![]() |
| Every child is special |
UTSnya memang menyenangkan, apalagi saat mereka berperan sebagai arsitek. Merancang rumah dari potongan-potongan kertas lipat. Saya meninggalkan sekolah lebih cepat dari biasanya. Masih ada satu anak yang saya sayangi yang belum dijemput. Saya menitipkannya kepada guru-guru yang masih di sana. Dari informasi umminya, dia akan segera dijemput pamannya, jadi saya cukup tenang karena dia tidak perlu menunggu lama. Bagaimanapun juga saya harus bergegas pergi karena ada dua agenda lagi yang harus saya lakukan. Buku-buku yang sudah lebih dari dua minggu belum saya kembalikan karena selalu tidak sempat. Saya mengejar waktu sebelum perpustakaannya tutup. Di perjalanan umminya menanyakan apakah dia sudah dijemput atau belum. Saya segera menghubungi guru yang masih di sekolah, Alhamdulillaah sudah. Selama perjalanan, saya memikirkan mereka yang selalu membuat saya tersenyum kalau teringat mereka. Walaupun terkadang ada saja tingkah mereka yang menyebalkan, tapi saya tidak bisa benar-benar marah kepada mereka. Anak-anak itu selalu membuat saya menjadi hangat.
Saat tersadar, saya sudah jauh melewati tempat yang harusnya saya tuju. Wah, gawat. Lagi-lagi, saya tersesat. Walaupun sebenarnya tidak bisa dikatakan tersesat, karena saya masih berada di planet bumi. Ya, selama saya masih berada di planet ini, saya tidak tersesat, karena planet ini adalah rumah saya. Saya segera turun dan melihat waktu pada telepon seluler yang saya genggam. Sepertinya masih sempat. Saya memutuskan untuk kembali berbalik arah dan segera menyebrang. Mencoba fokus pada setiap tanda di jalanan agar tidak terlewati lagi. Kerongkongan saya terasa kering, setelah turun saya berlari-lari kecil di tengah terik matahari. Saya menyempatkan untuk membeli dulu air mineral dan kembali berjalan. Terasa cukup jauh untuk kali ini. Karena tidak boleh membawa makanan dan minuman ke dalam saya duduk di dekat pintu dan menegak air yang sangat segar. Seperti biasa, saat melewati pintu itu pasti terdengar bunyi alarm karena saya membawa telepon genggam, laptop, gunting, dan berbagai logam lain di tas saya. Penjaga menegur lalu meminta saya mengisi buku tamu elektronik dan memindai kartu saya. Saya bergegas ke ruang penyimpanan yang penuh dengan loker. Tapi kunci yang masih menggantung tinggal sedikit. "Wah, hari ini pengunjungnya cukup banyak ya," pikir saya. Saya memilih salah satu loker yang masih kosong, tapi ternyata pintunya macet, tidak bisa dikunci. Mencari lagi loker yang lain. Sangat terkejut saat membuka loker yang saya pikir kosong ternyata berisi sepasang sepatu penuh tanah merah dan berbagai benda-benda lain. Sejak kapan loker tas berubah fungsi jadi loker sepatu. -_-" Akhirnya saya menemukan juga loker yang benar-benar kosong dan berfungsi dengan baik. Setelah menyimpan tas dan mengeluarkan buku yang harus saya kembalikan saya menunggu pintu lift terbuka. Penjaga kembali menegur saya. Oh, ternyata saya lupa belum menyimpan jaket di loker karena terikat di leher saya. Saya kembali ke ruang penyimpanan, membuka loker, melempar jaket ke dalamnya, dan menguncinya kembali. Saya kembali menunggu pintu lift terbuka dan menekan angka 3. Ya, angka 3. Walaupun saya meminjam buku-buku itu di lantai 2 tapi saya menuju lantai 3. Tempat pengembalian buku-buku terlambat. Setelah mendapatkan kembali kartu saya, saya segera menuju ke lantai 2. Saya kembali ditegur petugas di ruangan itu karena belum mengisi buku tamu yang ditulis tangan. Di setiap ruangan terdapat buku tamu yang harus diisi. Saya nyengir dan minta maaf. Terburu-buru bisa menyebabkan saya melupakan banyak hal. Sebentar lagi tutup. Saya mencari buku itu. Santrock... Santrock... Di mana... Saya tidak dapat menemukannya. Seharusnya ada di rak bagian pendidikan. Buku yang sangat tebal, tapi sepertinya sedang dipinjam. Saya butuh buku itu untuk melengkapi revisian saya.. Saya tetap tidak menemukannya. Saya terduduk di lantai, lemas... Sebentar lagi tutup. Jadi saya mencari buku-buku lain yang menarik minat saya. Sampai sekarang saya heran untuk apa saya meminjam buku-buku yang menjauhkan saya dari penyelesaian s.....i. Tapi saya ingin meminjamnya. Shokyuu Nihongo Kanji O Manabu. Dan buku lainnya tentang B. Jepang. Dari dulu saya tidak pernah mendapatkan nilai sempurna untuk kanji. Dan entah kenapa saya masih penasaran dengan huruf itu. Saya ingin menguasai kanji. Dan itu tentu saja butuh latihan setiap hari. Saya tidak tahu apakah ini akan membantu saya nanti. Tapi kalau saya sudah tertarik, maka saya akan mempelajarinya. Saya ingin menggunakan fude lagi.. Merasakan setiap coretan tinta yang membentuk satu huruf yang penuh makna.. Sesaat setelah saya meminjam, terdengar pengumuman di speaker bahwa perpustakaan akan segera tutup. Saya merasa lega walaupun tidak mendapatkan buku yang saya cari.
