Saturday, November 26, 2016

Sang Murabbi

Tadi nonton cuplikan Sang Murabbi di salah satu fanspage fb. Tentang bagaimana almarhum Ust. Rahmat Abdullah yang begitu lembut bisa menjadi galak saat ada orang yang meragukan janji nabi. Saya jadi buka youtube dan search Sang Murabbi. Langsung terbayang murabbiyah saya yang pertama saat SMA. Beliau yang dulu mempertontonkan film ini saat wada'an kelompok yang waktu itu kami akan mengalami ujian akhir nasional dan melanjutkan studi di kampus-kampus yang sudah kami rencanakan.. Saat itu saya sedang galau karena perbedaan pendapat dengan orang tua tentang kampus dan jurusan yang akan saya ambil.. Saya ingin masuk ke ITB dan mengambil jurusan Astronomi karena saya suka Astronomi. Tapi orang tua saya ingin saya mengambil PGSD UPI. Saya berusaha melobi orang tua dan tawar menawar mengenai kampus UPI. Saya bersedia daftar UPI tapi jurusannya B.Inggris atau B.Jepang. Tapi orang tua tetap memaksa saya daftar PGSD. Akhirnya saya ikut UM dengan asal-asalan, sama sekali tidak membawa apa-apa. Hanya beli pensil di jalan, meminjam serutan pada teman satu ruangan ujian yang tidak saya kenal. Tidak ada penghapus.. Tidak ada apa-apa. Dulu di pikiran saya hanya terlintas "Kenapa saya harus ikut ujian ini? Saya harap tidak lulus.." Saat saya melihat soal ujian, yang terdiri dari B.Inggris yang tentu saja saya kuasai karena saya jurusan bahasa saat SMA dan soal psikotes matematika dasar. Walaupun saya tidak suka matematika yang merupakan kelemahan saya, tapi soal-soal ini tergolong mudah karena menggunakan logika sederhana. Tidak ada soal seperti konsep logaritma atau konsep matematika rumit lainnya yang tidak bermanfaat back saya. Sempat terpikir untuk mengerjakannya dengan asal dan sengaja memilih jawaban yang salah. Tapi harga diri saya tidak mengizinkannya. Bagaimanapun juga saya mengerjakannya dengan sungguh-sungguh dan sepertinya Allah memberikan kemudahan bagi saya untuk mengerjakan tiap soalnya. Saat itu yang mendaftar ke PGSD Kampus Cibiru kalau tidak salah kurang lebih seribu orang. Yang akan diterima hanya sekitar 10% atau kurang lebih seratus orang. Waktu itu PGSD hanya membuka jalur UM, tidak ada SMPTN/SNMPTN. Saat mendapat pengumuman bahwa saya termasuk yang lulus, entah kenapa bukannya senang, malah jadi galau. Saya sudah berniat memecahkan celengan untuk mendaftar SMPTN. Saya sudah berlatih soal-soal IPC yang bukunya tiap hari saya bawa kemana-mana, saya baca dan saya kerjakan dimana-mana. Waktu itu orang tua meminta saya tidak perlu daftar SMPTN dan mengambil UM yang telah jelas-jelas saya lulus. Nah kembali lagi pada Sang Murabbi. Saat saya menontonnya, saya jadi takjub pada Ust. Rahmat Abdullah. Asli, pengen nangis. Entah karena filmnya atau karena itu liqa terakhir dengan murabbiyah saya dan dengan teman-teman halaqah yang selama tiga tahun membersamai saya dalam suka dan duka, saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran. Pokonya setelah menonton film ini saya jadi pasrah menerima takdir sebagai mahasiswa UPI Kampus Cibiru jurusan PGSD. Saya terkesan dengan Ust. Rahmat Abdullah yang cita-citanya ingin menjadi guru karena pahala yang tidak pernah putus walaupun jasad sudah berada dalam liang lahat. Dan beliau begitu menurut pada ibunya, saat ibunya melarang beliau kuliah di Al Azhar Mesir. Beliau rela melepaskan kesempatan emas jadi mahasiswa Al Azhar demi menuruti perintah ibunya tinggal di Indonesia. Setelah istikharah beliau menolak beasiswa itu. Ladang dakwah tersebar dimana-mana dan beliau memilih untuk menyemainya di Indonesia. Saya pun istikharah dan mantap untuk mengambil kelulusan UM, mengurungkan niat untuk ikut SMPTN. Saat mulai menjadi mahasiswa di kampus, masih ada terbersit pikiran "Why am I here? I don't belong here.." Saya berusaha mengenyahkan pikiran itu. Waktu masa orientasi salah satu dosen bertanya dikelas, "Siapa di sini yang masuk PGSD karena disuruh orang tua? " Saya mengacungkan tangan... Ternyata tidak hanya saya, hampir semuanya mengacungkan tangan! Setelah ditelusuri, rata-rata keluarga teman-teman saya adalah guru SD.. Mereka dapat informasi tentang jurusan PGSD dari keluarganya. Ya setidaknya saya tidak merasa sendirian. Banyak teman-teman yang senasib sepenanggungan dengan saya. Dan yang mengejutkan saat saya berkuliah di sana adalah "Saya mencintai kampus ini!" Direktur yang sangat berwibawa Prof. Dr. Juntika Nurihsan.. Dosen-dosen yang 90% keren-keren.. Apalagi dosen-dosen IPA 100% keren. Mereka idealis, mengayomi mahasiswa-mahasiswinya, memberikan perkuliahan dengan baik, dan pada rajin! Menurut informasi, di kampus yang lain, dosen-dosennya jarang hadir ke kelas. Dan saya benar-benar bersyukur dengan fasilitas ORMAWA dan UKM di kampus saya yang membuat saya semakin cinta dengan Kampus Cibiru. Saya betah diam di kampus sampai sore karena ikut kegiatan di luar perkuliahan. Bahkan hari libur pun ke kampus karena banyak kegiatan mahasiswa yang menyenangkan. Ya pokoknya banyak cerita di kampus ini. Saya benar-benar sudah jatuh cinta dengan Kampus Cibiru sampai-sampai lulusnya lebih dari 8 semester. Hahah, ini mah alasan weh. Ya, lumayan sedih juga saat saya lulus di smt 10.. Itu berarti saya tidak punya alasan yang kuat lagi buat sering-sering ke kampus. Naik ke atas torn air kampus, pakai alat pemotong rumput caraka kampus, melewati jalan rahasia selain gerbang kampus, main tin whistle di saung di bawah pohon kelapa di depan hamparan sawah hijau di salah satu sudut kampus, mencorat-coret kertas di ruang seni rupa pakai acrylic, crayon, pensil warna, kertas A3 yang bebas saya gunakan secara gratis, memainkan keyboard di ruang seni musik, meloncati pagar gerbang kampus yang sudah digembok, tidur di ruang poliklinik saat sakit, menyendiri di as sakinah.. Banyak me time yang saya lakukan di kampus saat saya butuh waktu sendirian..
Dan saya juga bertemu seorang  kakak tingkat yang sekarang menjadi suami saya.. Di kampus..
Yes I have a lot of memories in that campus. And I proud to be a teacher. ლ(⌒▽⌒ლ)