Sunday, July 31, 2016
Invisible umbrella
Salah satu perubahan setelah saya menikah adalah pakai payung. Sejak dulu saya anti banget sama yang namanya payung. Tepatnya sejak insiden saat SMP yang hampir membuat saya mati tertabrak truk. Saat itu hujan angin dan saya berjalan sambil menggenggam payung. Perjalanan menanjak sambil melawan angin dan hujan yang deras. Tiba-tiba angin bertiup sangat kencang dan menerbangkan payung beserta dengan diri saya yang ikut terseret karena tetap menggenggam payung. Saya diterbangkan sampai ke tengah jalan dan sebuah truk besar melaju turun dengan cepat ke arah saya, membunyikan klakson yang mendengung-dengung di telinga dan otak saya. Entah bagaimana saya bisa selamat saat itu.. Saya pulang sambil menangis karena masih shock dengan kejadian itu. Tapi air mata saya tersamarkan oleh air hujan yang membasahi seluruh tubuh saya. Sejak saat itu saya trauma kalau harus pakai payung. Saya lebih memilih jas hujan atau lebih baik basah kuyup kehujanan. Tapi sekarang setelah punya anak mau tidak mau saya harus melawan rasa trauma terhadap payung. Kalau sendiri saya akan lebih milih kehujanan, tapi kalau sama anak tentu saya tidak mau dia kehujanan. Saat saya membeli payung yang transparan suami protes karena menganggap seperti payung mainan. Tapi saya lebih bisa mengendalikan rasa trauma saya kalau memakai payung ini. Jadi seperti tidak pakai payung. Sebenarnya saya sangat suka hujan dan tidak pernah ragu untuk hujan-hujanan. Air yang turun dari langit terasa sejuk dan membuat saya merasa nyaman walaupun harus basah. Saya sangat suka hujan dan patrikor. 🎶
Tuesday, July 19, 2016
Presence can never be replace by present
Sedang memikirkan pendidikan untuk anak saya kelak. Lagi banyak yang mempengaruhi baik langsung atau tidak langsung untuk memasukkan anak ke ponpes. Tapi..
Dulu saat menjelang SMP, teman2 SD saya mengajak untuk masuk pesantren. Katanya seru bisa mondok di pesantren. Saat saya menyampaikan ide tersebut pada ibu, beliau tidak mengizinkan..
"Ibu sanggup keneh ngurus sareng ngadidik sinta." Begitu beliau berucap.
Saya sempat kecewa karena tidak bisa bersama teman2 lagi. Tapi sekarang saya mulai paham dan mensyukurinya. Saya masuk SMP negeri dan mengikuti organisasi yang menempa saya. Ada asramanya juga walaupun hanya beberapa hari. Organisasi yang mendidik saya untuk tidak makan dan minum sambil berdiri, untuk tidak membuang-buang waktu dengan pacaran, untuk shalat tepat waktu dan berjamaah, untuk bertutur kata baik, untuk selalu percaya diri, untuk menghargai sejarah, untuk tidak membuang sampah sembarangan, untuk melatih keahlian paskibra.. Saat SMA saya masuk ke SMA negeri dan mengikuti organisasi rohis. Ternyata saya baru tahu rohis SMA saya terkenal rohis yang kuat di kota Bandung sampai-sampai rohis SMA saya dijuluki pesantren dalam sekolah negeri. Setelah cukup lama berada di dalamnya saya menyadari kekuatan ukhuwah yang bisa membuat rohis ini tetap berjalan dengan baik. Alumni-alumni yang tidak meninggalkan adik-adiknya walaupun sudah kuliah atau menikah.. Saat kuliah di universitas negeri saya juga mengikuti kegiatan rohis di kampus. Walaupun saya tidak masuk pesantren saya bersyukur bisa bertemu dengan murabbi dan murabbiyah hebat serta teman-teman yang selalu memberikan semangat untuk terus beribadah dan berjuang di jalan Allah. Dan yang paling saya syukuri saya punya kesempatan untuk bertemu orang tua dan keluarga saya setiap hari di rumah. Walaupun kegiatan saya di luar sangat banyak, tapi saya bisa pulang dan melihat wajah ibu, ayah, dan adik yang saya cintai, setiap hari.. Adanya kebersamaan setiap hari dengan orang-orang yang saya cintai merupakan hal yang berharga bagi saya. Saya ingat selalu mengapa ibu tidak mengizinkan saya masuk pesantren..
