Blog ini akan lebih jarang lagi saya tulisi (udah jarang sekarang juga). Saya sudah mulai mendapatkan pencerahan buat niche dengan mengeliminasi passion saya. :D
Thursday, December 29, 2016
Pindah?
Blog ini akan lebih jarang lagi saya tulisi (udah jarang sekarang juga). Saya sudah mulai mendapatkan pencerahan buat niche dengan mengeliminasi passion saya. :D
Tuesday, December 27, 2016
Lalandian
Ada beberapa nama panggilan yang pernah saya sandang.
1. Swiquette. Swiket, swi, suiket. Ini ceritanya waktu SMA pas rihlah sama anak-anak IRMA ke Lembang kalau ga salah. Di dalem angkot yang dicarter kita pada nyanyi naik-naik ke puncak gunung, topi saya bundar, burung kakak tua, dll. Terus saya cerita tentang sponge bob square pants. Pas nyebut squidward, Teh Danger salah seorang kakak kelas saya tertawa. Dia mengira saya salah ucap jadi swiket. Sepertinya dia salah denger deh (saya ga mau disalahin, wkwkwk). Tapi teman-teman di dalam angkot berkonspirasi dengan Teh Danger. Sejak saat itu mereka sepakat memanggil saya Swiket. Saking konsistennya mereka, sampai adik kelas angkatan 2010 pun ikut-ikutan manggil saya Teh Swiket. Bahkan saat kuliah pun temen-temen BBF (Blah Bloh Family) manggil saya Swiket karena mereka membaca komen-komen temen SMA saya di akun FB. Hmm, kalau dipikir-pikir yang manggil saya Swiket adalah temen-temen akhwat/perempuan yang benar-benar mengenal kepribadian saya sesungguhnya. Maksudnya mereka lebih banyak mengenal kegilaan-kegilaan saya yang sesungguhnya dibanding teman-teman yang lain.
2. Sin~chan. Kependekan dari SINta~chan. Yang menggunakan panggilan ini adalah Fatiha dan Ta~chan. Mereka berdua adalah teman sekelas saya di jurusan bahasa saat SMA. Fatiha nasibnya sama seperti saya, bahkan lebih miris. Ditentang orang tua masuk jurusan bahasa. Kami waktu itu memiliki nilai yang memadai bahkan bisa dibilang tinggi untuk masuk jurusan IPA. Tapi kami ingin masuk jurusan bahasa. Di ruang BK saya tetap teguh pendirian memilih Bahasa saat guru BK dan ibu saya membujuk saya untuk masuk IPA. Akhirnya ibu saya mengizinkan juga. Setelah beberapa bulan berlalu, Fat masuk ke kelas Bahasa. Padahal dia sudah membeli buku-buku IPA yang tebal-tebal banget. Di situ pertama kalinya saya mengenal Fat dan tau ceritanya. Dia adalah orang yang tenang, kalem, dan pintar. Walaupun saya selalu dapat rangking 1 dan dia rangking 2, tapi dia berhasil dipilih untuk supiichi kontesuto, lomba pidato B. Jpg karena ketenangannya dalam berbicara. Saya terlalu nyeroscos dan nereleng, tidak ada titik dan koma saat tes pidato. Hihihi. Dari situ saya lebih mengontrol cara bicara saya. Dia selalu protes saat saya memanggilnya Fat. Padahal itu kan namanya, dan dia tidak gemuk, malah bisa dibilang langsing. Jadi aneh juga kalau dia protes, hihihi.
Ta~chan adalah teman sebangku saya saat di kelas XII. Dia seorang katolik, tapi pertemanan kami tidak ada masalah. Dia orang yang energic dan selalu terlihat sangat ceria. Tapi saat sedih terlihat sangat sedih. Yah biasa lah anak-anak bahasa yang suka manga atau anime pasti gitu. Saya juga gitu. Hahah. Namanya Tania, tapi dia ingin dipanggil Ta~chan.
3. Tata. Itu juga kependekan dari nama saya sinTA. Akhiran yang diulang. Yang manggil ini adalah kelompok kerja mata kuliah Kimia di kelas konsentrasi IPA saat kuliah.
4. Alien, kelinci, doyle. Yang manggil ini adalah Asyilah. Dia juga teman SMA di kelas Bahasa. Saya manggil dia Acil. Jadi kadang dia manggil saya alien (karena saya ingin ke Planet Mars), kadang dia manggil saya kelinci (karena saya suka minta wortel mentah pada ibu kantin yang sedang mencuci sayuran untuk dibuat Bala-Bala), kadang dia manggil saya Doyle (itu nama kaktus saya yang saya rawat di kelas). Pokoknya dia sering manggil saya dengan 3 nama itu.
