Wednesday, January 13, 2016

Egosentrisme

Nemu tulisan Bu Mia di fp PKS Kota Bandung..
Leuleus Jeujeur
By
: Miarti Yoga
Egosentrisme adalah sangat fitrah
bagi makhluk Tuhan bernama manusia. Padanya, terdapat potensi rasa antipati,
rasa ingin menang sendiri, rasa ingin diakui, rasa ingin mengalahkan lawan,
rasa ingin diangap paling benar. Dan begitulah fitrahnya seorang manusia.
Namun akan menjadi tak wajar jika
potensi rasa yang sangat fitrah itu tak kunjung melunak dalam kurun sekian
lamanya. Sementara, siapapun kita yang belajar dan terus belajar, siapapun kita
yang menjalin hubungan kehidupan bersosial, seharusnya dapat memperlunak diri
dari sikap-sikap egosentrisme yang ada. Sederhanya, manusia itu seharusnya
berubah dengan pendidikan –baik formal maupun non formal- yang didapatnya
selama bertahun-tahun.
Dan salah satu ladang
pembelajaran bagi kita adalah bagaimana kita bisa tetap hidup dengan indah
dalam heterogenitasnya latar belakang, dalam perbedaan life style, dalam perbedaan ideliasme, dalam perbedaan paradigma,
dalam lintas organisasi dengan segala perbedaan dan karakteristiknya.
Hal ini telah Allah analogikan
dalam struktur organ tubuh kita. pada bagian kepala, kita diberi dua mata, dua
telinga dan satu mulut. Jika kita tafakkuri, maka sejatinya kita harus lebih
banyak mencermati dan mendengar dengan seksama. Dengannya, kita juga diajari
untuk mampu menghargai dan menghormati orang lain. Sementara satu mulut adalah
ladang muhasabah bagi kita bahwa berhati-hati adalah semestinya. Pun dalam hal
berkomentar, menilai dan meng-klaim
sesuatu. Butuh latihan panjang untuk dapat menjaga mata, telinga dan mulut kita
sehingga tidak terjebak dalam konteks menyaiti dan mem-bully.
Hidup dalam keberagaman cara
pandang, dalam keberagaman gagasan, dalam keberagaman cara, tentu tak semudah
kita dalam menentukan visi dan misi hidup kita sendiri. Dalam perjalanannya,
akan ada pergulatan bathin, pertentangan pendapat, hingga perang opini. Namun
demikianlah seni dan sensasi hidup bersosial.
Kiranya, sikap “leules jeujeur”
dapat kita jadikan kunci sukses dalam menyelami samudera perbedaan. Dan berikut
adalah lima indikatr dari sikap “leuelus jeujeur” itu sendiri.
1.
Tak perlu reaktif dengan apapun bentuk
ketidaksepahamahan orang-orang. Karena pro kontra adalah suatu yang wajar
adanya. Karena sehebat apapun kita, tentu ada sekian orang atau sekian golongan
yang tak sepaham dengan cara kita.
2.
Dengar dan simak baik-baik pendapat orang,
sekalipun kita sudah tahu atau bahkan kita menentangnya. Tetaplah berikan sikap
terbaik, minimal dengan senyuman. Sehingga sikap lunak seperti itu, sangat
memungkinkan kita menyampaikan penjelasan detail secara puas pasca dia
menyampaikan banyak hal kepada kita.
3.
Hati-hai dalam menyikapi kabar burung atau
berita yang berlevel rumor. Tahan diri untuk berkomentar dengan sekehandak. Dan
pilihannya hanya dua, abaikan atau lakukan konfirmasi tentang keabsahan rumor
tersebut.
4.
Hindari sikap pragmatis dalam mengambil solusi
yang tengah diperdebatkan. Jangan biarkan orang-orang sekitar menilai kita
dengan watak keras kepala atau otoriter. Tetap mintai orang-orang untuk
berpendapat dengan logika masing-masing.
5.
Gunakan langkah “tabayun” ketika kesan “blunder”
sudah mengemuka. Dan betabayunlah kita dengan ikhlas, tanpa unsur mencari
sebanyak-banyaknya pembenaran.
Bismillah. Perbaikan nilai itu
niscaya. Dan kita pasti dapat berupaya. Sehingga sikap keras yang tak
seharusnya, bisa melunak dengan alamiahnya. Keangkuhan yan menguasa, bisa turun
secara perlahan sehingga kita dapat wujudkan kerendahatian.
Dan muara dari
sikap “leuleus jeujeur” itu sendiri adalah bagaimana kita dapat memiliki
kecerdasan sosial. Dengan kecerdasan sosial inilah, kita akan lihai
berdiplomasi, mampu bernegosiasi, dan mumpuni dalam berorganisasi dengan tetap
menjaga keindahan persahabatan.

