya untuk saya..
Saya ingat air matanya yang mengalir saat harus melepaskan saya pada orang yang telah menjadi suami saya saat akad dan sungkeman..
Saya bersyukur masih memiliki ayah yang tetap menyayangi saya..
Kebanggaan terbesar bagi saya adalah ayah yang selalu mencintai ibu dengan sepenuh hati, kesetiaannya mendampingi ibu yang telah melahirkan saya, dukungannya pada pendidikan ibu untuk melanjutkan D3, S1, dan untuk mengamalkan ilmunya, kemandiriannya mencuci baju sendiri, memasak telur sendiri, membereskan rumah dengan sangat rapi. Saya tidak khawatir saat harus merantau setelah menikah, karena saya tau akan selalu ada yang mencintai ibu setiap hari, akan selalu ada ayah untuk ibu..
Friday, May 20, 2016
Wednesday, May 18, 2016
Cara menanggulangi kutu air
Setelah menikah dan banyak menghabiskan waktu di kamar mandi setiap hari untuk nyuci baju, nyuci piring, nyikat keramik kamar mandi, dll saya mengalami hal yang tidak pernah saya alami sebelumnya. Sela-sela jari kaki saya terasa gatal, perih, dan mengelupas, terkadang sampai keluar darah. Setelah searching di google ternyata itu indikasi saya terjangkit kutu air. Saya mencari cara mengobatinya dan banyak mendapatkan referensi, ada yang alami dan ada yang menggunakan salep dari apotek. Saya mencoba cara alami dengan merendam kaki di air garam. Dulu waktu karate di SMA sensei sering merekomendasikan untuk merendam kaki di air hangat yang ditaburi garam untuk mencegah farises dan melancarkan peredaran darah. Tapi saya tidak pernah mencobanya saking lelahnya pulang karate langsung tiduran di kasur. Sekarang saya mencobanya untuk tujuan berbeda. Dan saya merasa nyaman setelah merendam kaki di air garam yang hangat. 3 hari saya melakukan terapi ini selama kurang lebih 15 menit sehari, kaki saya kembali nyaman dan tidak sakit lagi. Walaupun suami mengejek saya manja kayak putri aja meni pedi. Tapi saya tetap rutin merendam kaki saya selama 3 hari berturut-turut. Saya tidak mau merasakan perih saat harus beraktivitas tiap hari di kamar mandi. Setelah menikah saya jarang merawat diri, saking ngerasa ga sempet punya waktu buat diri sendiri mandi aja udah merupakan hal istimewa bagi saya. Saat Hawnan tidur terkadang saya nyuri-nyuri waktu buat mandi walaupun masih banyak kerjaan yang belum beres..
Tuesday, May 17, 2016
Never lose my self
Hanya ingin memperjelas identitas saya sebagai manusia di planet ini. Kekonsistenan yang tetap ada dalam diri seorang saya walaupun di luar terlihat perubahan. Mungkin ini topeng saya untuk berbaur dengan manusia planet ini. Setiap manusia harus punya identitas untuk bisa diakui sebagai manusia dan tidak dicurigai sebagai makhluk asing yang datang dari planet lain. Akta kelahiran, raport, ijazah, KTP, dan dokumen-dokumen lain sangat diperlukan untuk legalitas dan kemudahan hidup di planet ini. Hajimemashite.
Nama Lengkap: Sinta Legian Wulandari
Nama panggilan: Sinta, Swiquette, Swi (walaupun masih banyak panggilan lain tapi ini yang paling sering)
TTL: Bandung, 18 Juli 1991
Domisili: Planet Bumi
Golongan darah: Berubah-ubah (saat SD dicek B, SMP jadi A) Ibu saya A, ayah saya B, mungkin saya AB. Mungkin A, mungkin B. Entahlah. Tapi kemungkinan besar A, kenapa?
1. Karena waktu SD yang ngecek dari puskesmas, waktu SMP dari PMI, jadi kemungkinan hasil yang salah saat SD.
2. Karena waktu SMA dicek sama temen jurusan IPA (dulu saya anak bahasa) di lab IPA hasilnya A.
3. Karena masih ragu sama temen SMA yang ngecek, waktu kuliah maksa-maksa ke PMI yang lagi ada kegiatan donor darah di kampus buat pangecekin gol darah saya dan hasilnya A. (Saya maksa-maksa minta cek gol darah walaupun saya udah ditolak donor karena kurang berat badan)
4. Karena kepribadian saya cenderung pada kepribadian umum gol darah A. Saya ga terlalu percaya karena lebih pada pemikiran bahwa tiap individu itu unik dan berbeda dengan yang lainnya. Tapi pada kenyataannya saya memang cenderung perfeksionis, gampang stress kalau ada hal yang tidak sesuai keinginan, ingin sesuai aturan dan legalitas hukum yang berlaku, memasang tampang baik-baik saja padahal di dalem pikiran terjadi guncangan, badai, gelombang, tsunami, dll. Ya saya tidak bisa berhenti berpikir. Hal yang paling saya suka adalah berjalan kaki sambil memikirkan banyak hal. Memikirkan hal-hal yang tidak penting. Seperti keberadaan makhluk lain di luar tata surya yang tiba-tiba menginvasi bumi dan menculik saya yang sedang berjalan di galengan sawah hijau membentang. Lalu mereka membawa saya keluar dari galaksi bima sakti. Naon sih.. -_-" Ya mungkin ini yang menyebabkan saya tetep kurus. I can't stop thinking. Berpikir kan bisa mengurangi kalori dalam jumlah besar.
