Wednesday, March 30, 2016

Lidah tak bertulang, gigit aja biar tertahan

Sebagai seorang perempuan yang fitrahnya adalah suka mengungkapkan segala hal dalam pikirannya meskipun hal yang tidak penting sekalipun, berbicara adalah sebuah kebutuhan. Dan godaan yang paling sulit untuk dihindari adalah membicarakan orang lain. Ya, gosip adalah suatu perbuatan yang seringkali dilakukan oleh kaum ibu-ibu (ga cuman ibu-ibu sih, gadis-gadis juga, bapak-bapak, dan bujang-bujang oge termasuk) sering melakukannya disadari ataupun tidak. Baru-baru ini saya membaca sebuah artikel yang berisi hadits-hadits mengenai ghibah atau gosip. Ya sebenarnya bukan hal baru. Saya sering mendapatkan madah mengenai afatullisan. Saya dan semua orang juga kayaknya tau gosip itu dosa. Cuman saya kaget saat membaca salah satu hadits yang menyatakan dosa ghibah itu lebih besar daripada dosa zina!!! What the??!!  Ya kaget aja zina yang termasuk dosa besar yang hukuman di dunianya dicambuk atau dirajam sampai mati kalah sama dosa ghibah? Masa iya? Astaghfirullah...  Sya mencoba menghindari ghibah dengan tidak terlalu banyak ngobrol bareng ibu-ibu sekitar, godaannya gede kalau sudah berkumpul ngobrol sama ibu-ibu, meskipun tetep aja ada dikit-dikit pembicaraan mereka yang membuat saya jadi konsumen informasi yang tidak penting bagi saya. Otomatis saya jadi pelaku ghibah meski cuman sebagai pendengar. Dulu saya pernah bertanya pada murabbi tamu saat membahas madah tentang ghibah. Beliau menyarankan untuk pergi saja dari majelis ghibah itu, karena walaupun kita cuman mendengar, kita tetep dapet dosanya. Tapi asa ga sopan secara etika mah ada orang yang sedang berbicara pada kita, kitanya langsung pergi.. Tapi itu menunjukkan ketidaksukaan kita pada perbuatan itu. Kalau kita belum mampu mencegah dengan lisan kita perbuatan itu setidaknya kita menunjukkan ketidaksukaan kita dengan menghindarinya. Tapi angger weh ghibah sudah merajalela. Di setiap stasiun televisi ada aja program yang menyuguhkan dosa ghibah. Meskipun ga niat nonton, kalau remote tv ga dipencet buat dipindahin acara gosip pasti ngelewat. Mending matiin tv aja deh. Jadi inget kisah Hasan bin Hannan di Tarbiyah Ruhiyah Abdullah Nashih Ulwan. Hasan pernah melewati sebuah rumah yang selesai dibangun. Beliau berkata, "Kapan rumah ini dibangun?". Kemudian beliau menegur dirinya sendiri,  "Kenapa kau tanyakan sesuatu yang tidak berguna untuk dirimu?! Akan kujatuhkan sanksi dengan puasa setahun!". Dan beliau pun berpuasa satu tahun sebagai sanksi atas campur tangan dalam sesuatu yang tidak berguna baginya..
Jadi inget juga suami pernah bilang ghibah boleh, bukannya kita sering ngeghibahin fir'aun, abu lahab, abu jahal, dll? Itu mereka kan orang, kita nyeritain kejelekan mereka kan? Haha iya sih.. Tapi sekarang saya baru memahami maksud ghibah yang dibolehkan, ghibah untuk dijadikan pelajaran hidup, lagian kisah-kisah itu kan dari qur'an, jadi kita menyebarkan pembelajaran kisah dari al-qur'an. Terus ghibah untuk kezhaliman orang lain di pengadilan juga boleh kan, untuk menyelesaikan permasalahan agar hakim dapat membuat keputusan berdasarkan kesaksian yang didalamnya ada keharusan mengungkapkan kejelekan orang lain. Tapi itu kan ada manfaatnya, untuk menyelesaikan suatu perkara. Bukan ghibah untuk kesenangan dan hobi sehari-hari. Saya pernah bingung saat ada teman yang menanyakan sifat buruk seorang ikhwan untuk kepentingan ta'aruf. Saat seseorang akan menikah kita harus tau sifat baik dan buruk calon pasangan. Dan caranya adalah dengan bertanya kepada teman dekatnya atau orang yang pernah atau sering berinteraksi dengan calon pasangan. Tiap orang pasti punya kelebihan dan kekurangan. Ada banyak kejadian pasangan yang bercerai karena tidak bisa menerima kekurangan istri/suaminya. Ada istri yang tidak tahan dengan suara dengkuran suaminya dan tiap malam dia jadi tidak bisa tidur nyenyak akhirnya bercerai. Cuman karena itu. Tapi kekurangan yang tidak bisa diterima walaupun itu hal sepele dampaknya besar. Dulu saya sempat bingung saat mencari tahu sifat calon suami saya. Orang yang pacaran bertahun-tahun aja belum tahu pasti tentang sifat asli pasangannya, karena yang ditampakkan saat pacaran hanyalah kepura-puraan, setelah menikah barulah keluar sifat aslinya. Apalagi saya yang ketemunya cuman bisa dihitung jari. Waktu saya coba nanya tentang sifat buruk calon suami saya ke salah satu teman dekatnya dia tidak mau memberi informasi. "Nggak ah, takut dia marah."
Dulu saya merasa dia tidak memberikan informasi pada saya. Tapi sekarang saya sadar dia memberikan informasi yang valid lewat jawabannya itu. Setelah menikah barulah kerasa. Haha. -_-"
Ya tiap manusia punya kelebihan dan kekurangan. Tidak hanya satu, pasti banyak kelebihan dan banyak kekurangan. Tidak terkecuali saya. Karena itu saya ingin selalu membersamainya dalam setiap kelebihan dan kekurangannya seperti dia yang selalu membersamai saya dalam tiap kelebihan dan kekurangan saya.

No comments:

Post a Comment