Saya bingung bikin judulnya, tadinya kepikiran horror story atau creepy story. Tapi jadinya scary story. Kenapa? Pengen weh. Suka-suka saya dong bikin judul mau apa.
Kemarin denger cerita temen tentang pengalamannya harus ruqyah gara-gara jin gangguin dia dan keluarganya. Saya jadi inget pengalaman saya yang tidak akan terlupakan waktu jaman kuliah..
Waktu itu hari Minggu. Saya pergi ke kampus untuk mengerjakan proyek seni rupa, membuat maket dan diorama. Saat itu saya masih tingkat 1, semester 2 kalau tidak salah.. Itu tugas kelompok. Saat masuk gerbang, Kampus Cibiru sangat sepi. Ya itu kan hari Minggu. Siang itu matahari tertutup awan diiringi rintikan gerimis turun membuat udara di sekitar saya terasa sejuk dan lembab. Saya berjalan menuju ruang seni rupa yang ternyata masih terkunci. "Sudah kuduga, mereka belum datang." Gumamku dalam hati. Saya menyusuri lorong kampus yang lebih mirip lorong rumah sakit. Menemukan para caraka kampus yang sedang mengecat pagar PAUD.
"Pak, nambut konci ruang seni rupa.." Saya nyengir merasa bersalah telah mengganggu pekerjaan mereka.
Mereka saling pandang heran karena hari Minggu ada yang butuh ruangan itu.
"Mau ngerjain tugas kelompok seni rupa." Saya lanjut menjelaskan.
"Nu sanesna kamarana neng?" Tanya salah seorang dari mereka.
"Teu acan dugi panginten pak." Jawab saya singkat.
Salah seorang dari mereka mengantarkan saya ke ruang penyimpanan kunci. Saya sudah sering menggunakan ruang seni rupa. Saya suka berdiam diri di sana, sendirian, mencorat-coret kertas A3 dengan berbagai isi kepala saya. Saya sudah izin pada dosen seni rupa, dan beliau mengizinkan saya menggunakan fasilitas didalamnya. Kertas, crayon, pensil warna, acrylic, dan semua hal di sana secara gratis. Jarang ada mahasiswa yang memanfaatkannya. Beliau bilang fasilitas itu berasal dari uang mahasiswa, jadi kalau ada mahasiswa yang perlu, sangat dipersilahkan. Ruang seni rupa bagaikan surga bagi saya yang suka ketenangan. Biasanya saya mengambil sendiri kuncinya, para caraka sudah mengenal saya. Tapi karena itu hari Minggu jadi mungkin agak beda. Hari itu caraka membukakan kunci ruang seni rupa untuk saya sambil mengucapkan kalimat yang ganjil.
"Temen-temennya belum pada dateng kan? Tenang aja, nanti di dalem juga ada ada yang nemenin. " Dia tersenyum simpul dan berbalik menuju PAUD untuk mengecat pagar kembali.
Saya mengangkat alis dan berteriak padanya,
"Nuhun Pak."
Saya masuk ke dalam ruangan itu meraih tombol saklar, lampu-lampu menyala, menunjukan ruangan seni rupa yang seperti kapal pecah.
"Ini pasti ulah kelas B. Mahasiswa-mahasiswa yang sangat tidak bertanggung jawab." Gumam saya terganggu dengan pemandangan ruang seni rupa yang biasanya rapi tapi hari itu sangat berantakan. Saya mengingat jadwal pemakaian ruangan seni rupa kemarin. Yang terakhir menggunakannya adalah kelas B. Tapi saya malas harus membereskan ulah kelas lain, jadi saya langsung menuju maket kelompok saya dan mulai menggoreskan kuas untuk memberikan warna hitam pada miniatur gedung sate yang jadi tema proyek kami. Saya lupa tidak membawa earphone yang biasanya saya gunakan untuk mendengarkan lagu di mp3 sambil bekerja. Jadi saat itu saya benar-benar bekerja dalam keheningan. Hanya suara rintik hujan di atap yang menemani keasyikan saya menggarap maket. Saat tenggelam dalam keasyikan saya yang sunyi, tiba-tiba lampu di ruangan itu padam.
"Yaaaa, mati lampu.. " Saya bergumam sendiri sambil menghentikan kuas terayun dalam tinta. Tapi saya masih bisa bekerja dalam keremangan ruangan yang terisi sedikit cahaya dari pintu. Saya kembali bekerja. Tidak lama kemudian lampu kembali menyala.
