Saturday, November 2, 2013

Sherlock Holmes

Nama itu, nama yang tidak pernah ada pemiliknya. Hanya sebuah nama dari sebuah imajinasi hebat seorang dokter, Sir Arthur Conan Doyle. Dia sudah tidak ada. Tapi imajinasinya merambat di jamannya, dan jaman setelahnya. Saya sendiri bingung kenapa bisa sampai terjangkit virus Holmes. Dimulai saat masa-masa autis saya di SMP. Sendirian di perpustakaan, membaca buku-buku yang menarik bagi saya. Salah satu kumpulan short stories Doyle waktu itu saya baca. Tertegun dengan kekuatan pengaruh tokoh imajinasi itu pada kepribadian saya. Sejak saat itu, pelan-pelan karakter saya mulai mencerminkannya seiring dengan makin banyaknya short stories dan novel yang saya baca tentangnya. Tidak terlalu banyak orang yang tahu tentang hal itu. Mereka punya dunia masing-masing, saya juga punya dunia sendiri. Selfishness.. Waktu SMA, di tahun kedua, saya memberikan sebuah kado ulang tahun kepada salah seorang teman yang menurut saya kami punya banyak kesamaan dalam perbedaan yang banyak pula. Well, saya pikir tidak ada manusia yang benar-benar memiliki seratus persen kesamaan. Sejak saat itu virus Holmes juga menular padanya, saya tidak perlu menyebutkan apa isi kadonya kan. Dia jadi lebih update tentang Sherlock Holmes. Tapi saya tetap suka yang original karya Doyle, jadi tidak terlalu tertarik dengan movies atau buku-buku lain tentang Holmes.
Suatu ketika, dia merekomendasikan salah satu series Sherlock Holmes dari bbc. Awalnya saya berpikir, itu akan sama saja dengan series, movies, dan buku-buku yang dibuat oleh selain Doyle. Tapi dia memberikan softfilenya, dan akhirnya saya menontonnya juga. Di luar dugaan, walaupun konsepnya sangat modern, tapi karakter Sherlock Holmesnya dapet banget. Saya harus mengakui Moffat dan Gatiss memang jenius. Ben bisa memerankan karakter Sherlock Holmes yang menurut saya perfect. Sherlock Holmes memang tidak pernah ada, tapi karakternya yang kuat bisa membuat masyarakat London membuat museum dan tugu tokoh fiktif itu. Ya, karakternya benar-benar melekat di otak saya. Dan sulit untuk sembuh dari virus Holmes kalau sudah benar-benar terjangkit, apalagi saya yang dari SMP entah sudah stadium berapa. Hahahaha. Music, walaupun alat musiknya beda. Martial art, walaupun jenis bela dirinya beda. Mudah berganti mood dalam sekejap. Bisa sangat cerewet, bisa sangat diam seharian. Hanya tertarik pada hal-hal yang memang sudah jadi passion pribadi. Tapi mungkin sekarang saya akan menghilangkan salah satu pemikiran saya tentang Holmes yang sudah melekat dari jaman SMP itu. 
Sherlock has always assumed that love is a dangerous disadvantage. To feel and to be felt, to want and be wanted, to love and be loved is something all too unfamiliar to his little grey cell that seek out the calculation and logic in everything.
Hal itu melekat cukup lama. Sherlock Holmes never has some feeling for anyone. He never has any relationship with someone (lupa lgi cara penggunaan anyone atau someone, :P). Cintanya hanya untuk dirinya sendiri. Cinta itu hanya sebuah motif dalam dunia kriminal, yang bisa membuat manusia saling membunuh. Tiga bulan terakhir ini saya mencoba menghilangkan paradigma itu. Karakter Sherlock Holmes yang sudah mengalir cukup lama dalam darah saya (naon sih lebay pisan, haha). Dulu mereka bilang saya adalah manusia tanpa rasa. Harus saya akui, ya. Tapi sekarang mungkin saya bisa merasakan, mungkin. Walaupun sedikit, mungkin saya bisa merasakan sesuatu pada seseorang yang sebelumnya tidak pernah saya rasakan pada orang lain. Am I freak? Yeah.

ところでがんばって ちきゅう~くん。:)

No comments:

Post a Comment