Wednesday, October 22, 2014

Darimana nama Bandung berasal?

        Kemunculan nama Bandung dapat ditelusuri dari tiga sisi yang berbeda. Pertama dari aspek tradisional, kedua dari aspek akademis, dan ketiga dari aspek filosofi. Berdasarkan dari tinjauan ketiga aspek tadi timbul beberapa persepsi mengenai istilah Bandung. Dalam tataran kebahasaan di kalangan orang Sunda, pengungkapan makna sebuah kata seringkali dilakukan dengan cara memberikan perkiraan-perkiraan makna. Kebiasaan ini dikenal dengan istilah kirata, singkatan dari dikira-kira tapi nyata.
        Istilah ini muncul dengan latar belakang keberadaan Danau Bandung. Kisah legenda Sangkuriang yaitu terbendungnya aliran danau oleh sebuah perahu 'ciptaan' Sangkuriang manakala cita-cita menemukan cinta sejati terhadap Dayang Sumbi yang tidak lain adalah ibu kandungnya sendiri mengalami kegagalan. Karena tidak tercapainya waktu yang ditentukan sebagai syaratnya, akhirnya perkawinan Sangkuriang dengan Dayang Sumbi mengalami kegagalan. Sangkuriang tidak menerima kenyataan itu dan akhirnya menumpahkan seluruh kekecewaannya dengan menendang 'perahu' ciptaannya hingga membendung aliran danau tempat yang akan mereka jadikan sebagai tempat berlayar manakala kelak terjadi jalinan kasih dua sejoli.
        Sementara dalam kajian ilmu atau pengumpulan cerita purbakala, diperoleh suatu keterangan yakni terbendungnya Sungai Citarum oleh lahar Gunung Tangkuban Parahu yang mengakibatkan terbentuknya telaga untuk sementara waktu. Telaga tersebut terdiri dari dua bagian yang disambungkan oleh selat yang menyempit pada intermediate volcanic ridge, yaitu antara tepi gunung berapi sebelah utara di daerah Cimahi hingga bagian di sebelah barat pada dataran Batujajar sampai Padalarang. Satu lagi berada di sebelah timur yaitu sekitar Kota Bandung sampai Cicalengka.
        Bandong atau disebut juga parahu bandong adalah sebuah alat transportasi air yang digunakan masyarakat, yaitu sejenis perahu atau rakit terbuat dari bambu yang terjadi pada ribuan atau ratusan tahun yang lampau. Dikisahkan pada saat itu ketika orang yang bermukim sekitar daratan sebelah utara (misalnya Lembang) hendak bepergian ke daerah daratan sebelah selatan (misalnya Cicalengka atau ke Garut) selalu menggunakan bandong. Daerah perairan yang dilewati bandong itulah kemudian disebut sebagai daerah bandong atau Bandung sekarang. Sekitar abad ke-17 seorang mardjiker bernama Juliaen de Silva sebagai orang asing pertama yang memasuki wilayah Bandung pada tahun 1641 sempat menulis, "Ada sebuah negeri dinamakan Bandong yang terdiri dari 25 hingga 30 rumah." Pada saat itu Kompeni Belanda menyebutnya "Negorij Bandong" atau "West Oejoeng Broeng".
        Istilah ini mengandung dua pengertian. Pertama memiliki arti alat yang disebut bandung,  dan pengertian kedua memiliki makna filosofi merupakan akronim dari banda indung (sesuatu yang dimiliki seorang wanita yang membedakan dengan laki-laki). Secara filosofis dari ajaran Sunda Kuno, dalam ungkapan 'maca uga na waruga' istilah bandung memiliki keterkaitan makna dengan istilah-istilah awak sakujur, yaitu merupakan bagian tubuh yang dimiliki seorang wanita yaitu kandungan atau rahim sang ibu. Istilah bandung berdasarkan makna filosofis adalah karakter dan kodrat seorang wanita. Oleh sebab itu bandung juga sering dimaknai sebagai banda indung, atau sesuatu yang istimewa yang dimiliki seorang ibu yaitu rahim sebagai ruang untuk melahirkan keturunan. Ya, Bandung mirip kandungan yang selalu melahirkan sesuatu.
        Dalam Khazanah filosofi masyarakat Sunda Kuno, banyak nama-nama tempat yang dihubungkan dengan bagian pemberi hidup dalam awak sakujur (anggota tubuh). Misalnya, nama galuh, yang berarti naluri atau 'kereteg'. Dan garut, ada yang memberi makna merupakan bagian tubuh yang disebut udel (pusar).
        Dalam kisah lain yang beredar di kalangan masyarakat Kampung Sapan kecamatan Bojongsoang, disebutkan bahwa istilah bandung berkaitan dengan sebuah alat berupa jaring yang disimpan di tengah-tengah sungai untuk membendung laju ikan yang akan diambilnya di dalam sungai. Tempat itu berada di sekitar pertemuan antara Sungai Citarik dan Citarum. Sehingga tempat itu sempat disebut Kampung Bandung.

Sungkawa, Dadan. (2013). Tonggak-Tonggak Kerajaan Arcamanik. Soreang: Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bandung Bidang Sejarah dan Kepurbakalaan

No comments:

Post a Comment