Hari ini ada hal lucu yang dilakukan salah seorang anak di kelas. Setelah pulang sekolah sambil menunggu umminya menjemput, kami mengobrol sejenak. Dia melakukan monolog lengkap dengan efek-efek suara yang bikin saya ngakak. Kayaknya bisa dikembangkan jadi "beatbox" keren tuh. Imajinasinya luar biasa. Kemudian dia berkata, "Aduh, saya haus, tenggorokan saya kering." Dia membawa satu botol air mineral (tumben, biasanya dia bawa tempat air yang bisa diisi ulang). Di kemasannya ada gambar botol remuk dengan daun di dalamnya. Dia bilang dia ingin membuat yang seperti itu. Kemudian dia langsung menghabiskan isi airnya dan meremukkan botol plastik itu. Dia segera berlari ke luar untuk mencari daun. Di sekolah kami memang banyak pohon bambu, jadi saya sudah menduga dia akan membawa daun bambu. Dia memasukkannya ke dalam botol plastik remuk itu dan memberikannya pada saya. "Tidak dibawa pulang?" Tanya saya. "Kan itu buat ibu." Ujarnya sambil tersenyum dan berlari ke luar kelas. Saya hanya bisa tertawa. Terkadang anak itu masih suka keceplosan menyebut saya dengan panggilan "ummi". Hari ini pun dia beberapa kali salah menyebut saya dengan panggilan "ummi". Akhirnya jadi ada vas di atas meja guru. Dia tau saya suka warna hijau. Anak-anak di kelas sudah mengetahuinya. Saat mereka bilang, "Ibu suka warna hijau ya?". Saya balik bertanya "Kenapa tau?". Mereka tertawa dan mengungkapkan deduksi yang sangat rasional: "Ibu kan selalu pakai tas warna hijau". "Ibu juga suka pakai jaket hijau" ujar anak yang lain. "Tali sepatu ibu juga hijau" yang lainnya ikut menimpali. "Itu kucingnya juga warna hijau", kata anak yang lainnya lagi. Saya benar-benar tidak tahan untuk tertawa mendengar ujaran-ujaran mereka. Waktu membuat display origami kucing, saya memberi mereka semua kertas lipat warna hijau. Salah satu anak minta warna biru, mau bagaimana lagi, saya kasih dia warna biru. Tapi kemudian saya memberinya satu buah kertas lipat lagi, warna hijau tentu saja. Kucing-kucing yang ditempel semuanya warna hijau. Kayaknya saya agak maksa ya. Hehe. :P
Tadi saya mengurungkan niat untuk ke bapusipda, semoga besok bisa ke sana. Benar-benar butuh buku yang ada di sana sebelum saya bimbingan lagi. Kemarin sudah konsultasi instrumen kepada expert judgement. Menunggu beliau ngajar di kelas jadi tidak terasa karena ngobrol dengan kakak tingkat dan dosen-dosen seni yang menyenangkan. Dosen seni musik memberikan nasehat kepada saya untuk tidak terlalu terlena dengan proses. Beliau mengatakan hasil itu menikmati proses, berhasil itu menikmati hasil. Beliau bercerita mengenai proses skripsi dan tesisnya yang dikerjakan selama dua minggu. Saya harus lebih fokus mengerjakan tanpa mengabaikan amanah-amanah lainnya.. Dosen seni rupa menekankan pentingnya display kelas. Saya juga bertemu dengan salah seorang penjaga sekolah di kampus dan beliau berujar, "Jarang keliatan sekarang mah, ngelanjutin S2?" Saya cuman bisa meringis dan menjawab, "Ini saya masih bimbingan di sini, hehe." Beliau dulu sering direpotkan oleh saya, saya suka pinjam kunci ruang seni rupa dan menyendiri di sana sambil menghabiskan kertas, crayon, acrylic, dan bahan-bahan lainnya yang ada di ruangan itu dengan gratis. Saya harus bisa menyelesaikan tugas akhir saya. Saya menyadari bahwa s.....i bukanlah kepentingan pribadi. Banyak yang menderita karena saya belum menyelesaikannya. Denger cerita dari adik kelas, katanya ada temen seangkatan saya yang udah beres tapi gak bisa sidang gara-gara harus nunggu tiga orang lagi, untuk sidang itu minimal ada lima orang. Keluarga saya juga jadi was-was sehingga mereka sangat rajin menanyakan tiap pagi dan petang kapan saya akan bimbingan lagi. Teman-teman saya juga jadi canggung meminta bantuan karena khawatir akan mengganggu fokus pengerjaan s.....i saya, tapi mereka rajin sekali mengingatkan dan memberi tausiyah semangat untuk segera menyelesaikannya. Banyak hal yang saya dapatkan dari perjalanan ke kampus kemarin. Begitupun perjalanan saya ke sekolah hari ini. Semoga besok juga bermakna.

No comments:
Post a Comment