Wednesday, March 23, 2016

Niqab oh niqab

Di awal tahun ini Akang membelikan saya satu set gamis, khimar, plus niqab. Dari tahun kemarin dia udah bujuk-bujuk saya buat mau pakai. Saya sih bilang kalau emang Akang pengen muka saya ditutup tinggal pake masker aja kali, saya punya masker hijau beludru yang ada muka kucingnya, lucu deh. Dulu kalau lagi flu saya suka pake masker itu biar pas ngajar ga nularin anak-anak. Tapi dia keukeuh pengennya saya pake niqab. Dia bilang ga rela kalau laki-laki lain ngeliat dan nikmatin wajah saya. Asa lebay banget deh. Tapi dia berterus terang kalau laki-laki normal ngeliat wajah perempuan yang cantik tuh pikirannya langsung ke hal-hal yang jorok. Hyaks. Tapi saya pikir ga semua gitu deh. Dia bilang emang ga semua, tapi cuman laki-laki yang "normal" aja. Haaaah, berarti Akang kalau ngeliat wajah perempuan di jalan juga gitu? Dengan tiisnya dia jawab, "Iya, kamu harus bersyukur punya suami yang termasuk laki-laki normal." Zzzzzzzzzzz... -_-"
Dan dia nambahin, "Saya mau ga mau nikmatin wajah perempuan-perempuan di luar sana da merekanya yang nunjukin sendiri. Kalau saya terus-terusan nunduk ke bawah bisi tidagor. Tapi kalau istri sendiri yang dinikmatin orang, saya mah ga rela." Speechless da, pikakeuheuleun pisan, tapi ya seneng juga dia berniat melindungi saya dari pandangan laki-laki normal lain. Ya udah saya mau dibeliin tapi yang warna ijo. Eeeeeh, dia keukeuh pengen yang item. Halah. Intinya dia pengen difoto sama saya pake niqab buat dijadiin pp. Mulai saat itu saya ga boleh pasang pp atau upload foto yang ngeliatin muka saya. Kalau ke luar rumah mah ga usah pake niqabnya juga gpp cnah. Haaaar. Ya mengingat masyarakat Indonesia yang masih "begini" bisi jadi malah membahayakan meureun. Bisi ditewak densus 88. Hahahah. Saya jadi tambah males buat ke luar rumah, tapi pake niqab juga masih risih dan ribet. Ya cuman keren-kerenan aja sih buat saya mah. Tapi sebenarnya meski ga pake niqab dan cuman pake gamis+kerudung itemnya, saya merasa orang-orang lebih memperhatikan saya daripada pake pakaian saya yang biasa. Biasanya saya pake khimar yang nutupin dada aja ga nyampe bawah banget, terus ga item-item semua.  Jadi saya pake baju itu cuman kalau bareng Akang aja, biar nyenengin Akang. Makin nyadar masyarakat sepertinya masih terjangkiti islamphobia. Islam seperti sesuatu yang asing. Saya sih sebenarnya biasa aja, cuman mungkin karena di Indonesia pakaian itu identik dengan salafy jadi rada risih. Saya tidak membenci mereka, mereka saudara seperti NU, Muhammadiyah, Persis, atau apapun yang syahadatnya masih sama, berarti masih muslim dan saudara. Cuman beberapa oknum salafy yang suka menghujat dan membully pemikiran ideologi kami sehingga terkadang hati kami jadi sempit atas perkataan mereka saat berjuang dalam pergerakan kami menuju khilafah islamiyah. Padahal tujuan kami dan mereka sama, tapi mungkin cara menuju tujuan itu yang berbeda. Saya ingin kami dan mereka berubah menjadi kita. Saya sadar tidak semua seperti itu, ya hanya beberapa oknum. Pemikiran Akang yang lebih cenderung pada salafy sering membuat saya terdiam. Saya tidak mau menanggapi perkataannya, khawatir meruncing pada perdebatan yang menyakitkan untuk kedua belah pihak. Dia tidak pernah mau membaca buku-buku saya. Tapi pas saya beli Majmu'aturrasail dia kayak penasaran dan buka-buka buku itu. "Tumben, mau baca buku saya." Saya cekikikan.
"Biar ga taklid." jawabnya dingin.
Saya kepikiran kalau ntar pemilu, ke TPS pake gamis item+niqab terus difoto sambil ngeliatin kelingking yang sudah terlumuri tinta. Hihihi. Keren kayaknya. Keren dong kalau orang-orang sesholeh para salafy duduk diparlemen. Saat kekuasaan ada dalam genggaman orang-orang yang shalih rakyat akan punya harapan yang lebih baik. Kalau setiap negara dipimpin oleh orang- orang yang shalih maka seluruh dunia akan terciprat keberkahan dan akhirnya terbentuklah khilafah islamiyah. Karena itu orang-orang di parlemen tidak hanya butuh kritik dan demonstrasi dari rakyat, tapi juga butuh dakwah dari dalam. Saat ini saya hanya bisa mendo'akan teman-teman ikhwanul muslimin bisa terus berjuang menggenggam kekuasaan dan mengislamkan negeri dan dunia ini, bukan hanya dengan hati, bukan hanya dengan lisan, Tapi juga dengan tangan (kekuasaan).

No comments:

Post a Comment