"Ibu sanggup keneh ngurus sareng ngadidik sinta. Ibu palay papendak sareng sinta unggal dinten.."
Itu yang membuat saya tidak pernah melewatkan do'a untuknya selesai shalat.. Saya menyayanginya, orang yang selalu sabar terhadap saya, orang yang tidak ingin saya jauh darinya, orang yang selalu mengkhawatirkan kondisi saya, tapi orang yang harus rela melepaskan saya setelah saya menikah. Saya makin paham dan mengerti pikiran dan perasaannya setelah saya dikaruniai anak perempuan. Makin banyaknya pesantren yang bisa memfasilitasi anak untuk mendapat didikan dan lingkungan yang baik adalah sebuah pilihan. Tapi mendidik dan membersamai anak perempuannya setiap hari sampai dia ditakdirkan pergi bersama suaminya juga adalah pilihan.. Karena waktu tidak bisa kembali.. Karena kebersamaan yang penuh ketulusan tidak bisa dibeli oleh apapun.. Presence can never be replace by present. Saya ingin terus menggali tentang homeschooling..
Dulu saat menjelang SMP, teman2 SD saya mengajak untuk masuk pesantren. Katanya seru bisa mondok di pesantren. Saat saya menyampaikan ide tersebut pada ibu, beliau tidak mengizinkan..
"Ibu sanggup keneh ngurus sareng ngadidik sinta." Begitu beliau berucap.
Saya sempat kecewa karena tidak bisa bersama teman2 lagi. Tapi sekarang saya mulai paham dan mensyukurinya. Saya masuk SMP negeri dan mengikuti organisasi yang menempa saya. Ada asramanya juga walaupun hanya beberapa hari. Organisasi yang mendidik saya untuk tidak makan dan minum sambil berdiri, untuk tidak membuang-buang waktu dengan pacaran, untuk shalat tepat waktu dan berjamaah, untuk bertutur kata baik, untuk selalu percaya diri, untuk menghargai sejarah, untuk tidak membuang sampah sembarangan, untuk melatih keahlian paskibra.. Saat SMA saya masuk ke SMA negeri dan mengikuti organisasi rohis. Ternyata saya baru tahu rohis SMA saya terkenal rohis yang kuat di kota Bandung sampai-sampai rohis SMA saya dijuluki pesantren dalam sekolah negeri. Setelah cukup lama berada di dalamnya saya menyadari kekuatan ukhuwah yang bisa membuat rohis ini tetap berjalan dengan baik. Alumni-alumni yang tidak meninggalkan adik-adiknya walaupun sudah kuliah atau menikah.. Saat kuliah di universitas negeri saya juga mengikuti kegiatan rohis di kampus. Walaupun saya tidak masuk pesantren saya bersyukur bisa bertemu dengan murabbi dan murabbiyah hebat serta teman-teman yang selalu memberikan semangat untuk terus beribadah dan berjuang di jalan Allah. Dan yang paling saya syukuri saya punya kesempatan untuk bertemu orang tua dan keluarga saya setiap hari di rumah. Walaupun kegiatan saya di luar sangat banyak, tapi saya bisa pulang dan melihat wajah ibu, ayah, dan adik yang saya cintai, setiap hari.. Adanya kebersamaan setiap hari dengan orang-orang yang saya cintai merupakan hal yang berharga bagi saya. Saya ingat selalu mengapa ibu tidak mengizinkan saya masuk pesantren..
"Ibu sanggup keneh ngurus sareng ngadidik sinta. Ibu palay papendak sareng sinta unggal dinten.."
Itu yang membuat saya tidak pernah melewatkan do'a untuknya selesai shalat.. Saya menyayanginya, orang yang selalu sabar terhadap saya, orang yang tidak ingin saya jauh darinya, orang yang selalu mengkhawatirkan kondisi saya, tapi orang yang harus rela melepaskan saya setelah saya menikah. Saya makin paham dan mengerti pikiran dan perasaannya setelah saya dikaruniai anak perempuan. Makin banyaknya pesantren yang bisa memfasilitasi anak untuk mendapat didikan dan lingkungan yang baik adalah sebuah pilihan. Tapi mendidik dan membersamai anak perempuannya setiap hari sampai dia ditakdirkan pergi bersama suaminya juga adalah pilihan.. Karena waktu tidak bisa kembali.. Karena kebersamaan yang penuh ketulusan tidak bisa dibeli oleh apapun.. Presence can never be replace by present. Saya ingin terus menggali tentang homeschooling..