"Alhamdulillah.. " saya tersenyum lebar karena senang dengan cahaya terang yang membantu saya fokus pada detail pekerjaan saya.
Beberapa saat kemudian lampu padam lagi..
"Yaaaa, gimana sih PLN.. " -_-"
Lalu menyala lagi...
Lalu mati lagi..
Nyala, mati, nyala, mati, nyala, mati..
"Lho kok?"
Lampu-lampu di ruangan itu mati dan menyala secara tidak pararel.
Saya beranjak dari kursi, mematikan saklar, dan menuju para caraka yang masih mengecat pagar PAUD. Jaraknya sekitar 30 meter dari ruang seni rupa. Tapi terasa lama sekali sampainya. Tiba-tiba teringat kata-kata caraka yang mengantar saya tadi, saya segera mengenyahkan pikiran-pikiran yang tidak sesuai logika. Berbelok ke kanan akhirnya saya menemukan mereka.
"Pak, listrikna error? Bisi ada yang konslet. Tolong dicek sebentar.."
Mereka terlihat agak kesal karena pekerjaan mereka terganggu.
"Emang kunaon neng?" Tanya salah seorang dari mereka.
"Listriknya mati nyala mati nyala terus." Jawab saya singkat.
Mereka saling berpandangan terlihat tidak nyaman. Lalu salah seorang menemani saya, dia adalah koordinator para caraka.
Di lorong dia bertanya, "Temen-temennya belum pada dateng? "
"Belum." Jawab saya.
"Dimarana keneh?"
"Duka."
"Disms atau ditelpon atuh."
Saat sampai di ruangan seni rupa, lampu sudah dalam keadaan menyala normal.
" Eh tos hurung deui gening pak." Kata saya heran.
Beliau mematikan saklar, lalu menyalakannya lagi, normal..
"Atos hurung deui pak, punten ngarepotkeun, nuhun." Kata saya.
" Bade ngerjakeun deui?" Tanyanya.
"Muhun."
"Diantosan tong?"
"Teu kedah." Jawab saya yang kemudian akan saya sesali.
"Teu nanaon neng?"
"Teu nanaon pak. "
Dan beliau pun pergi. Meninggalkan saya sendiri di ruangan itu lagi.. Saya masih heran dengan saklar lampu yang sudah saya matikan sebelum ke luar ruangan jadi menyala saat kembali. Saya meraih mobile phone saya dan mengirim sms kepada teman-teman kelompok kerja saya.
Not sent. Not sent. Not sent.
Saya coba telpon mereka satu persatu.
Your destination number is not active or in out of area. Please try again later..
Semuanya seperti itu..
WHAT THE HEEEEEEY WITH THEM??!!!
Ah sudahlah, saya kembali meraih kuas dan tinta. Mengerjakan lagi maket yang masih belum selesai. Saat saya kembali asyik dengan gedung sate tiba-tiba terdengar suara langkah kaki di lorong.
Tok tok tok tok
Langkah kaki seperti langkah orang yang memakai sepatu hak tinggi.
"Shelly?!" Teriak saya kegirangan. Saya bergegas keluar pintu untuk menyambutnya dan mengomelinya. Tapi.. Tidak ada siapa-siapa di sana.. Mungkin itu hanya suara air yang jatuh.. Saya kesal dan kembali masuk ke ruangan. Duduk dan kembali bekerja. Lalu terdengar suara benda yang jatuh. Suara benda yang terbuat dari besi.
Klontang
Saya menengok dan melihat penggaris besi yang jatuh dari gantungannya. Saya berdiri menuju penggaris itu, memungutnya dan menggantungkannya kembali di tempatnya. Bersama dengan benda-benda lainnya yang digantungkan seperti pajangan. Ada obeng, acrylic, dan benda-benda lainnya untuk memahat dan mengolah tanah liat yang saya lupa lagi namanya apa. Saya kembali duduk dan sibuk lagi dengan kuas dan cat. Tiba-tiba saya tersentak karena benda-benda yang digantung itu jatuh satu persatu di depan mata saya. Klontang. Klontang. Klontang. Klontang. Apa anginnya kencang? Ah tidak.. Saya tidak merasakan angin yang kencang. Kenapa benda-benda itu jatuh semua? Merepotkan. Saya memunguti dan menggantungkan kembali benda-benda itu. Lalu dimulai lagi lampunya.. Mati, nyala, mati, nyala, mati, nyala, makin lama makin cepat, makin tidak beraturan. Saya mulai merasa bulu kuduk saya merinding. Saya tidak percaya hantu. Saya rasional. Ada yang menjahili saya? Ketakutan saya tertutup oleh rasa marah karena merasa dipermainkan, saya menggebrak meja dengan gusar dan berteriak lantang.
