Friday, July 1, 2016
Meet up Blah Bloh Family
Kemarin acara bukber keluarga tapi jadi bukber sama temen kampus juga. Ketemu di ampera sama temen-temen yang dulu akrab di kampus. Alhamdulillah jadi bisa silaturahim sama mereka. Dulu sebelum nikah selalu bisa menyempatkan buat bukber dengan teman-teman kampus dan SMA. Setelah nikah rada susah untuk bertemu mereka. Bukan berniat untuk memutus tali silaturahim, tapi sadar diri juga status saya sudah bukan single lagi, tidak bisa seenaknya kesana kemari tanpa suami. Ditambah keberadaan Hawnan yang rawan untuk dibawa malam-malam ke luar khawatir keanginan. Tapi sekarang Hawnan udah boleh dibawa keluar malam. Niatnya bukber bareng mereka sehari sebelumnya, tapi tidak jadi karena cuaca hujan. Besoknya saya tidak bisa ikut karena bukber di luar dengan keluarga. Tapi kami bertemu di tempat yang sama. Akhirnya sekali merengkuh dayung dua pulau terlampaui. Bukber keluarga ditambah bukber dengan teman-teman kampus. Kami dulu di kampus kemana-mana bertujuh. Tapi dua orang tidak hadir, tik2 masih di Jasinga lagi hamil belum mudik-mudik, ein kejauhan di Bungbulang. Jadi cuman berlima yang bisa hadir. Saya kaget juga saat ada satu sahabat lama tiba-tiba muncul. Dia ikhwan tapi tumben berani ngumpul bareng kami, biasanya dulu dia berani kumpul dengan kami kalau ada satu teman yang segendernya ikut juga. Saya dari dulu juga sudah menganggapnya sebagai saudara kandung sendiri. Dulu bisa menceritakan hal apapun kepadanya dan dia selalu sabar menjadi pendengar cerita-cerita saya yang mungkin baginya tidak penting. Tapi kemarin terasa kikuk juga. Setelah menikah jadi lebih memahami bagaimana seharusnya berinteraksi dengan lawan jenis. Jadi lebih memahami bagaimana kondisi pikiran dan hati lawan jenis. Jadi lebih memahami psikologi sosialisasi dengan lawan jenis. Walaupun saya sudah menganggapnya saudara kandung saya sendiri, sekarang saya lebih memikirkan fakta konkrit bahwa dia seorang ikhwan dan saya harus memposisikannya seperti itu. Bicara seperlunya saja. Saya tidak bisa lagi berinteraksi seperti dulu kepada sahabat yang berbeda gender dengan saya. Walaupun tidak ada perasaan yang khusus, tetap saja gendernya berbeda dengan saya dan saya mau tidak mau harus membatasi interaksi dengannya. Bagaimanapun juga saya harus ingat bahwa dia bukanlah mahram saya. Dan saya juga harus ingat sekarang saya punya hati yang harus dijaga, semoga Allah tetap menetapkan hati saya karena saya tidak bisa menjamin hati manusia yang cenderung terbolak balik. Saya juga harus menjaga hati suami saya agar hatinya tetap tentram dan tidak ada kekhawatiran terhadap hati dan perasaan saya. Sekarang saya lebih memahami bahwa menundukan pandangan bukan hanya tugas muslim saja, muslimah juga perlu. Tapi saya akan tetap mendo'akan kebaikan untuknya, karena dia tetap saudara seiman seislam saya. Saya berhutang banyak kebaikan padanya. Semoga Allah memberkahinya.
Subscribe to:
Posts (Atom)