Jadi kepikiran.. Saya belum bisa jadi orang yang leuleus jeujeur.. Masih mengikuti fitrah egosentrisme.. Mungkin untuk sesuatu yang objektif saya bisa, tapi untuk hal2 pribadi menyangkut selera adalah sangat subjektif bagi saya. Rasa suka dan tidak suka terhadap sesuatu sudah menjadi furqan yang jelas.. Walaupun hanya hal yang remeh temeh..  Contohnya saja tentang warna.. Dari jaman saya masih SD udah suka sama warna hijau dan sampai sekarang tetap suka banget sama hijau..  Kalau ngeliat sesuatu yang hijau, mata saya langsung "hijau".. Haha, naon sih. Dari dulu kalau mau dibeliin baju lebaran pasti pengen yang hijau, sampai sering diomelin katanya kayak yang ga ganti baju da hijau terus.. Liat gunting lucu warna hijau pengen beli, liat tempat pensil warna hijau pengen beli, liat sawah warna hijau pengen beli.. Huahahahah. Kalau liat sawah hijau teh pandangan terpaku pokona mah ga mau ngalieuk, asa wa'as pisan ngeliatnya teh.. Tas juga ga mau ganti2 dulu beli eksport warna hijau, udah 5 tahun lebih, resleting udah rusak, tetep weh pengen dipake.. Waktu itu adik ngasih kado ultah ransel season hijau baru saya mau ganti.. Apa2 hijau.. Tapi ga bosen ngeliat warna itu, adem banget.. Kebalikannya adalah warna yang tidak saya sukai.. Hampir semua yang kenal saya tau kalau saya tidak suka warna pink, itu juga dari kecil..  Entah kenapa illfeel banget ngeliatnya. Saya tau itu subjektif, pasti ada yang suka warna pink juga. Tapi saya ga bisa nyembunyiin kejijian saya saat melihat warna itu. Waktu SMA salah seorang sahabat saya pernah memberi saya tempat pensil warna pink. Dia bilang, "Sin, pake ya.. ". Saya bilang, "Tapi saya ga suka warna pink... ". Dia mohon2 sama saya biar saya pakai tempat pensilnya, saya keukeuh ga mau.. Sampai suatu hari ajal menjemputnya.. Saya selalu terbayang saat dia memohon2 pada saya untuk memakai tempat pensil itu.. Akhirnya saya memakai tempat pensil pink itu setelah dia meninggal.. Tapi itu hanya beberapa hari saja, bagaimanapun juga saya tetap tidak suka pink.. Waktu kuliah saat jadi panitia kegiatan MPM saya keukeuh ga mau dateng ke acara pas H-1 diumumin panitia perempuan harus pake kerudung pink.. Ketuanya sampai mohon2 sama saya buat dateng, saya tetap nolak kalau harus pink. Akhirnya ketuanya memberi pengecualian, saya boleh tidak memakai kerudung warna pink. Akhirnya saya datang, panitia satu2nya yang pakai kerudung hitam..
Selain warna egosentris saya juga hinggap pada hewan yang saya suka dan tidak saya suka, makanan, film, buku, musik, dll ya banyak sih, kepanjangan kalau dijabarkan semua.. Teman-teman saya sering bilang saya egois, tapi teman2 yang benar2 teman saya tidak pernah mempermasalahkan itu, karena mereka juga punya egosentris masing2.. Saya juga tidak pernah memaksa mereka menyukai apa yang saya suka, dan  mereka juga tidak memaksa saya menyukai apa yang mereka suka. Setiap orang punya selera pribadi masing2 yang tidak boleh diganggu gugat agar bisa merasa menjadi dirinya sendiri..

No comments:

Post a Comment