Warna favorite: Hijau
Sepatu favorite: Sneaker
Makanan favorite: Coklaaaaaat
Minuman favorite: Carrot juice
Hewan favorite: Laba-laba &.Tarantula
Tanaman favorite: Kaktus
Sayuran favorite: Buncis
Buah favorite: Anggur hijau (ga suka buah, tapi anggur kan kecil, paling cuman makan satu butir)
Daging favorite: Beefsteak buatan ibu enak banget
Ikan favorite: Ga ada (kecuali ikan yang dipressto atau ikan yang tulangnya gede baru suka)
Tempat favorite: Library
Kedai favorite: Jigoku ramen
Olah raga favorite: Karate
Aktivitas favorite: Reading, Drawing, Painting, Writing, Watching
Penulis favorite: Sir Arthur Conan Doyle & Dan Brown
Pelukis favorite: Van Gogh
Produser favorite: Mark Gatiss & Steven Moffat
Buku favorite: Sherlock Holmes
Alat musik favorite: Tin whistle, harmonica, upright piano (masih angan-angan)
Lagu favorite: Indonesia Raya (W.R. Supratman)
Permainan favorite: Catur
Mainan favorite: Cube & Yoyo
Pemandangan favorite: Sawah yang hijau dan langit malam yang penuh bintang
Kendaraan favorite: Pesawat ulang alik hahah. I like just walking on my foot actually..
Subject favorite: Bahasa & sains
Friday, May 13, 2016
Arti sebuah nama
Saya pernah menanyakannya pada ibu saat SMA. Waktu itu salah satu guru di kelas menanyakan arti setiap nama siswa yang diabsennya di awal semester kelas XI. Saya ga pernah kepikiran sebelumnya kenapa orangtua saya memberikan nama Sinta Legian Wulandari. Ternyata menurut ibu awalnya ayah akan menamai Legian Wulandari saja karena saat saya lahir ayah baru pulang dari pulau Bali dan kagum dengan keindahan pantai Legian. Akhirnya ayah menamai anak pertama yang sudah dinanti selama dua tahun dengan nama pantai di Indonesia. Hahah. Jadi nanti dipanggilnya Egi cnah. Tapi obaa~chan menambahkan Sinta. Kata ibu itu bahasa Arabnya hari Kamis karena saya lahir pada hari tersebut. Saya mengkonfirmasi pada obaa~chan..
Obaa~chan: "Sanes bahasa Arab, tapi bahasa Sunda kuno.. Sin hartosna Kemis.. Tapi Sin naon.. Jadi weh Sinta.."
Oooooh...
Wulandari artinya bulan. Dari SD temen-temen suka plesetin Dari Bulan, alien kali. Wulandari bisa berarti bulan purnama, sinar rembulan, dan perasaan pada keadilan. Guru/dosen yang mengabsen pertama kali biasanya langsung nanya, "Dari Bali?" Saya dengan santai menjawab, "Iya, BAndung asLI." Wajar sih kalau yang pertama kali ketemu nyangka saya orang Bali. Nama saya kayak gitu sih. Tapi mereka suka heran dan ketawa kalau saya kepeleset berbicara bahasa Sunda. "Sin, asa aneh kalau kamu ngomong Sunda." Mulai SMP saya berkomunikasi dengan B.Indonesia. Tapi saya menggunakan B.Sunda dengan orang rumah dan teman-teman SD sampai sekarang. Waktu kuliah pernah ada temen yang mendorong untuk pakai B.Sunda aja saat saya keceplosan berbicara B.Sunda. Iya da dia orang Sunda. Tapi saya sadar lingkungan kampus saya heterogen. Tidak semua mengerti B.Sunda. Saya ingat pernah ada teman dari Kaimana protes saat berada di forum Sidang Umum mahasiswa. Dia merasa tidak dihargai saat ada orang yang berbicara B.Sunda karena dia tidak mengerti. Saat berada di kelas Bahasa saya mempelajari bahwa bahasa adalah alat komunikasi. Fungsi tersebut akan hilang saat kita berkomunikasi dengan orang yang tidak mengerti bahasa kita. Indonesia yang terdiri dari berbagai macam suku dan bahasa bisa berkomunikasi walaupun beda daerah dengan adanya bahasa nasional. Guru B.Inggris saya waktu SMA pernah protes saat saya chat dengan menggunakan B.Jepang. "Saya juga ga pake B.Inggris. Pake B.Indonesia aja." Dan saat saya nyaman pakai B.Indonesia dengan satu orang, sulit untuk menggunakan B.Sunda dengan orang itu. Begitupun saat saya sudah terbiasa menggunakan B.Sunda dengan satu orang, jadi aneh kalau saya harus bicara B.Indonesia pada orang itu. Terbiasa menggunakan suatu bahasa pada satu orang akan jadi sulit menggunakan bahasa lain pada orang itu bagi saya. Meskipun saya bisa menggunakan berbagai bahasa, tapi saya cenderung menggunakan satu bahasa untuk satu orang. B.Jepang paling saya gunakan pada orang yang mengerti, atau orang yang saya tidak ingin dia mengerti. Saya suka kode dan sandi rahasia, hanya saya saja yang tahu. Jadi saya juga punya bahasa untuk saya sendiri.