5. Bola bekel. Itu panggilan dari kakak tingkat saya waktu kuliah, Teh Wilah. Dia sering tertawa kalau melihat saya. Dia bilang cara berjalan saya seperti bola bekel (bola beklen). Well, yeah banyak yang bilang cara jalan saya aneh. Katanya sih saya seperti melompat-lompat saat berjalan. Udah kebiasaan. Setelah nikah dan mengandung dan melahirkan, barulah cara jalan saya jadi normal. Saat awal nikah dan mengandung, mamah mertua sering protes tentang cara jalan saya. Katanya khawatir takut saya jatuh, bahaya juga buat bayi dalam kandungan. Tidak butuh waktu lama untuk mengubah cara jalan saya. Dengan sendirinya, makin lama perut saya makin berat, jalan saya makin lambat.
6. Ratu laba-laba. Ini panggilan dari temen SMA di kelas bahasa juga, Ardi. Ini karena saya suka laba-laba, terutama tarantula. Walaupun saat itu saya belum memelihara tarantula, tapi saya selalu perhatian pada tiap laba-laba yang saya temui. Saat beres-beres kelas pun saya tidak mengizinkan ada orang yang merusak jaring laba-laba di sudut-sudut ruangan. Saya memanggilnya Kamen (karena dia suka kamen rider) atau Kordi. (plesetan dari namanya). Dia suka duduk di bangku paling belakang dan tidur sampai mendengkur saat pelajaran sejarah berlangsung. Saat pembagian raport dia sering membully saya dengan bilang:
"Kenapa sih harus kamu yang dapet rangking 1?! Hah?! Kamu tidak pantas! Jawab!" Katanya sambil melotot dengan tangan terlipat. Teman-teman tertawa terbahak-bahak.
Saya menjawab dengan dingin, "Makanya otak tuh disimpen di sini (sambil nunjuk kepala), bukan di dengkul."
Krik krik krik.. Teman-teman yang lain diam, hening mendengar pernyataan saya.
"Saya kan cuma bercanda.. Saya kan ngutip kalimat yang sering diucapkan dia. " Kata saya sambil menunjuk Kordi.
"Kalau Si Ardi yang bilang emang jadi lucu, tapi kalau kamu yang bilang jadi terdengar kejam." Fat menimpali.
Well, Kordi memang orang yang paling humoris di kelas. Orang-orang sering tertawa mendengar lelucon-leluconnya. Dia punya karakter seperti Si Kabayan. Tapi meniru leluconnya ternyata bukan ide bagus, karena saya bukan orang yang humoris. Jadi di pembagian-pembagian raport selanjutnya, saat dia bertanya begitu lagi, saya hanya tersenyum kecut.
7. Non. Kependekan dari Nona. Yang manggil saya ini Obos. Dia temen sekelas waktu kuliah. Yang pertama kali manggil dia Obos bukan saya, tapi temen sekelompok waktu buat maket dan diorama pada mata kuliah seni rupa. Saya hanya ikut mempopulerkan panggilan itu. Kami memanggilnya Obos karena dia bossy. Sebenarnya dia tidak suka menyuruh-nyuruh atau memerintah anggotanya. Dia mengiyah-iyahkan pekerjaan kami tapi ujung-ujungnya dia merombak sendiri sesuai keinginannya. Hahah. Ya dia termasuk orang yang punya idealisme tinggi. Setelah mata kuliah seni rupa beres dia tetap dipanggil Obos, bahkan teman-teman di luar kelompok seni rupa kami pun ikut-ikutan memanggil begitu. Bagaimana pun juga dia adalah pendengar yang baik, yang bisa membuat orang-orang nyaman mengemukakan pendapat di hadapannya.
