Sunday, September 18, 2016

Pamer foto mesra di facebook tanda tidak bahagia?

Ada yang ngeshare di facebook artikel tentang penelitian yang membuktikan pamer foto mesra di facebook adalah tanda ketidak bahagiaan dalam hubungan. Saya baca dan lumayan tertarik. Cukup setuju untuk kondisi tertentu. Harus saya akui terakhir kali saya pasang foto mesra sama suami emang pas kondisi lagi galau. Pas ditinggal suami buat asrama selama satu bulan. Saya ngungsi dulu ke Bandung, suami balik lagi ke Bogor buat persiapan asrama. Setelah dua hari ga ketemu saya baru pasang foto mesra walaupun mukanya ga keliatan, cuman tangan yang saling menggenggam. Itu saya ambil pas waktu di bus, suami lagi ga ngeh karena ngantuk, saya ambil deh tangannya. Hihi. Saya upload foto pas dia mulai masuk asramanya buat ngasih dia semangat juga di tengah kegalauan saya yang harus tidur sendirian. Saya tau dia suka kalau saya upload kemesraan asalkan wajah ga usah diperlihatkan. Dulu waktu harus LDRan dua bulan setelah lahiran saya sempat buat status "kangen" di facebook, tapi saya atur privasinya biar cuman suami yang bisa baca. Eh, dia malah ngesms dan nelpon nantangin saya buat ngubah privasinya biar orang lain juga bisa baca. Saya bingung juga, males kalau orang lain komen di status yang khusus saya buat untuk suami. Setelah cukup lama berpikir, saya akhirnya mengubah privasinya biar teman-teman facebook bisa baca. Setelah itu baru suami mau komen di statusnya. Dan ternyata kekhawatiran saya tidak terjadi. Ga ada teman-teman lain yang komen, paling cuman like. Sepertinya mereka sudah paham bahwa itu adalah privasi dan mereka tidak berhak berkomentar. Saya juga mencoba menyelami pikiran suami. Dia memang ga suka pasang status atau foto mesra. Tapi sepertinya dia ingin saya yang melakukannya. Mungkin dia juga merasa galau dan tidak yakin dengan perasaan saya. Dengan saya memposting kemesraan, mungkin dia merasa teryakinkan karena saya berani mengakui hubungan di depan orang-orang yang mengenal saya. Walaupun sebenarnya tiap hari bisa komunikasi melalui sms, telpon, bbm, atau wa yang lebih privasi, tapi hubungan sepertinya memang harus ada pengakuan secara de fakto dan de jure agar bisa merasa lebih tenang. Tapi memang, secara pribadi saya posting kemesraan di fb saat merasa galau karena harus berjauhan dengan suami dalam jangka waktu yang cukup lama. Walaupun sebenarnya kalau setiap hari bertemu ada kejengkelan atau pertengkaran, tapi itu lebih baik daripada kemesraan saat berjauhan. Tetap saja gadget tidak akan pernah bisa menggantikan kehangatan pertemuan langsung. Saya kan ga bisa meluk-meluk atau megang gadget. Tentang bahagia atau tidak bahagia tentu saja dalam kehidupan rumah tangga pasti pernah merasakan keduanya. Ada bahagianya, ada tidak bahagianya. Kehidupan yang terus berputar. Yang jelas pernikahan itu harus lebih banyak bahagianya daripada tidakbahagianya. Dan saat suami istri harus berjauhan tentu saja itu salah satu ketidakbahagiaan dalam hubungan. Saya tidak suka LDR. Saya suka hubungan yang real. Itu saja.