Kemarin denger cerita temen tentang pengalamannya harus ruqyah gara-gara jin gangguin dia dan keluarganya. Saya jadi inget pengalaman saya yang tidak akan terlupakan waktu jaman kuliah..
Waktu itu hari Minggu. Saya pergi ke kampus untuk mengerjakan proyek seni rupa, membuat maket dan diorama. Saat itu saya masih tingkat 1, semester 2 kalau tidak salah.. Itu tugas kelompok. Saat masuk gerbang, Kampus Cibiru sangat sepi. Ya itu kan hari Minggu. Siang itu matahari tertutup awan diiringi rintikan gerimis turun membuat udara di sekitar saya terasa sejuk dan lembab. Saya berjalan menuju ruang seni rupa yang ternyata masih terkunci. "Sudah kuduga, mereka belum datang." Gumamku dalam hati. Saya menyusuri lorong kampus yang lebih mirip lorong rumah sakit. Menemukan para caraka kampus yang sedang mengecat pagar PAUD.
"Pak, nambut konci ruang seni rupa.." Saya nyengir merasa bersalah telah mengganggu pekerjaan mereka.
Mereka saling pandang heran karena hari Minggu ada yang butuh ruangan itu.
"Mau ngerjain tugas kelompok seni rupa." Saya lanjut menjelaskan.
"Nu sanesna kamarana neng?" Tanya salah seorang dari mereka.
"Teu acan dugi panginten pak." Jawab saya singkat.
Salah seorang dari mereka mengantarkan saya ke ruang penyimpanan kunci. Saya sudah sering menggunakan ruang seni rupa. Saya suka berdiam diri di sana, sendirian, mencorat-coret kertas A3 dengan berbagai isi kepala saya. Saya sudah izin pada dosen seni rupa, dan beliau mengizinkan saya menggunakan fasilitas didalamnya. Kertas, crayon, pensil warna, acrylic, dan semua hal di sana secara gratis. Jarang ada mahasiswa yang memanfaatkannya. Beliau bilang fasilitas itu berasal dari uang mahasiswa, jadi kalau ada mahasiswa yang perlu, sangat dipersilahkan. Ruang seni rupa bagaikan surga bagi saya yang suka ketenangan. Biasanya saya mengambil sendiri kuncinya, para caraka sudah mengenal saya. Tapi karena itu hari Minggu jadi mungkin agak beda. Hari itu caraka membukakan kunci ruang seni rupa untuk saya sambil mengucapkan kalimat yang ganjil.
"Temen-temennya belum pada dateng kan? Tenang aja, nanti di dalem juga ada ada yang nemenin. " Dia tersenyum simpul dan berbalik menuju PAUD untuk mengecat pagar kembali.
Saya mengangkat alis dan berteriak padanya,
"Nuhun Pak."
Saya masuk ke dalam ruangan itu meraih tombol saklar, lampu-lampu menyala, menunjukan ruangan seni rupa yang seperti kapal pecah.
"Ini pasti ulah kelas B. Mahasiswa-mahasiswa yang sangat tidak bertanggung jawab." Gumam saya terganggu dengan pemandangan ruang seni rupa yang biasanya rapi tapi hari itu sangat berantakan. Saya mengingat jadwal pemakaian ruangan seni rupa kemarin. Yang terakhir menggunakannya adalah kelas B. Tapi saya malas harus membereskan ulah kelas lain, jadi saya langsung menuju maket kelompok saya dan mulai menggoreskan kuas untuk memberikan warna hitam pada miniatur gedung sate yang jadi tema proyek kami. Saya lupa tidak membawa earphone yang biasanya saya gunakan untuk mendengarkan lagu di mp3 sambil bekerja. Jadi saat itu saya benar-benar bekerja dalam keheningan. Hanya suara rintik hujan di atap yang menemani keasyikan saya menggarap maket. Saat tenggelam dalam keasyikan saya yang sunyi, tiba-tiba lampu di ruangan itu padam.