8. Baka~chan. Saya paling tidak suka dengan panggilan ini. Orang yang memanggil saya begini adalah Batta~kun. The Arch enemy, saikyou no teki. Musuh bebuyutan saya dari awal kami bertemu. Dia mengirim setiap sms dengan tanda seru sebagai ganti tanda titik. Ya, awalnya dia mengirim sms seperti itu untuk meminta saya bergabung di dakwah SMP. Dulu saya bingung, ini orang siapa sih ga sopan banget minta tolong ke saya lewat sms tapi kayak yang marah-marah, ketemu aja belum pernah. Ternyata emang kebiasaannya gitu. Dia dapat nomor saya dari temen alumni SMA saya. Lagi butuh alumni SMP 17. Dia bukan alumni SMP 17 juga bukan alumni SMA 10, tapi dia mengelola dakwah sekolah di Kota Bandung tingkat SMP dan SMA. Jadi dia masuk ke sekolah-sekolah yang rohisnya butuh fasilitas dakwah, yang paling umum masalahnya adalah kurang pementor. Bukannya saya tidak mau bantu dan masuk ke SMP almamater saya, tapi saya kesal dengan orang yang tidak bisa menjaga sopan-santunnya, dan saya tidak mau berurusan dengan orang menyebalkan seperti itu. Setelah beberapa bulan berlalu dan saya sudah lupa tentang SMP, murabbiyah saya meminta saya masuk ke 17. Saya tidak bisa menolak permintaan murabbiyah saya. Jadi mau tidak mau saya harus berurusan dengan orang itu. Saat saya memperkenalkan diri di rapat pertama, dia kaget. "Saya yang dulu ngesms. " katanya. Saya cuman menimpali dengan dingin, "Oh." Setelah itu dia mulai sering SMS dan menawarkan kamen rider. Saya awalnya tidak tertarik dengan tokusatsu dan lebih fokus pada manga dan anime. Tapi dia mulai mempengaruhi dengan menyangkut pautkannya pada kegemaran saya.
"Suka detektif kan! Kamen rider ada ada yang tentang detektif! Ada juga yang tentang alien! Kamu pasti suka!"
Saya heran dari mana dia tau informasi tentang saya. Ternyata teman SMA saya yang bilang. -_-"
Akhirnya saya terima juga tawaran kamen ridernya. Tapi dia ngasih heisei secara berurutan, jadi saya ga langsung dapat kamen rider double (W) dan kabuto. Saya harus nonton dari agito. -_-" Ya fine-fine aja sih sebenarnya, gratis ini. Tapi saat nonton ryuki dan ada episode monster laba-laba yang disiksa kamen rider saya langsung illfeel dan males buat ngelanjutin nonton. Pas dia tau, dia ga terima alasan saya ga mau nonton lagi hanya gara-gara monster laba-laba yang dibully. Sejak saat itu dia manggil saya Baka~chan. Setiap sms, telpon, atau ketemu pasti manggilnya gitu. Saya pernah meledak marah karena dia manggil Baka~chan berulang-ulang di depan anak-anak SMP. Walaupun mereka mungkin ga ngerti artinya, saya tetap mendidih. Dia kaget melihat reaksi saya di depan anak-anak, kemudian menyeringai puas karena telah berhasil mengganggu kestabilan emosi saya. Saya benar-benar tidak menyangka bisa hilang kontrol seperti itu. Sejak saat itu saya memanggilnya Batta~kun dan mendeklarasikan permusuhan kami. Belalang adalah musuh bebuyutan laba-laba. Saat mereka bertemu salah satu dari mereka akan mati. Saat kami bertemu pasti ada pertengkaran. Dia satu-satunya musuh di kehidupan saya sampai saat ini. Kami berjanji untuk saling bunuh jika waktunya tiba. Dia bersumpah akan membunuh saya beserta anak keturunan saya. Anehnya saya tidak merasa sakit hati. Saya merasa wajar saat dia mengkritik dengan kasar setiap hal yang saya pikirkan atau saya lakukan. Wajar karena dia adalah enemy. Seorang enemy memang harus begitu. Tapi tentu saja seorang musuh juga bisa memberikan banyak pelajaran berharga bagi saya. Saat musuh sering berbuat jahat, tapi kalau ada satu saja kebaikan yang dilakukannya untuk kita, maka kita akan mengingat satu kebaikannya itu dan melupakan kejahatannya. Tapi anehnya, saat keluarga, sahabat, atau teman yang sering berbuat baik pada kita, lalu suatu waktu dia menyakiti kita dengan satu keburukan maka kita akan mengingat keburukannya dan melupakan semua kebaikannya. Dan tentu saja pelajaran yang paling berharga darinya adalah: The saddest thing about betrayal is that it never comes from your enemies. Satu hal yang saya sadari, seorang musuh beda tipis dengan sahabat dekatmu.. Musuhmu akan tau seluk beluk tentang dirimu sekecil apapun, karena tugasnya adalah mencari kelemahan dan kekuranganmu.
