Friday, May 20, 2016

Wilujeng tepang taun Ayah..

Saya bersyukur memiliki seorang ayah yang menyayangi kami tanpa henti..
Saya ingat saat ayanh menggendong saya yang pura-pura tidur di sofa agar dipindahkan ke kasur..
Saya ingat ayah yang selalu membawakan oleh-oleh saat pulang kerja walaupun hanya sebutir permen..
Saya ingat ayah yang bermain pipindingan dengan saya dan adik..
Saya ingat ayah yang mendudukan saya di bahunya sambil melompat-lompat menghibur kami..
Saya ingat ayah yang memotong poni rambut saya agar mata saya tidak terganggu..
Saya ingat ayah yang senantiasa mengantarkan saya ke sekolah..
Saya ingat ayah yang selalu berkata lembut.. Pernah suatu ketika saat SMA ayah berkata kasar pada saya "Mantog siah!" Dulu saya kaget karena nada tinggi yang ayah ucapkan disertai gebrakan pintu yang ditutup dengan keras. Saya pergi ke rumah nenek karena tidak berani masuk rumah. Saat saya menanyakan apa arti kata-kata yang diucapkan ayah, nenek heran dan balik bertanya kesalahan saya. Saya tahu hari itu saya salah karena pulang melewati waktu maghrib tanpa memberi kabar. Saya ditawari senior untuk ikut ekskul karate. Saya tertarik karena diiming-imingi nilai tambahan olah raga. Nilai olah raga saya selalu rendah, senior saya bilang nilai olahraga di raport akan ditambah kalau ikut karate karena senseinya guru olah raga. Waktu latihannya tiap hari selasa dan jum'at ba'da ashar sampai maghrib. Saya shalat maghrib di mesjis sekolah, jadi baru pulang sekitar pukul setengah tujuh. Itu pertama kalinya saya pulang selarut itu. Ibu saya mengecek ke rumah nenek, memastikan saya sudah makan atau belum. Malam itu saya menginap di rumah nenek. Besoknya saya meminta maaf pada ayah. Saya tau ayah marah karena khawatir. Akhirnya mulai saat itu setiap selasa dan jum'at ibu membuatkan bekal untuk makan siang. Dan tiap selasa dan jum'at ayah tidak hanya mengantar saat pagi, tapi juga menjemput di sore hari sambil menonton saya yang sedang latihan.
Saya ingat ayah yang selalu menyempatkan waktunya untuk saya..
Saya ingat air matanya yang mengalir saat harus melepaskan saya pada orang yang telah menjadi suami saya saat akad dan sungkeman..
Saya bersyukur masih memiliki ayah yang tetap menyayangi saya..
Kebanggaan terbesar bagi saya adalah ayah yang selalu mencintai ibu dengan sepenuh hati, kesetiaannya mendampingi ibu yang telah melahirkan saya, dukungannya pada pendidikan ibu untuk melanjutkan D3, S1, dan untuk mengamalkan ilmunya, kemandiriannya mencuci baju sendiri, memasak telur sendiri, membereskan rumah dengan sangat rapi. Saya tidak khawatir saat harus merantau setelah menikah, karena saya tau akan selalu ada yang mencintai ibu setiap hari, akan selalu ada ayah untuk ibu..