"Yaaaa, mati lampu.. " Saya bergumam sendiri sambil menghentikan kuas terayun dalam tinta. Tapi saya masih bisa bekerja dalam keremangan ruangan yang terisi sedikit cahaya dari pintu. Saya kembali bekerja. Tidak lama kemudian lampu kembali menyala.
"Alhamdulillah.. " saya tersenyum lebar karena senang dengan cahaya terang yang membantu saya fokus pada detail pekerjaan saya.
Beberapa saat kemudian lampu padam lagi..
"Yaaaa, gimana sih PLN.. " -_-"
Lalu menyala lagi...
Lalu mati lagi..
Nyala, mati, nyala, mati, nyala, mati..
"Lho kok?"
Lampu-lampu di ruangan itu mati dan menyala secara tidak pararel.
Saya beranjak dari kursi, mematikan saklar, dan menuju para caraka yang masih mengecat pagar PAUD. Jaraknya sekitar 30 meter dari ruang seni rupa. Tapi terasa lama sekali sampainya. Tiba-tiba teringat kata-kata caraka yang mengantar saya tadi, saya segera mengenyahkan pikiran-pikiran yang tidak sesuai logika. Berbelok ke kanan akhirnya saya menemukan mereka.
"Pak, listrikna error? Bisi ada yang konslet. Tolong dicek sebentar.."
Mereka terlihat agak kesal karena pekerjaan mereka terganggu.
"Emang kunaon neng?" Tanya salah seorang dari mereka.
"Listriknya mati nyala mati nyala terus." Jawab saya singkat.
Mereka saling berpandangan terlihat tidak nyaman. Lalu salah seorang menemani saya, dia adalah koordinator para caraka.
Di lorong dia bertanya, "Temen-temennya belum pada dateng? "
"Belum." Jawab saya.
"Dimarana keneh?"
"Duka."
"Disms atau ditelpon atuh."
Saat sampai di ruangan seni rupa, lampu sudah dalam keadaan menyala normal.
" Eh tos hurung deui gening pak." Kata saya heran.
Beliau mematikan saklar, lalu menyalakannya lagi, normal..
"Atos hurung deui pak, punten ngarepotkeun, nuhun." Kata saya.
" Bade ngerjakeun deui?" Tanyanya.
"Muhun."
"Diantosan tong?"
"Teu kedah." Jawab saya yang kemudian akan saya sesali.
"Teu nanaon neng?"
"Teu nanaon pak. "
Dan beliau pun pergi. Meninggalkan saya sendiri di ruangan itu lagi.. Saya masih heran dengan saklar lampu yang sudah saya matikan sebelum ke luar ruangan jadi menyala saat kembali. Saya meraih mobile phone saya dan mengirim sms kepada teman-teman kelompok kerja saya.
Not sent. Not sent. Not sent.
Saya coba telpon mereka satu persatu.
Your destination number is not active or in out of area. Please try again later..
Semuanya seperti itu..
WHAT THE HEEEEEEY WITH THEM??!!!
Ah sudahlah, saya kembali meraih kuas dan tinta. Mengerjakan lagi maket yang masih belum selesai. Saat saya kembali asyik dengan gedung sate tiba-tiba terdengar suara langkah kaki di lorong.
Tok tok tok tok
Langkah kaki seperti langkah orang yang memakai sepatu hak tinggi.
"Shelly?!" Teriak saya kegirangan. Saya bergegas keluar pintu untuk menyambutnya dan mengomelinya. Tapi.. Tidak ada siapa-siapa di sana.. Mungkin itu hanya suara air yang jatuh.. Saya kesal dan kembali masuk ke ruangan. Duduk dan kembali bekerja. Lalu terdengar suara benda yang jatuh. Suara benda yang terbuat dari besi.