9. Sei. Ini kependekan dari senSEI. Yang manggil ini adalah Om Zhuki Smile. Saya ga tau kenapa orang-orang memanggilnya begitu. Mungkin karena beliau dianggap pupuhu oleh para mahasiswa. Beliau adalah mahasiswa dual modes yang sangat aktif di kegiatan mahasiswa dan supel dengan tiap orang. Sepertinya mereka sering meminta nasehat pada beliau. Dan beliau termasuk salah satu yang ikut pembelajaran B. Jepang di kampus. Waktu itu temen-temen saya minta diajarin B. Jepang. Mereka adalah beberapa teman sekelas yang tau saya ngeprivat B. Jepang. Saya sebenarnya banyak jadwal kegiatan di luar. Tapi saya ga tega nolak mereka yang mempunyai kesungguhan belajar. Saya milih-milih juga soal siapa yang ingin saya ajari B. Jepang, dan saya tau mereka yang meminta ini adalah orang-orang yang sungguh-sungguh ingin belajar. Nah Om yang tau saya ngadain kelas B.Jepang di kampus minta ikut juga. Well yah cukup menyenangkan bisa menggunakan kalimat perintah kepada orang-orang yang bisa dibilang gegedug dari UKM. Geli-geli gimana gitu nyuruh para ketua UKM ngayun-ngayunin tangan buat nulis hiragana di udara atau nyuruh mereka gerak-gerak sesuai lagu bahasa jepang yang saya kasih sebagai bahan ajar. Wkwkwkw. Ya jadi Om konsisten manggil saya Sei sejak saat itu.
10. Sintrong. Ini panggilan dari ibu saya. Dari kecil kalau saya nakal ibu manggil saya dengan panggilan ini. Selain ibu ada satu lagi yang memanggil saya Sintrong, dia adalah adik ibu, paman saya. Saya memanggilnya Mang Budrong, harusnya Mang Budi.
11. Sherlock. Ini panggilan yang saya suka. Yang memanggil saya Sherlock adalah adik tingkat saya, Mby (Nama aslinya Febby). Kalau kami berpapasan dia menyapa saya dengan panggilan ini,
Mby: Hai Sherlock. .................
Saya: Hai Watson. .................
Dia termasuk orang yang supel. Mungkin banyak orang yang merasa tidak nyaman dengan kesupelannya yang terlalu supel, hahah. Tapi saya nyaman-nyaman aja dia menganggap kakak tingkat sebagai teman. Ya, walaupun dia adik tingkat, tapi dia kelahiran 90, jadi usianya lebih berumur daripada saya. Dia orang yang semangat, dan saya sering merasa tertular semangat darinya kalau kami ngobrol. Sangat optimis.
12. Anak aneh. Ini panggilan yang menyebalkan dari guru B.Inggris saya di SMA. Beliau sering menganggap saya aneh. Tapi saya belajar banyak dari beliau. Tentang musik, tentang teknik menggambar, tentang cara menyenangkan belajar bahasa.
Itu lalandian yang pernah tersemat pada saya. Bagaimanapun juga pada saat keadaan formal seperti saat diskusi pembelajaran atau perkuliahan di kelas atau saat rapat mereka tetap memanggil saya Sinta. Di luar kondisi formal itulah mereka konsisten memanggil dengan lalandian itu. Walaupun seringkali kesal dengan panggilan-panggilan itu, saya menyadari kalau mereka yang menyematkan nama-nama itu adalah mereka yang merasa sudah dekat dengan saya. Oh, ada satu orang lagi yang memanggil saya dengan panggilan berbeda dari yang lainnya. Beliau adalah dosen IPA saya di kampus. Beliau selalu memanggil saya dengan nama lengkap. Sinta Legian Wulandari. Kadang saya heran, apa ga ribet gituh manggil dengan nama lengkap.. Tapi saya suka. Karena saya yakin sampai saat ini hanya ada satu orang yang bernama Sinta Legian Wulandari di planet ini yaitu saya. Saya satu-satunya manusia yang bernama Sinta Legian Wulandari (sampai saat ini). Beliau terbiasa mengabsen nama lengkap tiap mahasiswa di kelas sebelum perkuliahan dimulai. Dan beliau bisa mengingat nama lengkap setiap mahasiswa dari angkatan terdahulu. How amazing his brain! Setiap berpapasan atau ngobrol dengan beliau, saya selalu kagum dengan ingatan fotografisnya.
