Kumo.
Wah, keren.. Satu-satunya master perempuan dari Bandung masuk media online newspaper dan tv juga. Saya sebut master karena koleksinya udah ribuan dan saya dulu beli sling tarantula, pakannya, serta tau cara keep yang benar dari dia.. Waktu itu saya cari keeper perempuan biar ga kagok fngobrolnya, terus kebeneran banget dia tinggal di Bandung, jadi bisa CODan langsung ke rumahnya. Saat masuk ke rumahnya tampak biasa saja, banyak hal-hal bercorak Chinese karena dia memang keturunan Chinese lah udah jelas dari namanya juga. Tapi saat masuk lebih dalam saya baru ngeh,arsitekturnya keren, seperti berjalan di dalam labirin-labirin misterius, dengan berbagai ruangan dan tumpukan serta gulungan kain-kain, sepertinya usaha keluarganya. Lalu saya diajak menaiki tangga ke atas, tangga yang juga unik karena tidak satu arah tapi membelok. Saat di atas saya tidak bisa menahan kekaguman pemandangan yang saya lihat.. Setidaknya saya bisa menahan diri untuk tidak berteriak dan loncat-loncat dan menari berputar saking bahagianya.. Benar-benar seperti di surga... Surga bagi para pecinta tarantula.. Saya seperti melayang-layang di antariksa tanpa gravitasi saat dia menunjukkan dan menjelaskan koleksi-koleksinya pada saya. Saya tidak bisa mengingat setiap nama species yang diperkenalkannya. Tapi saya berusaha menyimpan kata-katanya tentang tarantula serta cara keep yang baik dan benar. Dia bertanya kapan saya mulai tertarik dengan tarantula dan terkejut saat saya bilang dari sejak SMP.
"Hah? Kenapa baru sekarang mau keepnya?"
Saya bilang "Karena dari dulu tidak pernah diizinkan ortu."
Dia nanya lagi, "Emang sekarang udah dapet izin?"
"Belum" saya jawab sambil tersenyum.
"Nah, lho gimana dong? Ntar kasian ke tartulnya kalau sampai digimana-gimanain ortu."
Saya cuman tersenyum.
"Eh mau megang tarantula ga?"
Saya terbengong-bengong.. "Bolehkah"
"Berani ga?"
"Mau teh, mau, mau.."
Lalu dia mengeluarkan salah satu tarantula dari enclosurenya..
Waaw, it's big... It's green!!!
How beautiful...
Dia menunjukan cara handlingnya dan mewanti-wanti jangan sampai tarantulanya jatuh karena bisa merusak organ dalamnya..
Dan itulah pertama kalinya saya handling tarantula.. Bulu-bulu dikakinya begitu halus, saat saya megusap-usapnya dengan perlahan dia bergerak-gerak di lengan saya.. Katanya itu male, dan sekarang saya baru ingat kalau itu Poechilotheria rufilata. Hari itu saya sudah bilang cuman mau tanya-tanya dulu. Tadinya mau beli Gramastola rosea atau Brachipelma smithi, tapi stok slingnya lagi kosong. Cuman ada Heteroscodra maculata dan Stromatopelna calceatum. Tapi itu kecampur waktu shipping ga tau waktu nyampenya, saya lupa. Setelah sampai di rumah saya terus memikirkan keinginan buat keep tarantula. Ya, dari dulu saya tidak pernah bosan meminta izin, walaupun jawabannya selalu tidak. Tapi untuk kali ini saya berani untuk mencari buyernya langsung. Saat itu adalah saat-saat penggarapan skripsi saya yang mandeg. Saat itu adalah saat-saat dimana seseorang mengajak saya menikah.. Dia bilang binatang yang paling membuatnya geli dan illfeel adalah tikus dan laba-laba. Waktu itu saya berpikir bagaimana mungkin dia mau menikahi saya yang seorang spider lover? Jadi tadinya cuman mau ngetes aja, saat saya bilang sudah bertemu dengan keeper dan buyernya, dan saya berniat beli dan memeliharanya, dia tampak kaget, dari tulisan smsnya.
"Wah beneran mau beli? Seriusan itu teh?"
Tapi ujung-ujungnya dia bilang,
"Ya, udah beli aja dua, ntar yang satu lagi sama saya digantiin uangnya.. Biar belajar melihara juga. "
Saya bingung kenapa saya harus beli dua, emang dia berani melihara yang satunya lagi. Ternyata maksudnya saya yang pelihara, tapi yang satu jantan yang satu betina biar sepasang. Dia emang suka melihara binatang, kenari, kucing, ikan, dll. Dan katanya kasian kalau cuman satu mah ga ada temennya dan ga bisa kawin. Tapi dia belum pernah melihara tarantula dan ga tau kalau beli yang sling itu kita ga bisa tau sexnya apa, bisa aja itu teh female dua-duanya, atau male dua-duanya, sexnya baru bisa diliat kalau udah gede. Dan breedingnya juga ribet, hanya master-master yang udah ahli banget yang berani ngawinin tarantula, dan itu akan berakhir dengan kematian male yang menyedihkan. Setelah kawin femalenya akan langsung membunuh si male.. Telur-telur yang bisa mencapai ratusan itu harus rela menetas sebagai yatim.