Wednesday, July 6, 2016
Ied
Setelah 2 tahun kemarin , akhirnya tahun ini bisa kumpul bersama keluarga besar di Sumedang saat hari pertama Idul Fitri. Kalau hari pertama tuh hampir semuanya lengkap. Walau ada yang ga nginep. Makanan ibu juga masih kebagian, ketupat, sayur kari, beefsteak.. Kalau hari kedua udah pada sepi, tinggal nyisa makanan nenek. Alhamdulillah sekarang bisa mengalami lagi. Seneng banget, banget, banget.. :)
Friday, July 1, 2016
Meet up Blah Bloh Family
Kemarin acara bukber keluarga tapi jadi bukber sama temen kampus juga. Ketemu di ampera sama temen-temen yang dulu akrab di kampus. Alhamdulillah jadi bisa silaturahim sama mereka. Dulu sebelum nikah selalu bisa menyempatkan buat bukber dengan teman-teman kampus dan SMA. Setelah nikah rada susah untuk bertemu mereka. Bukan berniat untuk memutus tali silaturahim, tapi sadar diri juga status saya sudah bukan single lagi, tidak bisa seenaknya kesana kemari tanpa suami. Ditambah keberadaan Hawnan yang rawan untuk dibawa malam-malam ke luar khawatir keanginan. Tapi sekarang Hawnan udah boleh dibawa keluar malam. Niatnya bukber bareng mereka sehari sebelumnya, tapi tidak jadi karena cuaca hujan. Besoknya saya tidak bisa ikut karena bukber di luar dengan keluarga. Tapi kami bertemu di tempat yang sama. Akhirnya sekali merengkuh dayung dua pulau terlampaui. Bukber keluarga ditambah bukber dengan teman-teman kampus. Kami dulu di kampus kemana-mana bertujuh. Tapi dua orang tidak hadir, tik2 masih di Jasinga lagi hamil belum mudik-mudik, ein kejauhan di Bungbulang. Jadi cuman berlima yang bisa hadir. Saya kaget juga saat ada satu sahabat lama tiba-tiba muncul. Dia ikhwan tapi tumben berani ngumpul bareng kami, biasanya dulu dia berani kumpul dengan kami kalau ada satu teman yang segendernya ikut juga. Saya dari dulu juga sudah menganggapnya sebagai saudara kandung sendiri. Dulu bisa menceritakan hal apapun kepadanya dan dia selalu sabar menjadi pendengar cerita-cerita saya yang mungkin baginya tidak penting. Tapi kemarin terasa kikuk juga. Setelah menikah jadi lebih memahami bagaimana seharusnya berinteraksi dengan lawan jenis. Jadi lebih memahami bagaimana kondisi pikiran dan hati lawan jenis. Jadi lebih memahami psikologi sosialisasi dengan lawan jenis. Walaupun saya sudah menganggapnya saudara kandung saya sendiri, sekarang saya lebih memikirkan fakta konkrit bahwa dia seorang ikhwan dan saya harus memposisikannya seperti itu. Bicara seperlunya saja. Saya tidak bisa lagi berinteraksi seperti dulu kepada sahabat yang berbeda gender dengan saya. Walaupun tidak ada perasaan yang khusus, tetap saja gendernya berbeda dengan saya dan saya mau tidak mau harus membatasi interaksi dengannya. Bagaimanapun juga saya harus ingat bahwa dia bukanlah mahram saya. Dan saya juga harus ingat sekarang saya punya hati yang harus dijaga, semoga Allah tetap menetapkan hati saya karena saya tidak bisa menjamin hati manusia yang cenderung terbolak balik. Saya juga harus menjaga hati suami saya agar hatinya tetap tentram dan tidak ada kekhawatiran terhadap hati dan perasaan saya. Sekarang saya lebih memahami bahwa menundukan pandangan bukan hanya tugas muslim saja, muslimah juga perlu. Tapi saya akan tetap mendo'akan kebaikan untuknya, karena dia tetap saudara seiman seislam saya. Saya berhutang banyak kebaikan padanya. Semoga Allah memberkahinya.
Subscribe to:
Posts (Atom)