Obaa~chan: "Sanes bahasa Arab, tapi bahasa Sunda kuno.. Sin hartosna Kemis.. Tapi Sin naon.. Jadi weh Sinta.."
Oooooh...
Wulandari artinya bulan. Dari SD temen-temen suka plesetin Dari Bulan, alien kali. Wulandari bisa berarti bulan purnama, sinar rembulan, dan perasaan pada keadilan. Guru/dosen yang mengabsen pertama kali biasanya langsung nanya, "Dari Bali?" Saya dengan santai menjawab, "Iya, BAndung asLI." Wajar sih kalau yang pertama kali ketemu nyangka saya orang Bali. Nama saya kayak gitu sih. Tapi mereka suka heran dan ketawa kalau saya kepeleset berbicara bahasa Sunda. "Sin, asa aneh kalau kamu ngomong Sunda." Mulai SMP saya berkomunikasi dengan B.Indonesia. Tapi saya menggunakan B.Sunda dengan orang rumah dan teman-teman SD sampai sekarang. Waktu kuliah pernah ada temen yang mendorong untuk pakai B.Sunda aja saat saya keceplosan berbicara B.Sunda. Iya da dia orang Sunda. Tapi saya sadar lingkungan kampus saya heterogen. Tidak semua mengerti B.Sunda. Saya ingat pernah ada teman dari Kaimana protes saat berada di forum Sidang Umum mahasiswa. Dia merasa tidak dihargai saat ada orang yang berbicara B.Sunda karena dia tidak mengerti. Saat berada di kelas Bahasa saya mempelajari bahwa bahasa adalah alat komunikasi. Fungsi tersebut akan hilang saat kita berkomunikasi dengan orang yang tidak mengerti bahasa kita. Indonesia yang terdiri dari berbagai macam suku dan bahasa bisa berkomunikasi walaupun beda daerah dengan adanya bahasa nasional. Guru B.Inggris saya waktu SMA pernah protes saat saya chat dengan menggunakan B.Jepang. "Saya juga ga pake B.Inggris. Pake B.Indonesia aja." Dan saat saya nyaman pakai B.Indonesia dengan satu orang, sulit untuk menggunakan B.Sunda dengan orang itu. Begitupun saat saya sudah terbiasa menggunakan B.Sunda dengan satu orang, jadi aneh kalau saya harus bicara B.Indonesia pada orang itu. Terbiasa menggunakan suatu bahasa pada satu orang akan jadi sulit menggunakan bahasa lain pada orang itu bagi saya. Meskipun saya bisa menggunakan berbagai bahasa, tapi saya cenderung menggunakan satu bahasa untuk satu orang. B.Jepang paling saya gunakan pada orang yang mengerti, atau orang yang saya tidak ingin dia mengerti. Saya suka kode dan sandi rahasia, hanya saya saja yang tahu. Jadi saya juga punya bahasa untuk saya sendiri.
Sunday, May 1, 2016
Dibonceng?
Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka jangan sekali-kali dia bersendirian dengan seorang perempuan yang tidak bersama mahramnya, karena yang ketiganya ialah syaitan.” (Riwayat Ahmad)
Sahabat Ummi, saat ini kita sering berhadapan dengan dilema, bolehkah dibonceng motor oleh laki-laki non mahram? Termasuk tukang ojeg, tetangga, atau teman kantor? Berikut sedikit ulasannya.
Hadits no. 4849 dalam kitab Sahih Bukhari; dan hadits no. 2182 dalam kitab Sahih Muslim meriwayatkan tentang Asma binti Abu Bakar (saudari Aisyah dan ipar Nabi) yang pernah diajak naik unta bersama Nabi (boncengan bersama dalam satu kendaraan):
“Dari Asma bin Abu Bakar ... Suatu hari saya datang ke kebun Zubair (suami saya) dan memanggul benih di atas kepala saya. Di tengah jalan saya bertemu Rasulullah bersama sekolompok orang dari Sahabat Anshar. Lalu Nabi memanggilku dan menyuruh untanya (dengan mengatakan "ikh ... ikh") agar merunduk untuk membawaku di belakang Nabi.”
Dalam menganalisa hadits ini, Imam Nawawi dalam Syarh Muslim menyatakan XIV/166:
Hadits ini menunjukkan bolehnya berboncengan (antara lelaki dan perempuan bukan mahram) pada satu kendaraan apabila wanita itu seorang yang taat agamanya. Dalam soal hadits ini ada banyak pendapat ulama yang berbeda antara lain:
(a) adanya sifat belas kasih Nabi pada umat Islam baik laki-laki dan perempuan dan berusaha membantu sebisa mungkin ; (b) Pendapat lain menyatakan bolehnya membonceng perempuan yang bukan mahram apabila dia ditemukan di tengah jalan dalam keadaan kecapean. Apalagi kalau bersama sejumlah laki-laki lain yang saleh. Dalam konteks ini maka tidak diragukan kebolehannya.; (c) Menurut Qadhi Iyad bolehnya ini khusus untuk Nabi saja, tidak yang lain. (Karena) Nabi telah menyuruh kita agar laki-laki dan perempuan saling menjauhkan diri.