Saya langsung melaju ke tempat selanjutnya. Oh, apakah saya akan terlambat... Saya tidak mau membuatnya menunggu lama. Setelah sampai di depan pintu gerbang rumahnya ternyata kunci gemboknya sudah terbuka. Syukurlah, saya selalu lupa kode angka di kunci gemboknya. Setelah menutup kembali gerbang, dari jendela terdengar pekikannya, "Teh Sinta!". Pintu depanpun segera terbuka dan terlihat senyuman itu, wajah ceria yang riang, memanggil namaku. Dia melompat-lompat dan mengajakku masuk. "Assalaamu'alaykum. Long time no see." Dia menjawab salamku. Suara kecilnya yang cempreng selalu membuatku ingin tertawa. Dari dalam Bunda juga menjawab dan kami berbincang sejenak. Sudah cukup lama saya tidak ke sana. Setiap disms, saya masih harus berada di tempat lain, selalu tidak sempat. Baru kali ini lagi saya bisa bertemu. Bunda menanyakan kabar saya. Beliau selalu ramah. Setelah berbincang, gadis cilik itu mengajakku ke kamarnya. "Waaaaah... What happen with ur room?!" Saya terkejut melihat perbedaan kamarnya. "We're going to move to our new home," jawabnya. Bunda segera menjelaskan bahwa keluarganya akan pindah rumah, mereka akan mengosongkan rumahnya yang sekarang dan berkunjung setiap akhir pekan saja. Saya tertegun, membayangkan mereka akan jauh dari sini. Ya, setidaknya masih di planet bumi... Akhirnya saya memutuskan untuk memulai dan melihat kisi-kisi untuk besok. Saya menyanyikan greeting song untuknya. Dia menjawabnya. Tiba-tiba dia menyanyikan do-re-mi song, that's my fav song. We're sing together.
Doe, a deer, a female deer
Ray, a drop of golden sun
Me, a name I call myself
Far, a long, long way to run
Sew, a needle pulling thread
La, a note to follow Sew
Tea, a drink with jam and bread
That will bring us back to Do
Ray, a drop of golden sun
Me, a name I call myself
Far, a long, long way to run
Sew, a needle pulling thread
La, a note to follow Sew
Tea, a drink with jam and bread
That will bring us back to Do
Beberapa kali kami menyanyikannya. Dia meraih boneka caterpillarnya dan seperti biasa saya memekik ketakutan. Saya membuka jaket dan menunjukkan spider yang menempel di kerudung saya. Gantian dia yang menjerit. Kemudian kami tertawa bersama. Kurang lebih sudah 5 tahun kami belajar bersama. Sebentar lagi dia lulus karena ikut kelas akselerasi, jadi dari kelas 5 langsung ke SMP. Tidak terasa bentar lagi dia jadi anak SMP. Saya merasa sayalah yang banyak belajar darinya. Selain perbedaan caterpillar dan spider, kami mempunyai banyak persamaan karakter dan hobby. Menggambar dan baca komik. Dia bahkan menggambar pesanan teman-teman di kelasnya dan gambarnya dijual. Dia tahu saya suka detective. Dia mengoleksi komik Detektif Conan. Saya suka membawa-bawa magnifying glass. Saat melihatnya memegang magnifying glass, saya merasa lucu. Saya waktu itu bertanya, "Lagi liat apa?" "Nyari stomata", jawabnya sambil ngeliatin daun di depan rumahnya. Saya tergelak mendengar jawabannya. Keingintahuannya memang sangat tinggi. Setelah lama tidak bertemu, conversationnya juga semakin bagus saja. Hampir seharian ini kami ngobrol pake english. Kalau sama dia waktu tidak terasa berlalu. Saya sampai ke rumah jam setengah sembilan malam. Saya berharap dia bisa tetap bahagia di manapun dia berada. Semoga Engkau selalu melindunginya.. Semoga Engkau juga melindungi keluarganya..

No comments:
Post a Comment