Saya termasuk orang yang yakin terhadap kecukupan rizki. Tidak terlalu memikirkan uang yang kurang. Karena saya tau rizki bukan hanya uang. Dan selama saya hidup Allah sudah memberikan rizki yang tidak terhitung, nikmat Allah mana lagi yang harus saya dustakan? Saya bisa menghirup oksigen dengan bebas dan gratis. Saya bisa merasakan nikmatnya makanan yang menutup rasa lapar, meneguk air yang menghilangkan dahaga, memakai pakaian yang melindungi tubuh. Saya tidak pernah merasa kurang karena Allah selalu melimpahkan rizkinya pada saya. Jadi saat saya harus menjadi ibu rumah tangga yang tidak bekerja, saya tetap yakin rizki saya selalu melimpah. Tapi permasalahan uang memang sensitif dalam rumah tangga. Saya bukan termasuk tipe istri yang memonopoli uang suami. Saya memberikan kepercayaan penuh pada suami untuk mengelola uangnya. Saya tidak berani menyebut "uang kami" walaupun saya tau rizki saya juga ada di situ. Saat suami memberikan uang bulanan, saya sadar betul penggunaannya adalah untuk kebutuhan primer seperti makan dan urusan rumah tangga sehari-hari. Tapi saya pribadi punya kebutuhan yang lebih primer daripada makanan. Kebutuhan super primer saya, kebutuhan psikologis, kebutuhan penyaluran hobi saya.. Saya tidak berani menggunakan uang belanja untuk memenuhi kebutuhan hobi saya. Rasanya tidak bertanggung jawab sekali uang untuk makan keluarga dipakai pemenuhan hobi pribadi. Saya akan merasa bersalah.. Tapi saat mendapatkan amanah baru di yayasan untuk mengajar anak-anak SMP saya merasa lebih nyaman. Saya punya pemasukan yang bisa saya gunakan dengan cukup untuk membeli buku, pensil warna, dll, juga memberikan pada orang tua walaupun tidak besar dan orang tua saya mungkin tidak terlalu butuh uang tapi saya merasa bahagia saat bisa memberi orang tua saya. Saya tidak bisa hidup tanpa buku, saya rela kalau seandainya hidup dalam penjara tapi ada buku menarik yang bisa saya baca tiap hari. Saya merasa bebas saat membaca buku. Saya bisa tahan seharian ga makan saat baca buku. Saya juga sadar saya bukan anak laki-laki yang punya kewajiban seumur hidup pada ibunya.. Dari dulu guru-guru saya mengingatkan, wanita akan punya suami, tapi bekerjalah agar bisa memberi pada orang tuamu. Kerasa sekarang, dulu sebelum nikah bisa ngasih tiap bulan ke ibu, setelah nikah rada susah da jauh dan saya ga punya rekening di bank yang cuman satu-satunya bank di daerah deket sini. Paling kalau liburan baru bisa ngasih, itu juga ga sebanyak yang saya kasih kayak dulu dan saya malah yang lebih banyak dikasih sama orang tua. Jadi saya ngasih, ibu juga ngasih ke saya. Kadang jadi malu juga, jadi pakasih-kasih. Tapi ada rasa bahagia tersendiri saat bisa memberi orang tua. Walaupun sedikit saya ingin bisa memberi mereka. Nah ada fakta yang saya buktikan dari pemasukan yang saya dapatkan. Ternyata benar saat istri bekerja keuangan rumah tangga tetap segitu aja. Buktinya dulu sebelum suami keterima di Bogor, kami berdua bekerja, pemasukan kami jika dijumlahkan "sekian". Kemudian setelah suami diterima dan saya ikut merantau tapi tidak bekerja, gaji suami "sekian". Setelah saya kembali bekerja gaji suami ada pemotongan, beberapa tunjangan ditiadakan tapi kalau dijumlahkankan dengan gaji saya jadi "sekian". Intinya "sekian" adalah jumlah yang kurang lebih sama. Tapi saya tidak melihat jumlah yang "sekian" ini. Saya melihat waktu sebagai rizki yang besar. Dulu di kampung halaman, saya bekerja full day dari setengah tujuh sampai setengah empat. Suami dari setengah tujuh sampai malam. Saat suami meminta do'a untuk lolos penerimaan saya bertanya padanya:
Saya:" Emang Akang bahagia kalau keterima?"
Suami: "Iya, seenggaknya saya ga harus pulang malem, siang udah bisa pulang ke rumah."
Saya dulu memikirkan anak dalam kandungan, ga kebayang kalau tiap hari bapaknya pergi pagi pulang malam, pas pulang anak udah tidur, ga ada waktu bercengkrama dengan keluarga. Kemungkinan saya juga bekerja sampai sore, anak dititipin ke neneknya, ASI mampet gara-gara dicampur sufor. Walaupun saya tidak terlalu berminat, tapi kalau suami keterima, kami bisa punya banyak waktu bersama anak. Jadi saya benar-benar mensyukuri rizki yang sangat berharga ini, WAKTU. Untuk apa punya banyak uang kalau tidak bisa menghabiskan waktu bersama anak? Sungguh keluarga adalah harta yang lebih berharga dari uang. Uang dicari untuk keluarga, bukan dengan mengorbankan keluarga. Sekarang saya bekerja hanya seminggu sekali, tiap hari jum'at. Tahun lalu kebagian IPA, sekarang Bahasa Sunda. Saya berani menerima tawaran ini karena diizinkan membawa anak ke sekolah dan waktunya juga ga full day. Itung-itung rekreasi dari pekerjaan rutin sebagai ibu rumah tangga. Ya intinya saya harus bersyukur bisa mengurus anak dan suami, bisa menyalurkan ilmu yang saya miliki, bisa menjaga kestabilan psikologis saya dengan hobi. Jadi jangan sampai saya mengeluh, karena waktu saya terbatas. Kenapa terbatas? Karena saya manusia, setiap manusia akan mencapai batas waktunya. Jangan sia-siakan waktu yang terbatas ini hanya untuk mencari uang, saya ingin lebih banyak menghabiskan waktu bersama harta yang paling berharga, anak yang shalih, ilmu yang bermanfaat, orang tua untuk diberi..