Dan biasanya Nabi menjauhi para perempuan dengan tujuan supaya dikuti umatnya. Kasus ini adalah kasus khusus karena Asma adalah putri AbuBakar, saudari Aisyah alias ipar dan istri dari Zubair. Maka, seakan Asma itu seperti salah satu keluarganya. Adapun lelaki membonceng wanita mahram maka hukumnya boleh secara mutlak dalam segala kondisi.
Kesimpulan dari hadits dan tafsir tersebut adalah haramnya berboncengan antara laki-laki dan perempuan non mahram jika menimbulkan syahwat. Artinya, berboncengan diperbolehkan dengan syarat-syarat tertentu.
Syarat-syarat diperbolehkannya antara lain:
1. Tidak terjadi persinggungan badan
Jika Sahabat Ummi berada dalam kondisi harus naik ojek atau dibonceng seseorang yang bukan mahram, usahakan tidak terjadi persentuhan kulit, apalagi sampai memeluk pinggang pembonceng.
Taruhlah tas di tengah-tengah antara pembonceng dengan yang dibonceng. Dan berpeganganlah pada ujung motor, biasanya ada tempat pegangan sehingga kita tetap aman meskipun kecepatan motor agak tinggi.
2. Tidak terjadi khalwat (berdua-duaan di tempat sepi)
Upayakan tidak berboncengan di daerah yang sepi atau di malam hari. Lebih baik dibonceng oleh mahram kita, entah suami, ayah, atau saudara laki-laki kandung jika terjadinya di malam hari.
3. Tidak memiliki maksud buruk atau kecenderungan ke arah syahwat
Kalau kebetulan yang mengajak berboncengan adalah teman kantor, dan kita memiliki kecenderungan suka kepadanya, lebih baik jangan berboncengan dengannya, karena akan menimbulkan hal yang buruk, entah itu berupa penyakit hati, maupun hal lain yang tidak diinginkan.
Nemu di www.ummi-online.com.
Jadi inget kemarin-kemarin. Nyari pulpen buat anak-anak yang beres an-naba. Fotocopyan deket kontrakan tutup. Jadi saya nekat nyari ke fotocopyan di jalan raya, dan naek ojeg karena jaraknya yang lumayan jauh kalau harus jalan kaki. Kalau dulu sebelum nikah bisa aja saya jalan nyampe sana. Tapi sekarang sambil gendong hawnan, lebih mikirin kasihan ke anak. Sempet mikir buat nunggu angkot preman biar lebih murah. Tapi akhirnya milih ojeg karena kasihan ke anak kalau harus nunggu di tengah terik matahari. Jarang sih angkotnya. Ya, lumayan juga sih ongkos yang keluar 5.000, bulak balik jadi 10.000. Pas udah dapet pulpennya, saya harus jalan dulu cukup jauh ke pangkalan ojeg. Tiba-tiba saya ngeliat salah satu rekan pengurus pesantren pakai motor, langsung saya pura-pura ga liat. Khawatir ditawarin dibonceng (gr banget ya). Tapi saya akan lebih memilih keluar uang buat tukang ojeg daripada dibonceng sama teman atau kenalan yang beda gender. Saya selalu ingat kata-kata murabbiyah pertama saya waktu SMA. Lebih baik naik ojeg daripada nebeng ke temen ikhwan. Karena tidak ada yang bisa menjamin hati kita akan menjadi seperti apa kalau nerima bantuan teman. Walaupun niat teman kita baik, tapi kita tidak bisa menjamin hati kita sendiri untuk tidak merasakan sesuatu. Mungkin yang nawarin biasa aja. Tapi kita harus bisa menjaga hati sendiri. Ya, saya sih setuju dengan pendapat itu. Kalau naik ojeg statusnya kayak ke hamba sahaya, saya bayar karena dia menjual jasa. Kalau ke temen ikhwan apa coba statusnya. Walaupun saya membayarnya (nganggap dia tukang ojeg) tapi tetep aja aneh. Ga akan tenang juga perasaan gimana kalau ada yang lihat saya dibonceng sama dia. Kalau hati mulai gelisah dan malu bila orang melihat saat saya melakukan suatu hal, berarti ada satu kepastian: Hal yang saya lakukan adalah dosa. Hati ga akan bisa bohong. Sudah ada filternya mana yang dosa mana yang tidak. Kegelisahan dan ketenangan merupakan perbedaan yang jelas yang bisa dirasakan oleh hati. Saat hati tidak bisa memfilter bahkan merasa tenang dan senang ketika melakukan dosa, maka telah rusaklah hati. Semoga hati saya akan tetap menjalankan fungsinya dengan baik. Semoga idealisme saya yang satu ini tetap ada, meski dalam keadaan darurat. Kalau ga ada ojeg atau angkot, jalan aja! Saya kan masih punya kaki. Haha. Daripada harus merasa berhutang budi sama teman yang bukan mahram. Tapi yang saya rasakan Allah akan memudahkan keteguhan prinsip kita saat kita sungguh-sungguh menjaganya. Ya walaupun temen-temen ada juga yang tersinggung dan menghujat idealisme saya yang satu ini. Inget waktu kuliah teman laki-laki yang marah-marah karena saya tolak tawarannya buat dibonceng dari kampua nyampe jalan raya.