Thursday, December 15, 2016
Translation
Nemu postingan temen yang ada kanjinya. Ternyata di fb ada translation buat tulisan b.jepang. Pas saya klik, ko artinya terasa sangat tidak sesuai. Jadi penasaran postingan-postingan saya di fb yang pakai hiragana, katakana, kanji, kalau di klik translatenya bener ga ya. Untuk yang paham bahasa dan tulisan jepang sih kayaknya no problem, mereka akan ngerti tanpa harus ngeklik translate. Tapi buat yang ga ngerti terus ngeklik translate bisa jadi ga sesuai dengan arti sebenarnya. Tapi paduli ah. Kalau salah translate itu kan salah fb, kalau ada yang salah paham dengan translate dari fb, ya itu konsekuensi mereka, bongan saha ga ngerti dan bongan saha langsung percaya translate dari fb. Hihihihi..
Monday, December 12, 2016
Scary story
Kemarin denger cerita temen tentang pengalamannya harus ruqyah gara-gara jin gangguin dia dan keluarganya. Saya jadi inget pengalaman saya yang tidak akan terlupakan waktu jaman kuliah..
Waktu itu hari Minggu. Saya pergi ke kampus untuk mengerjakan proyek seni rupa, membuat maket dan diorama. Saat itu saya masih tingkat 1, semester 2 kalau tidak salah.. Itu tugas kelompok. Saat masuk gerbang, Kampus Cibiru sangat sepi. Ya itu kan hari Minggu. Siang itu matahari tertutup awan diiringi rintikan gerimis turun membuat udara di sekitar saya terasa sejuk dan lembab. Saya berjalan menuju ruang seni rupa yang ternyata masih terkunci. "Sudah kuduga, mereka belum datang." Gumamku dalam hati. Saya menyusuri lorong kampus yang lebih mirip lorong rumah sakit. Menemukan para caraka kampus yang sedang mengecat pagar PAUD.
"Pak, nambut konci ruang seni rupa.." Saya nyengir merasa bersalah telah mengganggu pekerjaan mereka.
Mereka saling pandang heran karena hari Minggu ada yang butuh ruangan itu.
"Mau ngerjain tugas kelompok seni rupa." Saya lanjut menjelaskan.
"Nu sanesna kamarana neng?" Tanya salah seorang dari mereka.
"Teu acan dugi panginten pak." Jawab saya singkat.
Salah seorang dari mereka mengantarkan saya ke ruang penyimpanan kunci. Saya sudah sering menggunakan ruang seni rupa. Saya suka berdiam diri di sana, sendirian, mencorat-coret kertas A3 dengan berbagai isi kepala saya. Saya sudah izin pada dosen seni rupa, dan beliau mengizinkan saya menggunakan fasilitas didalamnya. Kertas, crayon, pensil warna, acrylic, dan semua hal di sana secara gratis. Jarang ada mahasiswa yang memanfaatkannya. Beliau bilang fasilitas itu berasal dari uang mahasiswa, jadi kalau ada mahasiswa yang perlu, sangat dipersilahkan. Ruang seni rupa bagaikan surga bagi saya yang suka ketenangan. Biasanya saya mengambil sendiri kuncinya, para caraka sudah mengenal saya. Tapi karena itu hari Minggu jadi mungkin agak beda. Hari itu caraka membukakan kunci ruang seni rupa untuk saya sambil mengucapkan kalimat yang ganjil.
"Temen-temennya belum pada dateng kan? Tenang aja, nanti di dalem juga ada ada yang nemenin. " Dia tersenyum simpul dan berbalik menuju PAUD untuk mengecat pagar kembali.
Saya mengangkat alis dan berteriak padanya,
"Nuhun Pak."
Saya masuk ke dalam ruangan itu meraih tombol saklar, lampu-lampu menyala, menunjukan ruangan seni rupa yang seperti kapal pecah.
"Ini pasti ulah kelas B. Mahasiswa-mahasiswa yang sangat tidak bertanggung jawab." Gumam saya terganggu dengan pemandangan ruang seni rupa yang biasanya rapi tapi hari itu sangat berantakan. Saya mengingat jadwal pemakaian ruangan seni rupa kemarin. Yang terakhir menggunakannya adalah kelas B. Tapi saya malas harus membereskan ulah kelas lain, jadi saya langsung menuju maket kelompok saya dan mulai menggoreskan kuas untuk memberikan warna hitam pada miniatur gedung sate yang jadi tema proyek kami. Saya lupa tidak membawa earphone yang biasanya saya gunakan untuk mendengarkan lagu di mp3 sambil bekerja. Jadi saat itu saya benar-benar bekerja dalam keheningan. Hanya suara rintik hujan di atap yang menemani keasyikan saya menggarap maket. Saat tenggelam dalam keasyikan saya yang sunyi, tiba-tiba lampu di ruangan itu padam.