Klontang
Saya menengok dan melihat penggaris besi yang jatuh dari gantungannya. Saya berdiri menuju penggaris itu, memungutnya dan menggantungkannya kembali di tempatnya. Bersama dengan benda-benda lainnya yang digantungkan seperti pajangan. Ada obeng, acrylic, dan benda-benda lainnya untuk memahat dan mengolah tanah liat yang saya lupa lagi namanya apa. Saya kembali duduk dan sibuk lagi dengan kuas dan cat. Tiba-tiba saya tersentak karena benda-benda yang digantung itu jatuh satu persatu di depan mata saya. Klontang. Klontang. Klontang. Klontang. Apa anginnya kencang? Ah tidak.. Saya tidak merasakan angin yang kencang. Kenapa benda-benda itu jatuh semua? Merepotkan. Saya memunguti dan menggantungkan kembali benda-benda itu. Lalu dimulai lagi lampunya.. Mati, nyala, mati, nyala, mati, nyala, makin lama makin cepat, makin tidak beraturan. Saya mulai merasa bulu kuduk saya merinding. Saya tidak percaya hantu. Saya rasional. Ada yang menjahili saya? Ketakutan saya tertutup oleh rasa marah karena merasa dipermainkan, saya menggebrak meja dengan gusar dan berteriak lantang.
"OY! DIAAAAM! SHUT UP! GANDENG SIAH! DAMATTE KUDASAI!"
Seketika lampu berhenti berkedap kedip dan mati. Suara gerimis siang masih terdengar di telinga saya. Saya berlari menuju para caraka. Mencoba tetap terlihat tenang saya berkata,
"Pak, lampunya gitu lagi."
Mereka terlihat heran dengan saya. Ada salah seorang yang terkikik,
"Nya ceuk saya oge, ada yang nemenin eneng di dalem kan? "
Saya cemberut. Sama sekali tidak lucu. Koordinator caraka terlihat sangat khawatir dan menemani saya kembali ke sana.
"Ari eneng atuh tong nyalira! Naha teu acan daratang keneh temen-temennya?!" Dia marah-marah di lorong menuju ruang seni rupa. Kenapa dia jadi marah-marah?
"Teu acan pak. "
"Naha? Tos ditelepon?! "
"Tos, teu araktif hpna."
"Tos ayeuna mah ngalih tong di ruangan eta!"
Saya mengambil proyek saya beserta kuas dan tinta. Saya pindah ke ruangan sebelahnya, ruang TU. Di sana ada dua unit komputer, sofa, dan ada kamar mandi di dalamnya. Cahayanya lebih terang karena kaca jendelanya tidak tertutup. Saya mengerjakan gedung sate saya di sofa.
"Direncangan tong?" Tanyanya.
"Teu kedah." Jawab saya.
Dia menghela napas..
"Sok we lah direncangan ku bapa."
Dia duduk di depan komputer, menyalakannya, dan bermain game komputer.
"Bilih ngarepotkeun, pan bapa nuju ngecet PAUD." Kata saya.
"Wios weh. Da eneng mah atuh bet di ruang seni rupa. Puguh banyak kajadian di dinya teh." Katanya sambil asyik memainkan game komputer.
"Hah?"
"Komo perempuan mah, sok di gangguin. Sering ada suara nangis dari dalem lemarinya.." Lanjutnya dengan mata yang tidak beralih dari layar komputer.
"Hehe. Maenya pak." Saya mulai terganggu dengan cerita tak masuk akal yang bisa menghambat kreativitas saya di ruang seni rupa. Lagian nyebelin banget kalau yang digangguin cuman perempuan aja, benar-benar tidak menghormati hak persamaan gender dalam penggunaan ruang seni rupa. -_-"
"Ih, si eneng mah teu percayaan. Bapa tos lami di kampus ieu. Ruangan eta teh ruangan nu paling sering aya kajadian."
"Hehe. Atos pak tong nyaritakeun nu kitu." Protes saya.
Beliau terkekeh, dan tidak melanjutkan ceritanya. Sepertinya beliau mengerti saya tidak mau mendengar cerita seperti itu lagi.
"Lami keneh teu neng?" Tanyanya mengalihkan sejenak pandangannya dari layar komputer.
"Sakedap deui." Sebenarnya masih lama, tapi saya ga enak kalau beliau harus menunggui saya padahal dia juga masih ada pekerjaan. Saya ke kamar mandi mencuci kuas dan palet bekas tinta.
"Saya harus ke ruang seni rupa lagi pak, tas saya masih di sana."
"Eh, si eneng mah sanes dicandak tadi sakalian."
"Hilap pak, hehe."
"Dianteur tong?"
"Teu kedah pak, sakedap da nyandak kantong hungkul, teras bade uih."
"Teu nanaon?"
"Teu nanaon pak."
Beliau tersenyum dan mengangguk. Mematikan komputernya dan kembali ke PAUD untuk mengecat.