Temen: "Kamu mah kemarin gitu amat meni ga mau dianterin."
Saya: (diem)
Temen: "Ga baik tau, menolak kebaikan orang yang udah niat buat bantuin.."
Saya: "Oh."
Temen: "Kamu mah dibonceng sama tukang ojeg mau, ari sama temen sendiri ga mau."
Saya: (Mulai annoying nih orang)
Temen: "Jawab atuh. Kamu teh punya mulut kan?"
Saya: "Cerewet!! Suka-suka saya mau jalan kaki 10 kilo juga ga ada yang berhak ngelarang!"
Temen: (Kabur)
Andaikan mereka tahu kalau saya menganggap mereka teman bukan tukang ojeg..
Andaikan mereka tahu kalau saya menganggap mereka laki-laki bukan banci..
Mereka pasti ga akan marah-marah.. Saya juga memaklumi kalau mereka amah.. Bagaimanapun juga belum tentu saya lebih baik dari mereka. Mungkin saja dalam pandangan-Mu mereka lebih mulia dari saya. Mungkin saja dalam pandangan-Mu saya lebih hina dari mereka. Tapi saya menolak tawaran mereka karena saya sayang pada mereka yang sudah saya anggap sebagai teman. Untuk menjaga hati mereka.. Terutama untuk menjaga hati saya..
Tapi saya pernah dibuat heran oleh teman kelompok KKN saya. Dia satu-satunya laki-laki di kelompok kami. Saat itu ada acara di kecamatan. Tiap anggota kelompok harus datang. Jarak kecamatan dari desa kami cukup jauh. Baiklah, jauuuuuuuuuuh bangetngetnget... Tidak ada kendaraan umum atau pun ojeg dari posko kami ke jalan raya. Entah berapa kilo jauhnya saya lupa. Tapi ya jauh lah ya.. Saat itu prinsip saya ini bergesekan dengan anggota kelompok lainnya. Mereka ingin sampai tanpa kelelahan. Jadi strateginya dengan motor yang hanya satu, teman saya yang laki-laki mengantarkan tiap anggota perempuan ke kecamatan, bolak balik. Tapi teman saya yang merupakan satu-satunya laki-laki di kelompok kami terlihat khawatir saat memandang saya, dia teman sekelas, jadi tahu gimana saya ga pernah mau dibonceng sama laki-laki.
Temen: "Sin kamu gimana? Gapapa gitu?"
Saya: (Diem)
Temen: "Sama kamu aja atuh sinta mah diboncengnya.. " (Ngeliat temen saya yang perempuan yang bisa mengendarai motor.)
Temen2: Saya kan ga punya SIM. (Dia temen sekelas juga jadi tahu kalau saya suka ga mau dibonceng sama orang yang ga punya SIM juga walaupun gendernya sama kayak saya.)
Temen: "Tapi sinta pasti bakalan lebih milih dibonceng sama kamu daripada sama saya."
(Masuk akal. Dia seperti bisa membaca pikiran saya. Kalau keadaan terdesak seperti itu saya akan lebih tenang dibonceng sama perempuan walaupun ga punya SIM daripada sama laki-laki walaupun punya SIM. Tapi yang lebih membuat saya tenang..)
Saya: "Saya mau jalan kaki aja ntar naik angkot. "
Temen: "Jauh tau. Dan jam segini angkot jarang."
Saya: "Gpp."
Temen2: "Kamu segitu suka nyasar, malah mau jalan kaki sejauh itu."
Temen3: "Iya, kumaha mun aya nu nyulik? "
Saya: -_-" "Emangnya siapa yang mau nyulik saya? "
Temen3: "Alien. Ntar dibawa am Mars. "
Saya: "Mau banget."
Temen4: "Udah atuh sin, gapapa sekali mah dibonceng sama laki-laki, lagian dia kan ketua kita yang harus mengayomi dan memastikan keselamatan anggotanya. "
Saya: "Saya jalan kaki aja. "
Mereka: -_-"
Temen: "Ada yang mau nemenin sinta jalan kaki?"
Temen3: "Ya udah saya jalan juga."
Temen2: "Saya juga jalan aja.."
Temen4: "Saya juga.. "
Temen5: "Saya juga deh.. "
Temen: "Wah jadinya mau pada jalan kaki? Motor gimana? "
Temen2: "Sama kamu aja bawa, bisi ada apa-apa. "
Dan akhirnya saya jalan kaki bersama teman-teman..
Di jalan..
Saya: "Padahal kalian ga usah ikutan jalan.. Kan cape.. "
Temen2: "Emang.. "
Temen3: "Gapapa atuh sin, kita kan temen."