"Yaaaa, mati lampu.. " Saya bergumam sendiri sambil menghentikan kuas terayun dalam tinta. Tapi saya masih bisa bekerja dalam keremangan ruangan yang terisi sedikit cahaya dari pintu. Saya kembali bekerja. Tidak lama kemudian lampu kembali menyala.
"Alhamdulillah.. " saya tersenyum lebar karena senang dengan cahaya terang yang membantu saya fokus pada detail pekerjaan saya.
Beberapa saat kemudian lampu padam lagi..
"Yaaaa, gimana sih PLN.. " -_-"
Lalu menyala lagi...
Lalu mati lagi..
Nyala, mati, nyala, mati, nyala, mati..
"Lho kok?"
Lampu-lampu di ruangan itu mati dan menyala secara tidak pararel.
Saya beranjak dari kursi, mematikan saklar, dan menuju para caraka yang masih mengecat pagar PAUD. Jaraknya sekitar 30 meter dari ruang seni rupa. Tapi terasa lama sekali sampainya. Tiba-tiba teringat kata-kata caraka yang mengantar saya tadi, saya segera mengenyahkan pikiran-pikiran yang tidak sesuai logika. Berbelok ke kanan akhirnya saya menemukan mereka.
"Pak, listrikna error? Bisi ada yang konslet. Tolong dicek sebentar.."
Mereka terlihat agak kesal karena pekerjaan mereka terganggu.
"Emang kunaon neng?" Tanya salah seorang dari mereka.
"Listriknya mati nyala mati nyala terus." Jawab saya singkat.
Mereka saling berpandangan terlihat tidak nyaman. Lalu salah seorang menemani saya, dia adalah koordinator para caraka.
Di lorong dia bertanya, "Temen-temennya belum pada dateng? "
"Belum." Jawab saya.
"Dimarana keneh?"
"Duka."
"Disms atau ditelpon atuh."
Saat sampai di ruangan seni rupa, lampu sudah dalam keadaan menyala normal.
" Eh tos hurung deui gening pak." Kata saya heran.
Beliau mematikan saklar, lalu menyalakannya lagi, normal..
"Atos hurung deui pak, punten ngarepotkeun, nuhun." Kata saya.
" Bade ngerjakeun deui?" Tanyanya.
"Muhun."
"Diantosan tong?"
"Teu kedah." Jawab saya yang kemudian akan saya sesali.
"Teu nanaon neng?"
"Teu nanaon pak. "
Dan beliau pun pergi. Meninggalkan saya sendiri di ruangan itu lagi.. Saya masih heran dengan saklar lampu yang sudah saya matikan sebelum ke luar ruangan jadi menyala saat kembali. Saya meraih mobile phone saya dan mengirim sms kepada teman-teman kelompok kerja saya.
Not sent. Not sent. Not sent.
Saya coba telpon mereka satu persatu.
Your destination number is not active or in out of area. Please try again later..
Semuanya seperti itu..
WHAT THE HEEEEEEY WITH THEM??!!!
Ah sudahlah, saya kembali meraih kuas dan tinta. Mengerjakan lagi maket yang masih belum selesai. Saat saya kembali asyik dengan gedung sate tiba-tiba terdengar suara langkah kaki di lorong.
Tok tok tok tok
Langkah kaki seperti langkah orang yang memakai sepatu hak tinggi.
"Shelly?!" Teriak saya kegirangan. Saya bergegas keluar pintu untuk menyambutnya dan mengomelinya. Tapi.. Tidak ada siapa-siapa di sana.. Mungkin itu hanya suara air yang jatuh.. Saya kesal dan kembali masuk ke ruangan. Duduk dan kembali bekerja. Lalu terdengar suara benda yang jatuh. Suara benda yang terbuat dari besi.
