Sedang memikirkan pendidikan untuk anak saya kelak. Lagi banyak yang mempengaruhi baik langsung atau tidak langsung untuk memasukkan anak ke ponpes. Tapi..
Dulu saat menjelang SMP, teman2 SD saya mengajak untuk masuk pesantren. Katanya seru bisa mondok di pesantren. Saat saya menyampaikan ide tersebut pada ibu, beliau tidak mengizinkan..
"Ibu sanggup keneh ngurus sareng ngadidik sinta." Begitu beliau berucap.
Saya sempat kecewa karena tidak bisa bersama teman2 lagi. Tapi sekarang saya mulai paham dan mensyukurinya. Saya masuk SMP negeri dan mengikuti organisasi yang menempa saya. Ada asramanya juga walaupun hanya beberapa hari. Organisasi yang mendidik saya untuk tidak makan dan minum sambil berdiri, untuk tidak membuang-buang waktu dengan pacaran, untuk shalat tepat waktu dan berjamaah, untuk bertutur kata baik, untuk selalu percaya diri, untuk menghargai sejarah, untuk tidak membuang sampah sembarangan, untuk melatih keahlian paskibra.. Saat SMA saya masuk ke SMA negeri dan mengikuti organisasi rohis. Ternyata saya baru tahu rohis SMA saya terkenal rohis yang kuat di kota Bandung sampai-sampai rohis SMA saya dijuluki pesantren dalam sekolah negeri. Setelah cukup lama berada di dalamnya saya menyadari kekuatan ukhuwah yang bisa membuat rohis ini tetap berjalan dengan baik. Alumni-alumni yang tidak meninggalkan adik-adiknya walaupun sudah kuliah atau menikah.. Saat kuliah di universitas negeri saya juga mengikuti kegiatan rohis di kampus. Walaupun saya tidak masuk pesantren saya bersyukur bisa bertemu dengan murabbi dan murabbiyah hebat serta teman-teman yang selalu memberikan semangat untuk terus beribadah dan berjuang di jalan Allah. Dan yang paling saya syukuri saya punya kesempatan untuk bertemu orang tua dan keluarga saya setiap hari di rumah. Walaupun kegiatan saya di luar sangat banyak, tapi saya bisa pulang dan melihat wajah ibu, ayah, dan adik yang saya cintai, setiap hari.. Adanya kebersamaan setiap hari dengan orang-orang yang saya cintai merupakan hal yang berharga bagi saya. Saya ingat selalu mengapa ibu tidak mengizinkan saya masuk pesantren..
"Ibu sanggup keneh ngurus sareng ngadidik sinta. Ibu palay papendak sareng sinta unggal dinten.."
Itu yang membuat saya tidak pernah melewatkan do'a untuknya selesai shalat.. Saya menyayanginya, orang yang selalu sabar terhadap saya, orang yang tidak ingin saya jauh darinya, orang yang selalu mengkhawatirkan kondisi saya, tapi orang yang harus rela melepaskan saya setelah saya menikah. Saya makin paham dan mengerti pikiran dan perasaannya setelah saya dikaruniai anak perempuan. Makin banyaknya pesantren yang bisa memfasilitasi anak untuk mendapat didikan dan lingkungan yang baik adalah sebuah pilihan. Tapi mendidik dan membersamai anak perempuannya setiap hari sampai dia ditakdirkan pergi bersama suaminya juga adalah pilihan.. Karena waktu tidak bisa kembali.. Karena kebersamaan yang penuh ketulusan tidak bisa dibeli oleh apapun.. Presence can never be replace by present. Saya ingin terus menggali tentang homeschooling..
No comments:
Post a Comment