Temen4: "Kita kan harus ngelindungi kamu. Kamu tea, teralihkan sedikit langsung nyasar, liat laba-laba lucu dikit langsung diikutin meski ka leuweung. "
Saya: -_-"
Tapi asli terharu banget sama temen-temen KKN, saya ngerasa dihargai sebagai teman sebagai perempuan sebagai manusia.. Hiks.. :')
Setelah sampai jalan raya kami tidak menemukan angkot dan terus berjalan ke arah kecamatan.. Bener-bener kerasa, sore-sore jalan kaki sejauh itu di bulan ramadhan.. Tiba-tiba ada mobil polisi melintas dan berhenti saat melihat jaket KKN dan logo UPI yang kami kenakan..
Pak polisi: "Mau pada kemana neng?"
Kami: "Kecamatan pak."
Pak polisi: "Hayu atuh. Bapa juga mau ke sana. Bisi kaburu maghrib. Kecamatan kan masih jauh. "
Yeeeeeeeeee... Alhamdulillah... Dikasih tumpangan sama pak polisi yang baik hati. Walaupun rasanya aneh naik mobil polisi kayak tahanan, tapi kami lega tidak perlu berjalan lagi. Setelah sampai di sana buka puasanya kerasa nikmat banget da cape pisan. Semua kelompok dari tiap desa di kecamatan itu hadir. Kami bisa bertemu dan bercengkrama dengan teman-teman dari posko lain. Karena angkatan 2009 hanya terdiri dari 3 kelas dan kami sudah sering berinteraksi di kampus saat berorganisasi jadi bisa deket walaupun berbeda kelompok, kelas, atau perbedaan lainnya. Banyak kegiatan wajib yang harus kami ikuti dari saat tingkat 1, otomatis karena hanya 120an mahasiswa jadi saling kenal walaupun beda kelas. Jadi kangen temen-temen KKN..
Sahabat Ummi, saat ini kita sering berhadapan dengan dilema, bolehkah dibonceng motor oleh laki-laki non mahram? Termasuk tukang ojeg, tetangga, atau teman kantor? Berikut sedikit ulasannya.
Hadits no. 4849 dalam kitab Sahih Bukhari; dan hadits no. 2182 dalam kitab Sahih Muslim meriwayatkan tentang Asma binti Abu Bakar (saudari Aisyah dan ipar Nabi) yang pernah diajak naik unta bersama Nabi (boncengan bersama dalam satu kendaraan):
“Dari Asma bin Abu Bakar ... Suatu hari saya datang ke kebun Zubair (suami saya) dan memanggul benih di atas kepala saya. Di tengah jalan saya bertemu Rasulullah bersama sekolompok orang dari Sahabat Anshar. Lalu Nabi memanggilku dan menyuruh untanya (dengan mengatakan "ikh ... ikh") agar merunduk untuk membawaku di belakang Nabi.”
Dalam menganalisa hadits ini, Imam Nawawi dalam Syarh Muslim menyatakan XIV/166:
Hadits ini menunjukkan bolehnya berboncengan (antara lelaki dan perempuan bukan mahram) pada satu kendaraan apabila wanita itu seorang yang taat agamanya. Dalam soal hadits ini ada banyak pendapat ulama yang berbeda antara lain:
(a) adanya sifat belas kasih Nabi pada umat Islam baik laki-laki dan perempuan dan berusaha membantu sebisa mungkin ; (b) Pendapat lain menyatakan bolehnya membonceng perempuan yang bukan mahram apabila dia ditemukan di tengah jalan dalam keadaan kecapean. Apalagi kalau bersama sejumlah laki-laki lain yang saleh. Dalam konteks ini maka tidak diragukan kebolehannya.; (c) Menurut Qadhi Iyad bolehnya ini khusus untuk Nabi saja, tidak yang lain. (Karena) Nabi telah menyuruh kita agar laki-laki dan perempuan saling menjauhkan diri.
Dan biasanya Nabi menjauhi para perempuan dengan tujuan supaya dikuti umatnya. Kasus ini adalah kasus khusus karena Asma adalah putri AbuBakar, saudari Aisyah alias ipar dan istri dari Zubair. Maka, seakan Asma itu seperti salah satu keluarganya. Adapun lelaki membonceng wanita mahram maka hukumnya boleh secara mutlak dalam segala kondisi.
Kesimpulan dari hadits dan tafsir tersebut adalah haramnya berboncengan antara laki-laki dan perempuan non mahram jika menimbulkan syahwat. Artinya, berboncengan diperbolehkan dengan syarat-syarat tertentu.
Syarat-syarat diperbolehkannya antara lain:
1. Tidak terjadi persinggungan badan
Jika Sahabat Ummi berada dalam kondisi harus naik ojek atau dibonceng seseorang yang bukan mahram, usahakan tidak terjadi persentuhan kulit, apalagi sampai memeluk pinggang pembonceng.
Taruhlah tas di tengah-tengah antara pembonceng dengan yang dibonceng. Dan berpeganganlah pada ujung motor, biasanya ada tempat pegangan sehingga kita tetap aman meskipun kecepatan motor agak tinggi.
2. Tidak terjadi khalwat (berdua-duaan di tempat sepi)
Upayakan tidak berboncengan di daerah yang sepi atau di malam hari. Lebih baik dibonceng oleh mahram kita, entah suami, ayah, atau saudara laki-laki kandung jika terjadinya di malam hari.