Klontang
Saya menengok dan melihat penggaris besi yang jatuh dari gantungannya. Saya berdiri menuju penggaris itu, memungutnya dan menggantungkannya kembali di tempatnya. Bersama dengan benda-benda lainnya yang digantungkan seperti pajangan. Ada obeng, acrylic, dan benda-benda lainnya untuk memahat dan mengolah tanah liat yang saya lupa lagi namanya apa. Saya kembali duduk dan sibuk lagi dengan kuas dan cat. Tiba-tiba saya tersentak karena benda-benda yang digantung itu jatuh satu persatu di depan mata saya. Klontang. Klontang. Klontang. Klontang. Apa anginnya kencang? Ah tidak.. Saya tidak merasakan angin yang kencang. Kenapa benda-benda itu jatuh semua? Merepotkan. Saya memunguti dan menggantungkan kembali benda-benda itu. Lalu dimulai lagi lampunya.. Mati, nyala, mati, nyala, mati, nyala, makin lama makin cepat, makin tidak beraturan. Saya mulai merasa bulu kuduk saya merinding. Saya tidak percaya hantu. Saya rasional. Ada yang menjahili saya? Ketakutan saya tertutup oleh rasa marah karena merasa dipermainkan, saya menggebrak meja dengan gusar dan berteriak lantang.
Seketika lampu berhenti berkedap kedip dan mati. Suara gerimis siang masih terdengar di telinga saya. Saya berlari menuju para caraka. Mencoba tetap terlihat tenang saya berkata,
"Pak, lampunya gitu lagi."
Mereka terlihat heran dengan saya. Ada salah seorang yang terkikik,
"Nya ceuk saya oge, ada yang nemenin eneng di dalem kan? "
Saya cemberut. Sama sekali tidak lucu. Koordinator caraka terlihat sangat khawatir dan menemani saya kembali ke sana.
"Ari eneng atuh tong nyalira! Naha teu acan daratang keneh temen-temennya?!" Dia marah-marah di lorong menuju ruang seni rupa. Kenapa dia jadi marah-marah?
"Teu acan pak. "
"Naha? Tos ditelepon?! "
"Tos, teu araktif hpna."
"Tos ayeuna mah ngalih tong di ruangan eta!"
Saya mengambil proyek saya beserta kuas dan tinta. Saya pindah ke ruangan sebelahnya, ruang TU. Di sana ada dua unit komputer, sofa, dan ada kamar mandi di dalamnya. Cahayanya lebih terang karena kaca jendelanya tidak tertutup. Saya mengerjakan gedung sate saya di sofa.
"Direncangan tong?" Tanyanya.
"Teu kedah." Jawab saya.
Dia menghela napas..
"Sok we lah direncangan ku bapa."
Dia duduk di depan komputer, menyalakannya, dan bermain game komputer.
"Bilih ngarepotkeun, pan bapa nuju ngecet PAUD." Kata saya.
"Wios weh. Da eneng mah atuh bet di ruang seni rupa. Puguh banyak kajadian di dinya teh." Katanya sambil asyik memainkan game komputer.
"Hah?"
"Komo perempuan mah, sok di gangguin. Sering ada suara nangis dari dalem lemarinya.." Lanjutnya dengan mata yang tidak beralih dari layar komputer.
"Hehe. Maenya pak." Saya mulai terganggu dengan cerita tak masuk akal yang bisa menghambat kreativitas saya di ruang seni rupa. Lagian nyebelin banget kalau yang digangguin cuman perempuan aja, benar-benar tidak menghormati hak persamaan gender dalam penggunaan ruang seni rupa. -_-"
"Ih, si eneng mah teu percayaan. Bapa tos lami di kampus ieu. Ruangan eta teh ruangan nu paling sering aya kajadian."
"Hehe. Atos pak tong nyaritakeun nu kitu." Protes saya.
Beliau terkekeh, dan tidak melanjutkan ceritanya. Sepertinya beliau mengerti saya tidak mau mendengar cerita seperti itu lagi.
"Lami keneh teu neng?" Tanyanya mengalihkan sejenak pandangannya dari layar komputer.
"Sakedap deui." Sebenarnya masih lama, tapi saya ga enak kalau beliau harus menunggui saya padahal dia juga masih ada pekerjaan. Saya ke kamar mandi mencuci kuas dan palet bekas tinta.
"Saya harus ke ruang seni rupa lagi pak, tas saya masih di sana."
"Eh, si eneng mah sanes dicandak tadi sakalian."
"Hilap pak, hehe."
"Dianteur tong?"
"Teu kedah pak, sakedap da nyandak kantong hungkul, teras bade uih."
"Teu nanaon?"
"Teu nanaon pak."
Beliau tersenyum dan mengangguk. Mematikan komputernya dan kembali ke PAUD untuk mengecat.
