Kemarin-kemarin pas waktu nunggu temen-temen liqa yang belum dateng, saya ngoprek-ngoprek rak buku MB, terus nemu buku kumpulan cerpen Ketika Mas Gagah Pergi karya Helvy Tiana Rosa. Lumayan bikin berkaca-kaca, udah lama gak baca sastra yang jleb ke hati. Heu. Ni saya dapet dari link http://sastrahelvy.com/2014/09/05/ketika-mas-gagah-pergi/ tapi ko rada beda dengan yang dibuku. Mungkin ini ditambahin kali ya, buku di rumah MB mah udah jadul, kayaknya ini versi terbaru. MARKICA (Mari Kita Baca). ^_^
Mas Gagah berubah! Ya, sudah
beberapa bulan belakangan ini Mas, sekaligus saudara kandungku satu-satunya itu
benar-benar berubah.
Mas Gagah Perwira Pratama, masih
kuliah tingkat akhir di Teknik Sipil UI. Ia seorang kakak yang sangat baik,
cerdas, periang dan tentu saja ganteng! Mas Gagah juga sudah mampu membiayai
kuliahnya sendiri dari hasil mengajar privat matematika untuk anak-anak SMP dan
SMA, menjadi model majalah, hingga menjadi senpai di sebuah klub karate.
“Hai cewek tomboi!” sapanya suatu
kali. “Waktunya kamu belajar bela diri! Percuma kan punya Mas karateka sabuk
hitam, kalau kamu nggak bisa karate?”
Hari-hari kami pun bertambah dengan
berlatih karate bersama. “Nggak usah kursus. Kursus sama Mas aja. Habis ini
latihan modeling ya, biar jalanmu nggak lebih gagah dari Mas!” sindirnya sambil
senyum.
Sejak kecil aku sangat dekat
dengannya. Tak ada rahasia di antara kami. Ia selalu mengajakku kemana ia
pergi. Ia yang menolong saat aku butuh pertolongan. Ia menghibur dan membujuk
di saat aku bersedih. Membawakan oleh-oleh sepulang sekolah dan mengajariku
mengaji. Pendek kata, ia selalu melakukan hal-hal yang baik, menyenangkan dan
berarti banyak untukku.
Saat memasuki usia dewasa kami jadi
makin dekat. Kalau ada saja sedikit waktu kosong, maka kami akan
menghabiskannya bersama. Jalan-jalan, nonton film, konser musik atau sekadar
bercanda bersama teman-teman. Mas Gagah yang humoris itu akan membuat
lelucon-lelucon santai hingga aku dan teman-temanku tertawa terbahak-bahak.
Dengan sedan putihnya ia berkeliling mengantar teman-temanku pulang usai kami
latihan teater. Kadang kami mampir dan makan dulu di Kemang atau tempat-tempat
yang sedang happening.
Tak ada yang tak menyukai Mas Gagah.
Jangankan keluarga atau tetangga, nenek-kakek, orang tua dan adik kakak
teman-temanku menyukai sosoknya!
“Kakak kamu itu keren, cute, macho
dan humoris. Masih kosong nggak sih?”
“Git, gara-gara kamu bawa Mas Gagah
ke rumah, sekarang orang serumahku sering membanding-bandingkan teman cowokku
sama Mas Gagah lho! Gila, berabe kan?”
“Gimana ya Git, agar Mas Gagah suka
padaku?”
Dan masih banyak lontaran-lontaran
senada yang mampir ke kupingku. Aku cuma mesam-mesem. Bangga.
Pernah kutanyakan pada Mas Gagah
mengapa ia belum punya pacar. Apa jawabnya?
“Mas belum minat tuh! Kan lagi
konsentrasi kuliah. Lagian kalau Mas pacaran, banyak anggaran. Banyak juga yang
patah hati! Hehehe,” kata Mas Gagah pura-pura serius.
Mas Gagah dalam pandanganku adalah
sosok ideal. Kombinasi yang unik dari banyak talenta. Ia punya rancangan masa
depan, tapi tak takut menikmati hidup. Ia moderat tapi tak pernah meninggalkan
shalat! He’s a very easy going person. Almost perfect!
Huaa, itulah Mas Gagah. Mas Gagah-ku
yang dulu!
Namun seperti yang telah kukatakan,
entah mengapa beberapa bulan belakangan ini ia berubah. Drastis! Dan kalau aku
tak salah, itu seusai ia pulang dari Madura.
“Memang ngapain sih Mas, ke Madura
segala? Lama lagi!”
“Diajak survei sama salah satu
profesor dan kontraktor, untuk perencanaan bangunan besar di sana, Dik Manis!
Sekalian penelitian skripsi Mas….”
Ah, soal bangunan dan penelitian
skripsi. Lalu kenapa Mas Gagah bisa berubah jadi aneh gara-gara hal tersebut?
Pikirku waktu itu.
“Mas ketemu kiai hebat di Madura,”
cerita Mas Gagah antusias. “Namanya Kiai Ghufron! Subhanallah, orangnya sangat
bersahaja, santri-santrinya luar biasa! Di sana Mas memakai waktu luang Mas
untuk mengaji pada beliau. Dan tiba-tiba dunia jadi lebih benderang!” tambahnya
penuh semangat. “Nanti kapan-kapan kita ke sana ya, Git.
Huh.
Dan begitulah. Mas Gagah pun berubah
menjadi lebay dalam hal agama seperti sekarang, hingga aku seolah tak
mengenal dirinya lagi.
Aku sedih. Aku kehilangan. Mas Gagah
yang dulu, yang selalu kubanggakan kini entah ke mana….