3. Tidak memiliki maksud buruk atau kecenderungan ke arah syahwat
Kalau kebetulan yang mengajak berboncengan adalah teman kantor, dan kita memiliki kecenderungan suka kepadanya, lebih baik jangan berboncengan dengannya, karena akan menimbulkan hal yang buruk, entah itu berupa penyakit hati, maupun hal lain yang tidak diinginkan.
Nemu di www.ummi-online.com.
Jadi inget kemarin-kemarin. Nyari pulpen buat anak-anak yang beres an-naba. Fotocopyan deket kontrakan tutup. Jadi saya nekat nyari ke fotocopyan di jalan raya, dan naek ojeg karena jaraknya yang lumayan jauh kalau harus jalan kaki. Kalau dulu sebelum nikah bisa aja saya jalan nyampe sana. Tapi sekarang sambil gendong hawnan, lebih mikirin kasihan ke anak. Sempet mikir buat nunggu angkot preman biar lebih murah. Tapi akhirnya milih ojeg karena kasihan ke anak kalau harus nunggu di tengah terik matahari. Jarang sih angkotnya. Ya, lumayan juga sih ongkos yang keluar 5.000, bulak balik jadi 10.000. Pas udah dapet pulpennya, saya harus jalan dulu cukup jauh ke pangkalan ojeg. Tiba-tiba saya ngeliat salah satu rekan pengurus pesantren pakai motor, langsung saya pura-pura ga liat. Khawatir ditawarin dibonceng (gr banget ya). Tapi saya akan lebih memilih keluar uang buat tukang ojeg daripada dibonceng sama teman atau kenalan yang beda gender. Saya selalu ingat kata-kata murabbiyah pertama saya waktu SMA. Lebih baik naik ojeg daripada nebeng ke temen ikhwan. Karena tidak ada yang bisa menjamin hati kita akan menjadi seperti apa kalau nerima bantuan teman. Walaupun niat teman kita baik, tapi kita tidak bisa menjamin hati kita sendiri untuk tidak merasakan sesuatu. Mungkin yang nawarin biasa aja. Tapi kita harus bisa menjaga hati sendiri. Ya, saya sih setuju dengan pendapat itu. Kalau naik ojeg statusnya kayak ke hamba sahaya, saya bayar karena dia menjual jasa. Kalau ke temen ikhwan apa coba statusnya. Walaupun saya membayarnya (nganggap dia tukang ojeg) tapi tetep aja aneh. Ga akan tenang juga perasaan gimana kalau ada yang lihat saya dibonceng sama dia. Kalau hati mulai gelisah dan malu bila orang melihat saat saya melakukan suatu hal, berarti ada satu kepastian: Hal yang saya lakukan adalah dosa. Hati ga akan bisa bohong. Sudah ada filternya mana yang dosa mana yang tidak. Kegelisahan dan ketenangan merupakan perbedaan yang jelas yang bisa dirasakan oleh hati. Saat hati tidak bisa memfilter bahkan merasa tenang dan senang ketika melakukan dosa, maka telah rusaklah hati. Semoga hati saya akan tetap menjalankan fungsinya dengan baik. Semoga idealisme saya yang satu ini tetap ada, meski dalam keadaan darurat. Kalau ga ada ojeg atau angkot, jalan aja! Saya kan masih punya kaki. Haha. Daripada harus merasa berhutang budi sama teman yang bukan mahram. Tapi yang saya rasakan Allah akan memudahkan keteguhan prinsip kita saat kita sungguh-sungguh menjaganya. Ya walaupun temen-temen ada juga yang tersinggung dan menghujat idealisme saya yang satu ini. Inget waktu kuliah teman laki-laki yang marah-marah karena saya tolak tawarannya buat dibonceng dari kampua nyampe jalan raya.
Temen: "Kamu mah kemarin gitu amat meni ga mau dianterin."
Saya: (diem)
Temen: "Ga baik tau, menolak kebaikan orang yang udah niat buat bantuin.."
Saya: "Oh."
Temen: "Kamu mah dibonceng sama tukang ojeg mau, ari sama temen sendiri ga mau."
Saya: (Mulai annoying nih orang)
Temen: "Jawab atuh. Kamu teh punya mulut kan?"
Saya: "Cerewet!! Suka-suka saya mau jalan kaki 10 kilo juga ga ada yang berhak ngelarang!"
Temen: (Kabur)
Andaikan mereka tahu kalau saya menganggap mereka teman bukan tukang ojeg..
Andaikan mereka tahu kalau saya menganggap mereka laki-laki bukan banci..
Mereka pasti ga akan marah-marah.. Saya juga memaklumi kalau mereka amah.. Bagaimanapun juga belum tentu saya lebih baik dari mereka. Mungkin saja dalam pandangan-Mu mereka lebih mulia dari saya. Mungkin saja dalam pandangan-Mu saya lebih hina dari mereka. Tapi saya menolak tawaran mereka karena saya sayang pada mereka yang sudah saya anggap sebagai teman. Untuk menjaga hati mereka.. Terutama untuk menjaga hati saya..