Saya masuk kembali ke ruang seni rupa. Menyalakan saklar. Dan melihat kembali pemandangan yang mengganggu. Kekacauan akibat kelas B. Lalu saya merenung. Mungkin mereka juga terganggu dengan pemandangan yang berantakan ini sama seperti saya. Saya menyimpan kembali maket di meja kelompok kami. Memandang tas hijau saya. Sepertinya nanti saja pulangnya. Saya menghela napas panjang. Dan membereskan kekacauan di ruang seni rupa. Menyusun karton-karton dan scotlight yang berserakan, membersihkan meja yang penuh sampah, membereskan segala sesuatunya, sampai menyapu dan membuang sampah ke tempat sampah. Lumayan juga, membersihkan ruang seni rupa ternyata lumayan melelahkan. Tapi saya lebih nyaman dengan kekacauan yang hilang digantikan oleh pemandangan yang rapi.
"Saya baik kan? Saya mahasiswa yang bertanggung jawab." Teriak saya sambil tersenyum dan berputar-putar senang. Saya tidak tahu kepada siapa saya bicara. Tapi saya benar-benar puas dengan yang telah saya lakukan hari itu. Saya melirik lemari tempat kertas-kertas A3, pensil-pensil, crayon-crayon, pensil warna, dll. Masih belum berani membuka lemari itu karena membayangkan cerita caraka. Membayangkan saat membuka lemari itu ada wanita yang sedang menangis berjongkok dan mendongakkan kepalanya ke atas dengan menakutkan. Padahal sebelumnya saya biasa-biasa saja membuka pintu lemari itu. -_-"
Saya meraih tas saya, mengunci ruangan, mengembalikan kunci kepada para caraka yang masih bekerja, dan pulang. Beberapa caraka menggoda saya dengan bertanya,
"Aya nu ngaheureuyan nya neng? "
"Aya nu ngarencangan nya neng?"
Saya hanya tersenyum dan mengucapkan terima kasih dengan sopan.
Seketika lampu berhenti berkedap kedip dan mati. Suara gerimis siang masih terdengar di telinga saya. Saya berlari menuju para caraka. Mencoba tetap terlihat tenang saya berkata,
"Pak, lampunya gitu lagi."
Mereka terlihat heran dengan saya. Ada salah seorang yang terkikik,
"Nya ceuk saya oge, ada yang nemenin eneng di dalem kan? "
Saya cemberut. Sama sekali tidak lucu. Koordinator caraka terlihat sangat khawatir dan menemani saya kembali ke sana.
"Ari eneng atuh tong nyalira! Naha teu acan daratang keneh temen-temennya?!" Dia marah-marah di lorong menuju ruang seni rupa. Kenapa dia jadi marah-marah?
"Teu acan pak. "
"Naha? Tos ditelepon?! "
"Tos, teu araktif hpna."
"Tos ayeuna mah ngalih tong di ruangan eta!"
Saya mengambil proyek saya beserta kuas dan tinta. Saya pindah ke ruangan sebelahnya, ruang TU. Di sana ada dua unit komputer, sofa, dan ada kamar mandi di dalamnya. Cahayanya lebih terang karena kaca jendelanya tidak tertutup. Saya mengerjakan gedung sate saya di sofa.
"Direncangan tong?" Tanyanya.
"Teu kedah." Jawab saya.
Dia menghela napas..
"Sok we lah direncangan ku bapa."
Dia duduk di depan komputer, menyalakannya, dan bermain game komputer.
"Bilih ngarepotkeun, pan bapa nuju ngecet PAUD." Kata saya.
"Wios weh. Da eneng mah atuh bet di ruang seni rupa. Puguh banyak kajadian di dinya teh." Katanya sambil asyik memainkan game komputer.
"Hah?"
"Komo perempuan mah, sok di gangguin. Sering ada suara nangis dari dalem lemarinya.." Lanjutnya dengan mata yang tidak beralih dari layar komputer.
"Hehe. Maenya pak." Saya mulai terganggu dengan cerita tak masuk akal yang bisa menghambat kreativitas saya di ruang seni rupa. Lagian nyebelin banget kalau yang digangguin cuman perempuan aja, benar-benar tidak menghormati hak persamaan gender dalam penggunaan ruang seni rupa. -_-"
"Ih, si eneng mah teu percayaan. Bapa tos lami di kampus ieu. Ruangan eta teh ruangan nu paling sering aya kajadian."
"Hehe. Atos pak tong nyaritakeun nu kitu." Protes saya.