Saya masuk kembali ke ruang seni rupa. Menyalakan saklar. Dan melihat kembali pemandangan yang mengganggu. Kekacauan akibat kelas B. Lalu saya merenung. Mungkin mereka juga terganggu dengan pemandangan yang berantakan ini sama seperti saya. Saya menyimpan kembali maket di meja kelompok kami. Memandang tas hijau saya. Sepertinya nanti saja pulangnya. Saya menghela napas panjang. Dan membereskan kekacauan di ruang seni rupa. Menyusun karton-karton dan scotlight yang berserakan, membersihkan meja yang penuh sampah, membereskan segala sesuatunya, sampai menyapu dan membuang sampah ke tempat sampah. Lumayan juga, membersihkan ruang seni rupa ternyata lumayan melelahkan. Tapi saya lebih nyaman dengan kekacauan yang hilang digantikan oleh pemandangan yang rapi.
"Saya baik kan? Saya mahasiswa yang bertanggung jawab." Teriak saya sambil tersenyum dan berputar-putar senang. Saya tidak tahu kepada siapa saya bicara. Tapi saya benar-benar puas dengan yang telah saya lakukan hari itu. Saya melirik lemari tempat kertas-kertas A3, pensil-pensil, crayon-crayon, pensil warna, dll. Masih belum berani membuka lemari itu karena membayangkan cerita caraka. Membayangkan saat membuka lemari itu ada wanita yang sedang menangis berjongkok dan mendongakkan kepalanya ke atas dengan menakutkan. Padahal sebelumnya saya biasa-biasa saja membuka pintu lemari itu. -_-"
Saya meraih tas saya, mengunci ruangan, mengembalikan kunci kepada para caraka yang masih bekerja, dan pulang. Beberapa caraka menggoda saya dengan bertanya,
"Aya nu ngaheureuyan nya neng? "
"Aya nu ngarencangan nya neng?"
Saya hanya tersenyum dan mengucapkan terima kasih dengan sopan.
"Punten non, saya ketiduran." Jawabnya dengan watados. Saya marah-marah dan menceritakan kejadian kemarin. Dia seperti tidak percaya.
"Wah? Maenya?" Cuman gitu doang jawabannya.
Dia menceritakannya pada teman-teman yang lain. Mereka mengerubuni saya yang lagi pundung.
"Beneran gitu sin? " Tanya Jejen.
"Aku lagi mudik ke Sumedang. Emang ada kerja kelompok ya kemarin?" Kata Iki.
"Maaf aku lupa ga ngasih tau yang lain, aku juga lupa. Ketiduran." Kata Shelly.
Jadi informasi kerja kelompoknya ga dijarkomin??!!!
"Tapi kenapa saya telpon kalian susah banget??!!"
Mereka juga heran karena hp mereka katanya pada aktif..
Cerita itu sampai juga di telinga dosen seni rupa. Beliau sering bilang saya salah masuk jurusan, harusnya saya masuk ke jurusan seni rupa bukan PGSD katanya. Beliau bertanya pada saya tentang cerita itu,
"Temen-temen kamu cerita kejadian di ruang ini. Beneran itu Sin? "
"Iya Pak, bener." Jawab saya datar.
"Mungkin pengen kenalan sama kamu Sin. Hahaha."
Sangat-sangat tidak lucu..
Well, setelah kejadian itu saya tidak kapok ke ruang seni rupa. Saya tetap suka ruangan itu. Hanya saja butuh waktu 2 hari sampai saya berani membuka kembali lemari dan mengambil fasilitas gratisan yang bisa saya gunakan untuk hobi saya. Saya ingat saat ragu-ragu membuka lemari itu dengan mata tertutup. Lalu membuka mata sambil berteriak dan loncat-loncat senang.
"Tidak ada apa-apa kan??!!"
Kayak orang gila aja. Untung ga ada manusia yang ngeliat saya pas kayak gitu.
Waktu saya garap skripsi (yang telat) ruang seni rupa sudah berubah jadi ruang audio visual semacam lab bahasa. Padahal setelah mata kuliah seni rupa berakhir saya tetep sering ke sana buat fasilitas seni rupa gratis. Rada kecewa juga sih diubah jadi ruang audio visual.
Intinya saya ga percaya hantu. Tapi saya percaya adanya jin. Jin kan makhluk gaib. Saya kan orang beriman ya harus percaya kalau jin itu ada. Tapi saya tidak harus takut sama jin, karena yang ditunjuk sebagai khalifah di muka bumi ini adalah manusia bukan jin. Dan saya adalah manusia. Saya juga tidak perlu mengurusi urusan jin. Urusan sama manusia aja udah ribet, ngapain urusan sama jin. Nyiar-nyiar pikamusyrikkeun wae kalau ada manusia yang mau punya urusan sama jin.