Waiting in the library..
Tadi sih nunggu di kantin. Waktu nunggu di sana ada salah satu penghuni kantin yang sering memberikan ilmu psikologis praktis pada saya. Beliau tiba-tiba berkata: "Neng Sinta udah punya calon ya?" Saya tersentak kaget. "Maksudnya?". Beliau tertawa dan menjawab: "Udah keliatan dari gerak-gerik bahasa tubuh dan pandangan mata Neng Sinta. Beda auranya juga". Saya cuman bisa terkekeh dan berkata dalam hati, "Bahaya nih..". Beliau bisa merasakan ketidaknyamanan saya tentang percakapan tadi dan tidak melanjutkan pertanyaan itu lebih dalam melainkan memindahkan topik pembicaraan ke hal yang lain. Beliau itu seolah-olah bisa membaca pikiran tiap mahasiswa di kampus ini. Atau mungkin, itu karena jiwa keibuan beliau yang selalu peduli kepada tiap mahasiswa. Akhirnya kami berbincang-bincang tentang kasus kehilangan tas dan seisinya di mesjid kampus. Selang dua bulan kejadian itu terulang lagi. Semasa saya masih kuliah kasus-kasus itu juga sering terjadi (sekarang kan saya udah gak kuliah lagi, da gak punya kelas, hehe). Saya sering memikirkan tentang modus seperti itu. Waktu awal-awal masuk kuliah sangat kaget bisa ada kejadian seperti itu di mesjid. Memang kalau dipikir-pikir hal itu cukup efektif, apalagi tingkat kewaspadaan di mesjid bisa berkurang. Semenjak tau ada kejadian seperti itu, saya membiasakan diri menaruh tas di depan saya. Karena katanya kalaupun ditaruh dipinggir masih bisa terambil. Apalagi kalau ditaruh di belakang. Hanya saja sangat disayangkan, masih banyak mahasiswa yang lalai. Buktinya, ada saja yang kehilangan tas, isinya berharga pula, katanya isi tasnya ada laptop, dompet, kunci motor, dll. Saya belum tau apakah pelakunya orang dalam atau orang luar. Tapi menurut cerita, hal ini bisa terjadi antar universitas. Jadi ada sistem penggantian tas. Ada yang pura-pura menjadi mahasiswa di kampus ini, terus masuk mesjid, menyimpan tas kosongnya, mengambil tas yang isinya berharga. Tentu saja satpam tidak bisa disalahkan, karena memang mustahil mengingat wajah setiap mahasiswa di kampus ini. Lagipula wilayah kampus memang bebas dimasuki orang luar, tidak seperti SMA atau SMP yang pasti langsung dikenali kalau ada orang asing (mereka pakai seragam sih). Pokoknya seru deh ngobrol tentang tindak kriminal yang satu ini, soalnya masih misteri siapa pelakunya. Yang jelas, meski dia atau mereka tidak ketahuan, nanti akan ada persidangan yang tidak akan bisa dihindari dengan hakim yang Maha Tahu. Bersiap-siaplah wahai manusia.. Oh iya, kami juga mengobrol tentang kekuatan pikiran dan keyakinan kalau kehilangan sesuatu. Beliau cerita pernah kehilangan dompet tapi dalam dua minggu dompet itu kembali lagi karena beliau yakin akan hal itu. Orang yang menemukannya di angkot akhirnya mengembalikannya. Ujung-ujungnya beliau memberi nasehat tentang menjadi seorang istri dan seorang ibu yang baik. Haha. Beurat. Dan ternyata pembimbing sayanya gak ada, padahal udah janjian. Tapi gpp deh, dapet ilmu lagi hari ini. Tidak sia-sia saya datang ke kampus. :)
Tadi sih nunggu di kantin. Waktu nunggu di sana ada salah satu penghuni kantin yang sering memberikan ilmu psikologis praktis pada saya. Beliau tiba-tiba berkata: "Neng Sinta udah punya calon ya?" Saya tersentak kaget. "Maksudnya?". Beliau tertawa dan menjawab: "Udah keliatan dari gerak-gerik bahasa tubuh dan pandangan mata Neng Sinta. Beda auranya juga". Saya cuman bisa terkekeh dan berkata dalam hati, "Bahaya nih..". Beliau bisa merasakan ketidaknyamanan saya tentang percakapan tadi dan tidak melanjutkan pertanyaan itu lebih dalam melainkan memindahkan topik pembicaraan ke hal yang lain. Beliau itu seolah-olah bisa membaca pikiran tiap mahasiswa di kampus ini. Atau mungkin, itu karena jiwa keibuan beliau yang selalu peduli kepada tiap mahasiswa. Akhirnya kami berbincang-bincang tentang kasus kehilangan tas dan seisinya di mesjid kampus. Selang dua bulan kejadian itu terulang lagi. Semasa saya masih kuliah kasus-kasus itu juga sering terjadi (sekarang kan saya udah gak kuliah lagi, da gak punya kelas, hehe). Saya sering memikirkan tentang modus seperti itu. Waktu awal-awal masuk kuliah sangat kaget bisa ada kejadian seperti itu di mesjid. Memang kalau dipikir-pikir hal itu cukup efektif, apalagi tingkat kewaspadaan di mesjid bisa berkurang. Semenjak tau ada kejadian seperti itu, saya membiasakan diri menaruh tas di depan saya. Karena katanya kalaupun ditaruh dipinggir masih bisa terambil. Apalagi kalau ditaruh di belakang. Hanya saja sangat disayangkan, masih banyak mahasiswa yang lalai. Buktinya, ada saja yang kehilangan tas, isinya berharga pula, katanya isi tasnya ada laptop, dompet, kunci motor, dll. Saya belum tau apakah pelakunya orang dalam atau orang luar. Tapi menurut cerita, hal ini bisa terjadi antar universitas. Jadi ada sistem penggantian tas. Ada yang pura-pura menjadi mahasiswa di kampus ini, terus masuk mesjid, menyimpan tas kosongnya, mengambil tas yang isinya berharga. Tentu saja satpam tidak bisa disalahkan, karena memang mustahil mengingat wajah setiap mahasiswa di kampus ini. Lagipula wilayah kampus memang bebas dimasuki orang luar, tidak seperti SMA atau SMP yang pasti langsung dikenali kalau ada orang asing (mereka pakai seragam sih). Pokoknya seru deh ngobrol tentang tindak kriminal yang satu ini, soalnya masih misteri siapa pelakunya. Yang jelas, meski dia atau mereka tidak ketahuan, nanti akan ada persidangan yang tidak akan bisa dihindari dengan hakim yang Maha Tahu. Bersiap-siaplah wahai manusia.. Oh iya, kami juga mengobrol tentang kekuatan pikiran dan keyakinan kalau kehilangan sesuatu. Beliau cerita pernah kehilangan dompet tapi dalam dua minggu dompet itu kembali lagi karena beliau yakin akan hal itu. Orang yang menemukannya di angkot akhirnya mengembalikannya. Ujung-ujungnya beliau memberi nasehat tentang menjadi seorang istri dan seorang ibu yang baik. Haha. Beurat. Dan ternyata pembimbing sayanya gak ada, padahal udah janjian. Tapi gpp deh, dapet ilmu lagi hari ini. Tidak sia-sia saya datang ke kampus. :)