Beliau terkekeh, dan tidak melanjutkan ceritanya. Sepertinya beliau mengerti saya tidak mau mendengar cerita seperti itu lagi.
"Lami keneh teu neng?" Tanyanya mengalihkan sejenak pandangannya dari layar komputer.
"Sakedap deui." Sebenarnya masih lama, tapi saya ga enak kalau beliau harus menunggui saya padahal dia juga masih ada pekerjaan. Saya ke kamar mandi mencuci kuas dan palet bekas tinta.
"Saya harus ke ruang seni rupa lagi pak, tas saya masih di sana."
"Eh, si eneng mah sanes dicandak tadi sakalian."
"Hilap pak, hehe."
"Dianteur tong?"
"Teu kedah pak, sakedap da nyandak kantong hungkul, teras bade uih."
"Teu nanaon?"
"Teu nanaon pak."
Beliau tersenyum dan mengangguk. Mematikan komputernya dan kembali ke PAUD untuk mengecat.
Saya masuk kembali ke ruang seni rupa. Menyalakan saklar. Dan melihat kembali pemandangan yang mengganggu. Kekacauan akibat kelas B. Lalu saya merenung. Mungkin mereka juga terganggu dengan pemandangan yang berantakan ini sama seperti saya. Saya menyimpan kembali maket di meja kelompok kami. Memandang tas hijau saya. Sepertinya nanti saja pulangnya. Saya menghela napas panjang. Dan membereskan kekacauan di ruang seni rupa. Menyusun karton-karton dan scotlight yang berserakan, membersihkan meja yang penuh sampah, membereskan segala sesuatunya, sampai menyapu dan membuang sampah ke tempat sampah. Lumayan juga, membersihkan ruang seni rupa ternyata lumayan melelahkan. Tapi saya lebih nyaman dengan kekacauan yang hilang digantikan oleh pemandangan yang rapi.
"Saya baik kan? Saya mahasiswa yang bertanggung jawab." Teriak saya sambil tersenyum dan berputar-putar senang. Saya tidak tahu kepada siapa saya bicara. Tapi saya benar-benar puas dengan yang telah saya lakukan hari itu. Saya melirik lemari tempat kertas-kertas A3, pensil-pensil, crayon-crayon, pensil warna, dll. Masih belum berani membuka lemari itu karena membayangkan cerita caraka. Membayangkan saat membuka lemari itu ada wanita yang sedang menangis berjongkok dan mendongakkan kepalanya ke atas dengan menakutkan. Padahal sebelumnya saya biasa-biasa saja membuka pintu lemari itu. -_-"
Saya meraih tas saya, mengunci ruangan, mengembalikan kunci kepada para caraka yang masih bekerja, dan pulang. Beberapa caraka menggoda saya dengan bertanya,
"Aya nu ngaheureuyan nya neng? "
"Aya nu ngarencangan nya neng?"
Saya hanya tersenyum dan mengucapkan terima kasih dengan sopan.
Besoknya tibalah kemurkaan saya pada teman-teman kelompok saya. Saya cerita pertama kali sama Obos dan menanyakan kemana dia kemarin.
"Punten non, saya ketiduran." Jawabnya dengan watados. Saya marah-marah dan menceritakan kejadian kemarin. Dia seperti tidak percaya.
"Wah? Maenya?" Cuman gitu doang jawabannya.
Dia menceritakannya pada teman-teman yang lain. Mereka mengerubuni saya yang lagi pundung.
"Beneran gitu sin? " Tanya Jejen.
"Aku lagi mudik ke Sumedang. Emang ada kerja kelompok ya kemarin?" Kata Iki.
"Maaf aku lupa ga ngasih tau yang lain, aku juga lupa. Ketiduran." Kata Shelly.
Jadi informasi kerja kelompoknya ga dijarkomin??!!!
"Tapi kenapa saya telpon kalian susah banget??!!"
Mereka juga heran karena hp mereka katanya pada aktif..
Cerita itu sampai juga di telinga dosen seni rupa. Beliau sering bilang saya salah masuk jurusan, harusnya saya masuk ke jurusan seni rupa bukan PGSD katanya. Beliau bertanya pada saya tentang cerita itu,
"Temen-temen kamu cerita kejadian di ruang ini. Beneran itu Sin? "
"Iya Pak, bener." Jawab saya datar.
"Mungkin pengen kenalan sama kamu Sin. Hahaha."