Akhirnya setelah menerima gaji bulan itu saya kembali ke rumah keeper dan membeli dua ekor sling tarantula. Entah itu Heteroscodra maculata atau Stromatopelma calceatum. Saya juga membeli berbagai perlengkapan keeper. Yah, gaji saya dipakai buat hobi baru ini. Biasanya gaji saya berikan ke ibu, dan ibu saya tentu sangat terkejut dengan kehadiran dua bayi tarantula di kamar saya. Inget lah, pundungnya nyampe seminggueun. Walaupun ternyata ibu, ayah, dan adik suka kepo dan ngeliatin toples-toples kecil itu. Adik saya sering ngoceh, "Piceun weh bu, piceun ih, piceun."
Tapi saya bilang dengan tiis, "Lebar atuh, hijina kan 125rb."
Ibu saya makin ngomel, "Balikeun deui ih."
Saya jawab "Barang yang sudah dibeli tidak dapat dikembalikan."
Hihi, mereka murka, tapi penasaran terus, pengen liat.
Yang aneh mah reaksinya pas tau ibu marah, dia bilang "Jangan kasih tau ibu, saya yang nyuruh beli ya, bisi disangka memberikan pengaruh buruk sama kamu. Ntar saya gantiin uangnya yang satu ekor."
Ya bertahun-tahun saya yang nurut ga melihara tarantula sekarang jadi membangkang nekad beli, mungkin itu maksudnya. Tapi saya ga mau terima uangnya da khawatir akan nasib tarantula yang akan dia punyai, lebih baik dua-duanya saya aja yang punya, risih juga kan seorang yang geli laba-laba punya peliharaan tarantula. Apalagi pas dia sms, "Saya udah searching tentang tarantula, ternyata serem juga ya kalau gede, kayak tikus." Saya ga bisa bayangin orang yang serem sama tarantula, melihara tarantula.
Setelah menikah ternyata dia mengizinkan saya buat tetep melihara. Sampai pada suatu hari sebuah insiden terjadi. Setelah kami pulang dari silaturahmi ke Sumedang.. Pas nyampe rumah kaget, satu ekor sudah meninggal.. Satu ekor lagi masih aman di toplesnya. Toples buatan saya yang dilengkapi ventilasi berlapis. Yang meninggal ada di akuarium, sebelum pergi Akang mindahin dia ke aquarium tapi saya waktu itu ga ngeh kalau ventilasinya terlalu besar sehingga semut bisa masuk. Dia tewas dibantai oleh semut-semut itu.. Saya tidak bisa menahan tangis. Saya langsung menyiapkan kuburan dan meminta maaf pada jenazah yang terbaring kaku itu. Setelah proses pemakaman selesai saya masih menangis. Tidak mau makan, sampai mamah mertua membujuk saya untuk makan. Saya makan sambil nangis. Saya menangis seharian, dan semalaman.. Itu pertama kalinya Akang melihat saya menangis. Dia kebingungan menghentikan tangisan saya.
"Udah atuh Sin, da saya juga pernah kenari mati tapi ga nangis. "
Saya malah makin nangis..
"Iya itu salah saya, mindahin ke aquarium tapi ga memperhitungkan ventilasinya bisa dimasukin semut. Harusnya sekitar aquariumnya diolesin oli, tapi ga kepikiran."
Saya malah makin nangis..
Saya ga bisa berhenti nangis, besoknya mata saya bengkak banget..
Mulai saat itu saya membenci semut.
Saya merasa gagal menjadi keeper yang baik dan memutuskan untuk menghibahkan satu tarantula yang selamat agar bisa mendapat keeper yang lebih baik. Banyak yang berminat dan antusias menerima hibah saya. Tapi Akang melarang dan marah-marah. Dia bilang hibahin aja ke dia. Tapi kan kalau dihibahin ke Akang saya jadi tetep bisa liat dan jadi trauma lagi. Tapi Akang keukeuh, akhirnya hak pengasuhan saya kasih ke Akang juga. Sejak saat itu Akang yang ngurus dan ngasih makan tarantula. Saat kehamilan saya makin besar dan Akang harus ke Bogor, adik ipar yang ngasih makan, saya ga boleheun da lagi hamil cnah. Tapi pernah sesekali ngasih jangkrik kalau adik ipar ga di rumah. Setelah Hawnan lahir Akang ngejual tarantulanya karena adik ipar juga sering ga di rumah dan takut membahayakan Hawnan.. Tapi sebenarnya masih ada keinginan saya untuk keep tarantula..

No comments:
Post a Comment