Tapi saya pernah dibuat heran oleh teman kelompok KKN saya. Dia satu-satunya laki-laki di kelompok kami. Saat itu ada acara di kecamatan. Tiap anggota kelompok harus datang. Jarak kecamatan dari desa kami cukup jauh. Baiklah, jauuuuuuuuuuh bangetngetnget... Tidak ada kendaraan umum atau pun ojeg dari posko kami ke jalan raya. Entah berapa kilo jauhnya saya lupa. Tapi ya jauh lah ya.. Saat itu prinsip saya ini bergesekan dengan anggota kelompok lainnya. Mereka ingin sampai tanpa kelelahan. Jadi strateginya dengan motor yang hanya satu, teman saya yang laki-laki mengantarkan tiap anggota perempuan ke kecamatan, bolak balik. Tapi teman saya yang merupakan satu-satunya laki-laki di kelompok kami terlihat khawatir saat memandang saya, dia teman sekelas, jadi tahu gimana saya ga pernah mau dibonceng sama laki-laki.
Temen: "Sin kamu gimana? Gapapa gitu?"
Saya: (Diem)
Temen: "Sama kamu aja atuh sinta mah diboncengnya.. " (Ngeliat temen saya yang perempuan yang bisa mengendarai motor.)
Temen2: Saya kan ga punya SIM. (Dia temen sekelas juga jadi tahu kalau saya suka ga mau dibonceng sama orang yang ga punya SIM juga walaupun gendernya sama kayak saya.)
Temen: "Tapi sinta pasti bakalan lebih milih dibonceng sama kamu daripada sama saya."
(Masuk akal. Dia seperti bisa membaca pikiran saya. Kalau keadaan terdesak seperti itu saya akan lebih tenang dibonceng sama perempuan walaupun ga punya SIM daripada sama laki-laki walaupun punya SIM. Tapi yang lebih membuat saya tenang..)
Saya: "Saya mau jalan kaki aja ntar naik angkot. "
Temen: "Jauh tau. Dan jam segini angkot jarang."
Saya: "Gpp."
Temen2: "Kamu segitu suka nyasar, malah mau jalan kaki sejauh itu."
Temen3: "Iya, kumaha mun aya nu nyulik? "
Saya: -_-" "Emangnya siapa yang mau nyulik saya? "
Temen3: "Alien. Ntar dibawa am Mars. "
Saya: "Mau banget."
Temen4: "Udah atuh sin, gapapa sekali mah dibonceng sama laki-laki, lagian dia kan ketua kita yang harus mengayomi dan memastikan keselamatan anggotanya. "
Saya: "Saya jalan kaki aja. "
Mereka: -_-"
Temen: "Ada yang mau nemenin sinta jalan kaki?"
Temen3: "Ya udah saya jalan juga."
Temen2: "Saya juga jalan aja.."
Temen4: "Saya juga.. "
Temen5: "Saya juga deh.. "
Temen: "Wah jadinya mau pada jalan kaki? Motor gimana? "
Temen2: "Sama kamu aja bawa, bisi ada apa-apa. "
Dan akhirnya saya jalan kaki bersama teman-teman..
Di jalan..
Saya: "Padahal kalian ga usah ikutan jalan.. Kan cape.. "
Temen2: "Emang.. "
Temen3: "Gapapa atuh sin, kita kan temen."
Temen4: "Kita kan harus ngelindungi kamu. Kamu tea, teralihkan sedikit langsung nyasar, liat laba-laba lucu dikit langsung diikutin meski ka leuweung. "
Saya: -_-"
Tapi asli terharu banget sama temen-temen KKN, saya ngerasa dihargai sebagai teman sebagai perempuan sebagai manusia.. Hiks.. :')
Setelah sampai jalan raya kami tidak menemukan angkot dan terus berjalan ke arah kecamatan.. Bener-bener kerasa, sore-sore jalan kaki sejauh itu di bulan ramadhan.. Tiba-tiba ada mobil polisi melintas dan berhenti saat melihat jaket KKN dan logo UPI yang kami kenakan..
Pak polisi: "Mau pada kemana neng?"
Kami: "Kecamatan pak."
Pak polisi: "Hayu atuh. Bapa juga mau ke sana. Bisi kaburu maghrib. Kecamatan kan masih jauh. "
Yeeeeeeeeee... Alhamdulillah... Dikasih tumpangan sama pak polisi yang baik hati. Walaupun rasanya aneh naik mobil polisi kayak tahanan, tapi kami lega tidak perlu berjalan lagi. Setelah sampai di sana buka puasanya kerasa nikmat banget da cape pisan. Semua kelompok dari tiap desa di kecamatan itu hadir. Kami bisa bertemu dan bercengkrama dengan teman-teman dari posko lain. Karena angkatan 2009 hanya terdiri dari 3 kelas dan kami sudah sering berinteraksi di kampus saat berorganisasi jadi bisa deket walaupun berbeda kelompok, kelas, atau perbedaan lainnya. Banyak kegiatan wajib yang harus kami ikuti dari saat tingkat 1, otomatis karena hanya 120an mahasiswa jadi saling kenal walaupun beda kelas. Jadi kangen temen-temen KKN..
Subscribe to:
Posts (Atom)