Sangat-sangat tidak lucu..
Well, setelah kejadian itu saya tidak kapok ke ruang seni rupa. Saya tetap suka ruangan itu. Hanya saja butuh waktu 2 hari sampai saya berani membuka kembali lemari dan mengambil fasilitas gratisan yang bisa saya gunakan untuk hobi saya. Saya ingat saat ragu-ragu membuka lemari itu dengan mata tertutup. Lalu membuka mata sambil berteriak dan loncat-loncat senang.
"Tidak ada apa-apa kan??!!"
Kayak orang gila aja. Untung ga ada manusia yang ngeliat saya pas kayak gitu.
Waktu saya garap skripsi (yang telat) ruang seni rupa sudah berubah jadi ruang audio visual semacam lab bahasa. Padahal setelah mata kuliah seni rupa berakhir saya tetep sering ke sana buat fasilitas seni rupa gratis. Rada kecewa juga sih diubah jadi ruang audio visual.
Intinya saya ga percaya hantu. Tapi saya percaya adanya jin. Jin kan makhluk gaib. Saya kan orang beriman ya harus percaya kalau jin itu ada. Tapi saya tidak harus takut sama jin, karena yang ditunjuk sebagai khalifah di muka bumi ini adalah manusia bukan jin. Dan saya adalah manusia. Saya juga tidak perlu mengurusi urusan jin. Urusan sama manusia aja udah ribet, ngapain urusan sama jin. Nyiar-nyiar pikamusyrikkeun wae kalau ada manusia yang mau punya urusan sama jin.
"Punten non, saya ketiduran." Jawabnya dengan watados. Saya marah-marah dan menceritakan kejadian kemarin. Dia seperti tidak percaya.
"Wah? Maenya?" Cuman gitu doang jawabannya.
Dia menceritakannya pada teman-teman yang lain. Mereka mengerubuni saya yang lagi pundung.
"Beneran gitu sin? " Tanya Jejen.
"Aku lagi mudik ke Sumedang. Emang ada kerja kelompok ya kemarin?" Kata Iki.
"Maaf aku lupa ga ngasih tau yang lain, aku juga lupa. Ketiduran." Kata Shelly.
Jadi informasi kerja kelompoknya ga dijarkomin??!!!
"Tapi kenapa saya telpon kalian susah banget??!!"
Mereka juga heran karena hp mereka katanya pada aktif..
Cerita itu sampai juga di telinga dosen seni rupa. Beliau sering bilang saya salah masuk jurusan, harusnya saya masuk ke jurusan seni rupa bukan PGSD katanya. Beliau bertanya pada saya tentang cerita itu,
"Temen-temen kamu cerita kejadian di ruang ini. Beneran itu Sin? "
"Iya Pak, bener." Jawab saya datar.
"Mungkin pengen kenalan sama kamu Sin. Hahaha."
Sangat-sangat tidak lucu..
Well, setelah kejadian itu saya tidak kapok ke ruang seni rupa. Saya tetap suka ruangan itu. Hanya saja butuh waktu 2 hari sampai saya berani membuka kembali lemari dan mengambil fasilitas gratisan yang bisa saya gunakan untuk hobi saya. Saya ingat saat ragu-ragu membuka lemari itu dengan mata tertutup. Lalu membuka mata sambil berteriak dan loncat-loncat senang.
"Tidak ada apa-apa kan??!!"
Kayak orang gila aja. Untung ga ada manusia yang ngeliat saya pas kayak gitu.
Waktu saya garap skripsi (yang telat) ruang seni rupa sudah berubah jadi ruang audio visual semacam lab bahasa. Padahal setelah mata kuliah seni rupa berakhir saya tetep sering ke sana buat fasilitas seni rupa gratis. Rada kecewa juga sih diubah jadi ruang audio visual.
Intinya saya ga percaya hantu. Tapi saya percaya adanya jin. Jin kan makhluk gaib. Saya kan orang beriman ya harus percaya kalau jin itu ada. Tapi saya tidak harus takut sama jin, karena yang ditunjuk sebagai khalifah di muka bumi ini adalah manusia bukan jin. Dan saya adalah manusia. Saya juga tidak perlu mengurusi urusan jin. Urusan sama manusia aja udah ribet, ngapain urusan sama jin. Nyiar-nyiar pikamusyrikkeun wae kalau ada manusia yang mau punya urusan sama jin.